Pengikut

Jumat, 17 Maret 2017

makalah makna mahabbah

BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Dalam tasawuf telah dijelaskan macam-macam atau tingkatan maqam, dimana setiap maqam memiliki tingkatan kedekatan kepada Allah SWT sendiri-sendiri. Salah satu maqam yang sering terdengar adalah “mahabbah”, maqam ini sangat terkenal di dunia sufi namun tentunya bagi orang awam mahabbah terdengar asing. Bagi mereka yang hanya mengartikan secara sekilas akan salah paham dengan pengertian mahabbah.
Karena mahabbah adalah sebuah tingkatan dalam maqom, maka tentunya diperlukan usaha untuk mencapai tingkatan itu. Usaha ini juga harus ditunjang dengan alat yang akan mempermudah dalam meraih tingkatan mahabbah. Hanya orang-orang tertentu yang pastinya bisa mencapai tingkatan mahabbah, bahkan dalam sejarah hanya sedikit tokoh yang mampu mencapai maqam ini. Selain melalui sejarah tokoh kita juga dapat mempelajari dan mengetahui perihal mahabbah dari Al-Quran. Di dalam Al-Quran secara gamblang disebutkan tentang nyatanya keberadaan maqam mahabbah, dan kita tentu tak dapat mengingkari keberadaanya bila Allah saja telah menjelaskan.
1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada, penulis merumuskan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana pengertian mahabbah?
2.      Apa saja alat untuk mencapai mahabbah?
3.      Siapakah tokoh mahabah dan ajarannya?
4.      Bagaimana contoh mahabbah di dalam Al-Quran?


BAB II
PEMBAHASAN
2.1     Pengertian Mahabbah
Mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabbatan, yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam. Hal ini mengandung maksud cinta kepada Tuhan, Dalam mu’jam al-falsafi, Jamil Shaliba mengatakan mahabbah adalah lawan dari al-baghd, yakni cinta lawan dari benci. Atau Al mahabbah dapat pula berarti Al Waduud yakni yang sangat kasih atau penyayang. Bermacam-macam arti namun dasarnya sama yaitu mencintai[1].
Kata Mahabbah tersebut selanjutnya digunakan untuk menunjukkan pada suatu paham atau aliran dalam tasawuf. Dalam hubungan ini mahabbah obyeknya lebih ditujukan pada Tuhan. Dari sekian banyak arti mahabbah yang dikemukakan di atas, tampaknya ada juga yang cocok dengan arti mahabbah yang dikehendaki dalam tasawuf, yaitu mahabbah yang artinya kecintaan yang mendalam secara ruhian pada Tuhan.
Menurut istilah (terminologi), para ahli berbeda pendapat, namun intinya sama. Pendapat tersebut dihimpun sebagai berikut:
1.    Al-Ghazali; mahabbah ialah cinta kepada Allah itu adalah maqom yang terakhir dan derajat yang paling tinggi dari segala maqom yang sesudahnya yaitu buahnya dari segala maqom yang sebelumnya. Ini merupakan pendahuluan untuk mencapai cinta kepada Allah.
2.    Syekh Jalaluddin; mahabbah ialah termasuk maqom yang sangat penting dalam tasawuf. Cinta tersebut merupakan suatu dorongan kesadaran melalui saluran syariat, bukan sejenis cinta yang melahirkan ucapan-ucapan syahwat yang sering berlawanan dengan pokok-pokok ajaran syariat. Rasa cinta inilah yang mengalahkan hawa nafsu sehingga merasa lezat mentaati semuaajaran syariat. Kasih kepada semua yang dikasihi Allah dan benci kepada semua yang dibenci Allah.
3.    Al-Palimbani; mahabbah ialah ma’rifah hakiki yang lahir dari cinta, tetapi cinta yang hakiki kepada Allah itu hanya lahir dari ma’rifah. Mahabbah dan ma’rifah itu adalah dua hal yang masing-masing merupakan sebab tetap juga akibat dari yang lain. Kasih pada Allah tatkala itu, membawa kepada ma’rifah. Ma’rifah Allah tatkal itu melazimkan sebanar-benar kasih Allah Ta’ala.
4.    Imam Qusyairi; mahabbah ialah kondisi yang mulia telah disaksikan Allah swt. Melalui cintanya itu, bagi hamba telah memperma’lumkan cintanya kepada Allah. Karenanya Allah swt. disifati sebagai yang mencintai hamba dan sihamba disifati sebagai yang mencintai Allah SWT.
Pengertian mahabbah dari segi tasawuf ini lebih lanjut dikemukakan al-Qusyairi sebagai berikut:
اَلْمَحَبَّةُ حَالَةٌ شَرِيْفَةٌ شَهِدَاْلحَقَّ سُبْحَانَهُ بِهَالِلْعَبْدِ وَاَخْبَرَعَنْ مَحَبَّتِهِ لِلْعَبْدِ فَالْحَقُّ سُبْحَانَهُ يُوْصَفُ بِاَنَّهُ يُحِبُّ الْعَبْدَ وَالْعَبْدُ يُوْصَفُ بِاَنَّهُ يُحِبُّ الْحَقَّ سُبْحَا نَهُ
Al-Mahabbah adalah merupakan hal (keadaan) jiwa yang mulia yang bentuknya adalah disaksikannya (kemutlakan) Allah SWT, oleh hamba, selanjutnya yang dicintainya itu juga menyatakan cinta kepada yang dikasihi-Nya dan yang seorang hamba mencintai Allah SWT.

5.    Harun Nasution; mahabbah ialah cinta, yang dimaksudkan adalah cinta kepada Allah swt. Lebih lanjut Harun Nasution mengatakan, pengertian yang diberikan kepada mahabbah antara lain yang berikut:
a.        Memeluk kepatuhan pada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya
b.        Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi.
c.         Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari yang dikasihi, yaitu Tuhan.[2]
Dari beberapa pendapat ahli diatas, kami dapat menyimpulkan bahwa “mahabbah” adalah salah suatu tingkatan dalam mahqamat yang menunjukkan rasa cinta yang mendalam kepada Allah SWT.
Tuhan bukanlah suatu zat yang harus ditakuti, tapi sebaliknya sebagai zat yang harus dicintai dan didekati. Untuk dapat lebih dekat dengan Tuhan, seseorang harus melakukan peribadatan dan meninggalkan kesenganan duniawi[3]. Aliran tasawuf mahabbah sejajar dengan aliran tasawuf lain seperti ma’rifat, al-fana dan al-baqa, al-ittihad dan lain-lain. Paham-paham tersebut sering disebut stasiun(mahqamat) yang berada di atas tingkatan tobat, zuhud, sabar, tawakal, dan rida.

2.2     Alat untuk mencapai Mahabbah.
Alat untuk mencapai mahabbah menurut Harun Nasution ada 3 :
1.      Al- qalb yaitu hati untuk mengetahui sifat-sifat Allah SWT.
2.      Roh yaitu alat untuk mencintai Allah SWT.
3.      Sir yaitu alat untuk melihat Allah SWT.
Sir adalah bagian yang lebih halus dari roh, dan roh adalah bagian yang lebih halus dari hati. Kemudian, sir berada di dalam roh dan roh berada di dalam hati. Sir dapat melihat Allah ketika hati dan roh telah benar-benar bersih, telah benar-benar suci serta telah kosong sekosong-kosongnya. Roh dapat digunakan sebagai alat mencintai Allah bila sudah dibersihkan dari dosa dan maksiat serta dikosongkan dar kecintaan kepada segala sesuatu, melainkan hanya cinta kepada Allah SWT.
Salah satu sebab kenapa kita harus mengutamakan rasa cinta kepada Allah karena manusia yang paling beruntung keadaanya diakhirat adalah manusia yang mempunyai rasa cinta yang paling besar kepada Allah. Karena sebenarnya arti dari akhirat adalah menghadap kepada Allah dan menemukan kebahagiaan menemui-Nya. Apakah yang lebih menyenangkan dari bertemu kekasih yang paling dicintai setelah lama tidak bertemu?.  Hanya saja kenikmatan pertemuan dengan Allah akan sesuai kadar kecintaanya pada Allah, semakin ia mencintai Allah maka ia akan sangat menikmati pertemuannya dengan Allah dan sebaliknnya.

2.3     Tokoh sufi mahabbah dan ajarannya.
Rabi’ah al-Adawiyah
Nama lengkapnya yaitu Ummu Al-Khair Rabi’ah Binti Ismail Al-Adawiyah Al-Qisiyah. Dia lahir di Basrah pada tahun 96 H/713 M. Ia hidup antara tahun 713-801 H[4]. Dari kecil dia tinggal di kota kelahirannya. Di kota kelahirannya Ummu Rabi’ah Al-Adawiyah sangat harum namanya sebagai seorang manusia suci dan sangat dihormati oleh orang-orang di kotanya. Kelahirannya dipenuhi dengan keanehan, dirumahnya tidak ditemui sedikitpun minyak untuk penerangan dan sepotong kainpun untuk membungkus bayi Rabiah. Maka sang ibu meminta ayah Rabiah untuk meminjam tetangga, sang ayah sangat gelisah karena sebelumnya ia telah berjanji tidak akan memohon bantuan pada sesama. Tetapi ternyata tetangganya tidak memberi jawaban ketika pintunya diketuk, maka sang ayah Rabiah bersyukur pada Allah kemudian pulang. Rabiah kehilangan kedua orang tuannya ketika masih kecil, ketiga kakaknya pun juga meninggal dunia ketika ada wabah kelaparan. Kemudian ia jatuh ke tangan yang kejam yang menjadikannya budak belian yang menjualnnya dengan harga tak seberapa. Majikannya yang baru pun juga tak kalah bengisnya.
Rabiah kecil menghabiskan waktunya dengan melaksanakan semua perintah majikannya. Namun ia tak pernah lupa untuk beribadah dan berdo’a. Pada suatu malam ketika Rabiah berdo’a pada Allah “Ya Rabbi, Engkau telah membuatku menjadi seorang budak belian seorang manusia sehingga aku terpaksa mengabdi kepadannya. Seandainya aku bebas, pastilah akan kupersembahkan seluruh waktu dalam hidupku ini untuk berdo’a kepada-Mu. Tiba-tiba nampak cahaya di dekat kepalannya, ternyata majikannya melihat itu dan langsung ketakutan sehingga keesokan harinnya Rabiah dibebaskan.
Ia terkenal sebagai Ulama Shufi wanita yang mempunyai banyak murid dari kalangan wanita pula. Rabi’ah menganut ajaran zuhud dengan menonjolkan falsafah hubb (cinta) dan syauq (rindu) kepada Allah. Salah satu pernyataannya yang melukiskan falsafah hubb dan syauq yang mewarnai kehidupannya adalah :[5]
مَا عَبَدْ تُهُ خَوْفًا مِنْ نَارِهِ وَلَا طَمْعًا فِيْ جَنَّتِهِ فَاَ كُوْنَ كَا لْأَ جِيْرِ السُّوْءِ  عَبَدْ تُهُ حُبًّا لَهُ وَ شَوْقًا اِلَيْهِ
Artinya: Saya tidak menyembah Allah karena takut kepada neraka-Nya, dan tidak pula tamak (untuk mendapatkan) syurga; (karena hal itu) akan menjadikan saya seperti pencuri imbalan yang berakhlak buruk. (Ketahuilah), bahwa saya menyembah-Nya karena cinta dan rindu kepada-Nya.
Kaum sufi menganggap mahabbah sebagai modal utama sekaligus mauhibah dari Allah SWT untuk menuju kejenjang ahwal yang lebih tinggi. Cinta yang suci murni adalah lebih tinggi dan lebih sempurna daripada al khauf war raja’ (takut dan pengharapan), karena cinta yang suci murni tidak mengharapkan apa-apa dari Allah kecuali ridla-Nya. Menurut Rabi’atul Adawiyah, al hub itu merupakan cetusan dari perasaan rindu dan pasrah kepada-Nya. Perasaan cinta yang menyelinap dalam lubuk hati Rabi’atul Adawiyah, menyebabkan dia mengorbankan seluruh hidupnya untuk mencintai Allah SWT.[6]
Diantara ucapannya yang terkenal tentang zuhd ialah sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hujwiri dalam kitabnya Kasyf al-Mahjub : “Suatu ketika aku membaca cerita bahwa seorang hartawan berkata pada Rabi’ah : ‘Mintalah kepadaku segala kebutuhanmu!’ Rabi’ah menjawab : ‘Aku ini begitu malu meminta hal-hal duniawi kepada Pemiliknya. Maka bagaimana bisa orang aku meminta hal itu kepada orang yang bukan Pemiliknya?”
Riwayat lain menyebutkan bahwa ia selalu menolak lamaran-lamaran pria salih, dengan mengatakan: “Akad nikah adalah bagi pemilik kemaujudan luar biasa. Sedangkan pada diriku hal itu tidak ada, karena aku telah berhenti maujud dan rela lepas dari diri. Aku maujud dalam Tuhan dan diriku sepenuhnya milik-Nya. Aku hidup dalam naungan firman-Nya. Akah nikah mesti diminta dari-Nya, bukan dariku”.[7]
2.4     Mahabbah dalam Al-Quran
Mengenai cinta dalam Al-Quran, Al-Quran mengarahkan kita untuk mencintai segala sesuatu yang tidak disukai hawa nafsu dan menghindari dari sesuatu yang memperbudaknya. Sesungguhnya cinta kepada Allah itu bukan hanya pengakuan mulut bukan pula hanya dalam angan-angan saja, tetapi harus disertai sikap mengikuti Rasulullah saw., melaksanakan petunjukNya dan melaksanakan manhajNya dalam kehidupan sehari-hari.[8]
Mencintai tanpa disandarkan pada sang Khaliq dapat dikatakan cinta yang bodoh. Didalam kehidupan ini tak pernah ketinggalan dengan kata “Mahabbah” karena didalamnya terkandung kasih sayang dan kedamaian yang menjadi tujuan utamanya. Mahabbah dapat mempersatukan kehidupan manusia baik dalam lingkup individu maupun dalam lingkup bermasyarakat.
Sebagaimana menurut penafsiran Imam Ibnu Katsîr, seseorang yang mengaku cinta tetapi tidak mengikuti apa yang telah di perintahkan oleh yang dicintainya maka cintanya itu adalah dusta. Sebaliknya jika seseorang mencintaisesuatu yang ia cintai maka semua apa yang diperintahkan dan dilarangnya akan ia patuhi. Karena, jika ia tidak mematuhinya maka sesuatu yang ia sukai akan menjauh. Akan tetapi hal seperti itu tidak hanya di ucapkan di bibir saja, ia membutuhkan implementasi pengorbanan, dan pengorbanan orang yang mencintai Allah nilainya tidak dapat disamakan dengan pengorbanan yang dilakukanseorang manusia kepada kekasihnya.[9]

Allah telah berfirman dalam surat al-Imrăn ayat 31-32:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَفَاتَّبِعُونِي يُحْبِيْكُمْ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُو بَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌرَحِيمٌ. قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ
Katakanlah :”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”

Dalam Al-Qur’an cinta atau mahabbah memiliki 8 pengertian, berikut penjelasannya:
1.      Mahabbah Mawaddah adalah jenis cinta menggebu-gebu, membara dan nggemesi. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya dan hampir tak bisa berfikir lain.
2.      Mahabbah Rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih saying, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memerhatikan orang yang dicintainya disbanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Maka dari itu dalam al-quran kerabat disebut al arham, dzawi al arham yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, berasal dari gharba yang berarti kasih sayang ibu. Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim.
3.      Mahabbah Mail adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al-quran disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada muda, cenderung mengabaikan kepada yang lama.
4.      Mahabbah Syaghaf adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta syaghaf bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al-Quran menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha kepada Yusuf.
5.      Mahabbah Ra’fah yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkan untuk shalat, membelanya meskipun salah. Al-quran menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra’fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukum bagi pezina.
6.      Mahabbah Shobwah yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku menyimpang tanpa sanggup mengelak.. Al-quran menyebut term ini ketika mengkisahkan bagaimana Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaikha yang setiap hari menggodanya, sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh.
7.      Mahabbah Syauq (rindu). Term ini bukan dari al-quran tetapi dari hadis yang menaffsirkan al-quran. dalam surat al ‘Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub) dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa iltihab naruha fi qalb al muhibbi.
8.      Mahabbah Khulfah adalah perasaan cinta yang disertai keasadaran mendidik kepada hal-hal yang positif meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. jenis cinta ini disebut al-quran ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebabi seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.[10]

Tentang “ mahabbah” misalnya yang ada di dalam Al-Quran antara lain:
a.         Surat Ali Imran ayat 31.
Artinya: “Katakanlah “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
b.      Surat Al-Maidah ayat 54.
Artinya: “Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.




BAB III
KESIMPULAN
1.    “mahabbah” adalah salah suatu tingkatan dalam mahqamat yang menunjukkan rasa cinta yang mendalam kepada Allah SWT.
2.    Alat untuk mencapai mahabbah menurut Harun Nasution ada 3 : Al- qalb yaitu hati untuk mengetahui sifat-sifat Allah SWT, Roh yaitu alat untuk mencintai Allah SWT, Sir yaitu alat untuk melihat Allah SWT.
3.    Salah satu tokoh sufi mahabbah adalah Rabi’ah al-Adawiyah dengan ajarannya: “Saya tidak menyembah Allah karena takut kepada neraka-Nya, dan tidak pula tamak (untuk mendapatkan) syurga; (karena hal itu) akan menjadikan saya seperti pencuri imbalan yang berakhlak buruk. (Ketahuilah), bahwa saya menyembah-Nya karena cinta dan rindu kepada-Nya”.
4.    Tentang “ mahabbah” misalnya yang ada di dalam Al-Quran antara lain Surat Ali Imran ayat 31, Surat Al-Maidah ayat 54.




[1] Anwar, Rasihan. Akhlak Tasawuf. 2010. Pustaka Setia: Bandung. Hal.55
[2] Mustofa. AKHLAK TASAWUF. 2014. Pustaka Setia: Bandung. Hal. 240
[3] Dr.’Abd al-Fattah ‘Abdullah Barakat (1989),Fi al-Tasawuf wa al-Akhlaq Dirasat wa Nusus, Kaherah, ‘Alam al-Fikr, hlm. 144
[4] Jamil, Ahmad,dkk. 2008. Aqidah Akhlak. CV PUTRA KEMBAR JAYA: Gresik. Hal. 8.
[5]Yesti Jasmine.Yestijasmine.blogspot.co.id/2014/01/mahabbah-menurut-konsep-tasawuf.html?m=1, diakses tanggal 28 Oktober 2016, jam  18.05.
[6]Sufi Road. Sufiroad.blogspot.co.id/2009/03/mahabbah.html?m=1, diakses tanggal 28 Oktober 2016, jam 18.31.
[7]Ibid, Yesti Jasmine.
[8]http://digilib.uinsby.ac.id/5713/5/Bab%202.pdf diakses pada tanggah 27 Oktober 2016 pukul 2.46
[9]Ibid.,
[10]http://ulfatunnazilah94.blogspot.co.id/2015/04/mahabbah.html diakses tanggal 27 Oktober 2016 pukul 17.43

makalah macam-macam maqamat

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tinjauan analitis terhadap tasawuf menunjukkan bagaimana para sufi dengan berbagai aliran yang dianutnya memiliki suatu konsepsi tentang jalan menuju Allah. Jalan ini dimulai dengan latihan-latihan(riyadhah), lalu secara bertahap menempuh berbagai fase, yang dikenal dengan maqam (tingkatan) kepada Allah dan hal (keadaan), yang berakhir dengan mengenal (ma’rifat) kepada Allah. Tingkat ma’rifat pada umumnya banyak dikejar oleh para sufi diwujudkan melalui amalan-amalan dan metode-metode tertentu yang disebut  tariqhat, atau jalan dalam rangka menemukan pengenalan Allah. Lingkup perjalanan menuju Allah untuk memperoleh ma’rifat yang berlaku di kalangan sufi sering disebut sebagai sebuah kerangka irfani.
Lingkup Irfani tidak dapat dicapai dengan mudah atau secara spontanitas, tetapi melalui proses yang panjang. Proses yang dimaksud adalah maqam-maqam (tingkatan atau stasiun) dan ahwal (jama’ dari hal). Dua persoalan ini harus dilewati oleh orang yang berjalan menuju Tuhan.

B. Rumusan Masalah
1) Apakah pengertian maqamat?
2) Bagaimanakah tingkatan maqamat?
3) Apa pengertian dari akhwal?
4) Apa saja macam-macam dari akhwal?

C. Tujuan Penulisan
1) Untuk mengetahui pengertian maqamat.
2) Untuk mengetahui tingkatan maqamat.
3) Untuk mengetahui pengertian akhwal.
4) Untuk mengetahui macam-macam dari akhwal.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Maqamat
Maqamat adalah bentuk jamak dari maqam. Maqam secara literal berarti tempat berdiri, stasiun, tempat, lokasi, posisi, tingkatan. Secara terminologis pengertian mahqomat adalah kedudukan spiritual. Dalam    al-Quran kata maqam disebutkan beberapa kali diantaranya dalam surah al-Baqarah ayat 125, al-Isra’ ayat 79, Maryam ayat 73, al-Shafat ayat 164, al-Dhukan ayat 51 dan al-Rahman ayat 46.
Adapula beberapa pendapat para sufi dalam mengartikan mahqomat, meskipun pendapat mereka berbeda namun pada dasarnya pemahaman mereka relatif sama. Contohnya pandangan al-Qusyairi bahwa maqam adalah tahapan adab (etika) seorang hamba dalam rangka sampai kepada-Nya dengan berbagai upaya, diwujudkan dengan suatu tujuan pencarian dan ukuran tugas. Menurut al-Hujwiri maqam menunjuk pada keberadaan seseorang di jalan Allah, lalu ia memenuhi kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan maqam itu serta menjaganya hingga ia mencapai kesempurnaanya, sejauh berada dalam kekuatan manusia. Sedangkan menurut Abu Nashr al-Sarraj maqam adalah kedudukan atau tingkatan seorang hamba dihadapan Allah yang diperoleh melalui serangkaian pengabdian (ibadah), kesungguhan melawan hawa nafsu dan penyakit-penyakit hati, latihan-latihan spiritual, dan mengarahkan segenap jiwa raga semata-mata kepada Allah serta memutuskan selain-Nya.







B. Tingkatan Mahqamat
Menurut al-Sarraj ada tujuh mahqamat :
1) taubat
2) wara’
3) zuhud
4) faqr
5) sabar
6) tawakkal
7) ridha.
 Menurut Abu Bakar al-Kalabadzi tingkatan mahqamat:
1) taubat
2) zuhud
3) sabar
4) faqr
5) tawadhu’
6) taqwa
7) tawakal
8) ridha
9) mahabbah
10) ma’rifah
Menurut Abdul Karim Al-Jilli tingkatan mahqamat:
1) islam
2) iman
3) kesalehan
4) ihsan
5) syahadah
6) shidiqiyah
7) kedekatan di sisi allah
Adanya perbedaan para sufi dalam pengkategorian susunan tahapan maqamat karena para sufi itu memiliki pengalaman rohani yang berbeda ketika menempuh maqamat tersebut .
Penjelasan semua tingkatan itu sebagaimana berikut:
1) Taubat
Taubat dalam bahasa arab yang berarti “kembali” atau “kembali”, sedangkan taubat bagi kalangan sufi memohon ampunan atas segala dosa yang disertai dengan penyesalan dan berjanji dengan sunguh-sunguh untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut dan dibarengi dengan melakukan kebajikan yang dianjurkan oleh Allah.
Berkaitan dengan maqam taubat, dalam al qur’an terdapat banyak ayat yang menjelaskan masalah ini. Yaitu firman Allah (Q.S. Ali Imran, 3:135) dan (Q.S An nur, 24:31)
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
... Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (Q.S An nur, 24:31)

Dalam ajaran tasawuf, konsep taubat dikembangkan dan mendapat berbagai pengertian. Tobat dibedakan menjadi tobat dalam syariat biasa ialah tobat orang awam dan maqom taubat ialah orang khawas. Dalam hal ini ulama sufi Dzu Al-Nun Al-mishir mengatakan : “tobatnya orang-orang awam (sekadar) tobat dari dosa-dosa, sedangkan tobat orang khawas ialah tobat dari ghofla (lalai mengingat tuhan)”.  Taubat menurut para salikin merupakan tindakan permulaan dalam peraturan ajaran tasawuf. Pada tahap tobat ini, seorang sufi membersihkan dirinya (tazkiyah AnNafs) dari perilaku yang menimbulkan dosa dan rasa bersalah. Tobat juga merupakan sebuah terma yang dikembangkan oleh para salikin (orang- orang menuju tuhan) untuk mencapai maqomat.
2) Wara’
Secara harfiah al wara’ artinya soleh, kata wara’ mengandung arti menjauhi hal-hal yang tidak baik. Dalam pengertian sufi wal wara’ adalah meninggalkan yang didalamnya terdapat keragu-raguan antara halal dan haram (Syubhat). Ini sejalan dengan (H.R. Bukhori),
“barang siapa yang dirinya terbebas dari syubhat, maka sesungguhnya ia telah bebas dari yang haram”.
Ulama sufi membagi wara’ kedalam beberapa tingkatan. Yahya bin ma’adz berkata, wara itu itu dua tingkatan wara segi lahir yaitu hendaklah kamu tidak bergerak, kecuali untuk ibadah pada Allah, dan wara batin, yakni agar tidak masuk dalam hatimu, kecuali Allah.

3) Zuhud
Secara terminologi, zuhd ialah mengarahkan keinginan kepada Allah SWT, menyatakan kemauan kepadaNya sehingga lebih sibuk denganNya dari pada kesibukan lainnya agar Allah memerhatikan dan memimpin seorang zahid (orang yang berperilaku zuhd). Al junaidi al bagdadi mengatakan “ zuhd adalah ketika tangan tidak memiliki apa-apa dan hati kosong dari cita-cita.
Disini seorang sufi tidak memiliki suatu yang berharga, tetapi tuhan yang dekat dengan dirinya. Yahya ibn Muadh menyatakan bahwa zuhd adalah meninggalkan apa yang sudah ditinggalkan.

4) Faqr
Secara harfiah, faqr (fakir) diartikan sebagai orang yang berhajat, membutuhkan, atau orang miskin. Adapun dalam pandangan sufi. Fakir adalah tidak meminta lebih dari apa yang di miliki kita. Tidak meminta rezeki, kecuali hanya untuk menjalankan kewajiban-kewajiban. Tidak meminta sungguh pun tak ada pada diri kita, tetapi kalau diberi diterima. Tidak meminta, tetapi tidak menolak.



5) Sabar
Sabr (sabar) bukanlah sesuatu yang harus diterima seadanya, bahkan sabar adalah usaha kesungguhan yang juga merupakan sifat Allah yang sangat mulia dan tinggi. Sabr ialah menahan diri dalam memikul suatu penderitaan, baik dalam sesuatu perkara yang tidak diinginkan  maupun dalam kehilingan sesuatu yang di senangi.
Sebagaimana dalam firman Allah  dan (Q.S. al-Ahqof, 46:35)Yang berbunyi:
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ...  
Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. (Q.S. al-Ahqof, 46:3 )

6) Tawakal
Secara umum pengrtian tawakal adalah pasrah dan mempercayakan secara bulat kepada Allah setelah seseorang membuat rencana dan melakukan usaha untuk ikhtiar. Akan tetapi dikalangan sufi pengertian tawakal  dipahami lebih mendalam lagi. Misalnya al-syibli (w. 945 M) mengatakan tawakal adalah hendaknya engkau merasa tidak ada harapan Allah dan Allah senatiasa dihadapan kamu. Hal ini berarti dalam segala hal baik sikap maupun perbuatan seseorang harus menerima secara tulus. Apapun yang terjadi adalah diluar pinta dan usaha tetapi semuany diyakini dari Allah semata.






7) Ridho
Ridho ajaran untuk menanggapi dan mengubah segala bentuk keadaan jiwa, baik kebahagiaan, kesenangan, penderitaan, kesengsaraan, dan kesusahan menjadi kegembiraan dan kenikmatan karena kebahagiaan menikmati segala pemberian Allah SWT. Al-ghozali mengatakan” rela menerima apa saja, segala yang telah dan sedang dialaminya itulah yang terbaik baginya, tak ada yang lebih baik selain apa yang telah dan sedang dialaminya.” Ibnu khaff mengatakan tentang ridho “ kerelaan hati menerima ketentuan tuhan, dan persetuan hatinya terhadap yang diridhoi Allah untuknya.

8) Mahabbah
Secara harfiah, mahabah atau al-hubb sering diartikan dengan cinta dan kasih sayang. Mahabah adalah usaha mewujudkan rasa cinta kasih sayang yang ditujukan kepada Allah. Mahabah juga dapat diartikan sebagai luapan hatidan gejolaknya ketika dirundungkeinginan untuk bertemudengan kekasih, yaitu Allah SWT.  Tasawuf menjadikan mahabah sebagai tempat persinggahan orang yang berlomba untuk memperoleh cinta illahi menjadi sasaran orang-orang yang beramal dan menjadi uirahan orang-orang yang mencintai tuhannya.

9) Ma’rifah
Ma’rifah (arafa-ya ‘rifatan) secara etimologis berarti mengenal, mengetahui, dan boleh pula diartikan dengan menyaksikan. Istilah ma’rifat dalam tasawuf sering di konotasi pada panggilan hati melalui berbagai bentuk tafakur untuk menghayati nilai-nilai kerinduan yang berhasil dari kegiatan dzikir sesuai dengan tanda-tanda pengungkapan (hakikat) secara terus menerus. Maksudnya hati menyaksikan kekuasaan tuhan dan merasakan besarnya kebenaranNya dan mulianya kehebatannya yang tibdak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Dari aspek lain ma’rifat juga berarti mengetahui apa saja yang dibayangkan dalam hati tanpa menyaksikan sendiri keadaannya berdasarkan pengetahuan Tuhan.
C. Pengertian Akhwal
Akhwal adalah bentuk jamak dari hal, dalam pandangan tasawuf hal diartikan sebagai keadaan, maksudnya keadaan atau kondisi spiritual. Perkataan Hal bermaksud “masa di mana kita berada”. Hal atau Ahwal didefinisikan sebagai “Apa yang menempati hati atau yang ditempatkan pada hati dari kejernihan zikir-zikir”.
Hal disini ialah “suatu makna yang lahir pada hati tanpa disengajakan oleh para sufi dan para sufi tidak mampu menarik atau mengusahakan [perkara ini] seperti tenang, sedih, dan lapang”.  Hal dianggap sebagai kondisi dalam hati yang timbul dari peningkatan maqamat seseorang. Secara teoritis seorang hamba yang mendekatkan diri pada Allah dengan cara berbuat kebajikan, ibadah, riyadhah, mujahadah maka Allah akan memanifestasikan diri-Nya dalam hati hamba tersebut. Menurut al-Qusyairi hal adalah karunia dan maqan adalah suatu upaya. Menurut al- Hujwiri hal adalah sesuatu yang turun dari Tuhan ke dalam hati manusia(anugerah). Berdasarkan pendapat
D. Macam-Macam Akhwal
Muraqabah
Qurb
Mahabbah
Kauf
Raja’
Syauq
Uns
Thuma’ninah
Musyahadah
yaqin

Dalam penentuan hal juga terdapat perbedaan pendapat dikalangan kaum
sufi. Adapun akhwal yang paling banyak disepakati adalah; al-muroqobah, al- khauf, ar-raja’, ath-thuma’minah, al musyahadah dan al yaqin.

1) Al-Muraqabah
Muraqabah artinya merasa selalu diawasi oleh Allah Swt sehingga dengan kesadaran ini mendorong manusia senantiasa rajin melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Sesungguhnya manusia hakikinya selalu berhasrat dan ingin kepada kebaikan dan menjunjung nilai kejujuran dan keadilan, meskipun tidak ada orang yang melihatnya. Kehati-hatian (mawas diri) adalah kesadaran. Kesadaran ini makin terpelihara dalam diri seseorang hamba jika meyakini bahwa Allah Swt senantiasa melihat dirinya. Syeikh Ahmad bin Muhammad Ibnu Al Husain Al Jurairy mengatakan, “Jalan kesuksesan itu dibangun di atas dua bagian. Pertama, hendaknya engkau memaksa jiwamu muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah Swt. Kedua, hendaknya ilmu yang engkau miliki tampak di dalam perilaku lahiriahmu sehari-hari”.
Menurut al-Sarraj, ahli muraqabah itu dalam muraqabahnya terbagi atas tiga tingakatan.
a.       Tingkatan Pertama
Adalah tingkatan ibtida’. Kelompok ini seperti yang disebut Hasan ibn ‘Ali al-Damaghani bahwa bagi sang hamba hendaknya senantiasa menjaga rahasia-rahasia hati karana Allah selalu mengawasi setiap apa-apa yang tersirat dalam batin.
b.      Tingkatan Kedua
Dalam muraqabah di tunjukkan oleh ibn ‘Atha yang mengatakan, “Sebaik-baik kalian adalah yang senntiasa mengawasi Yang Haq dengan Yang Haq di dalam fana’ kepada selain yang haq dan senantiasa mengikuti nabi Muhammad SAW. Dalam perbuatan, akhlak dan adabnya.
Artinya, sang hamba memilki kesadaran penuh bahwa sebaik pengawasan adalah pengawasan Allah, tidak nsedikitpun terbesit adannya pengawasan yang lain , dan bagi hamba hendaknya ia lebur bersama-Nya.
c.       Tingkatan Ketiga
Dari ahli muraqabah adalah hal-al kubara’ (orang-orang agung), yakni mereka yang senantiasa mengawasi Allah dan meminta kepada-Nya untuk menjaga mereka dalam muraqabah dan Allah sendiri sudah menjamin secara khusus hamba-hamba-Nya yang mulia itu untuk tidak mempercayakan mereka dan segala kondisi mereka kepada selain diri-Nya, dan hanya Allah saja yang melindungi mereka, seperti firman-Nya,
“Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh”.  (QS. Al-A’raf:196).

2) Al-Khauf
Khauf adalah suatu sikap mental yang merasa takut kepada Allah karena kurang sempurna pengabdianya. Takut dan kawatir kalau Allah tidak senang kepadanya. Menurut Ghozali Khauf adalah rasa sakit dalam hati karena khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak disenagi dimasa sekarang. Menurut al-Qusyairi takut kepada Allah berarti takut kepada hokum-Nya. “Maka takutlah Kepada-Ku jika kalian orang-orang yang beriman.”
Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. Ali-Imran : 175).





Khawf atau takut, adalah masalah yang berkaitan dengan kejadian yang akan datang, sebab seseorang hanya merasa takut jika apa yang dibenci tiba dan yang dicintai sirna. Dan kenyataan itu hanya terjadi di masa mendatang.
Al-Ghozali memandang khawf sebagai hati yang sakit dan terbakar karena adanya bayangan atau imajinasi tentang sesuatu yang dibenci di masa mendatang. Abu Hafs menerangkan bahwa takut adalah cambuk Allah yang digunakan-Nya untuk menghukum manusia yang berontak keluar dari ambang pintu-Nya. Takut adalah pelita hati.
Dengan takut akan tampak baik dan buruk hati seseorang. Abu Umar Al Dimasyqi menegaskan bahwa orang yang takut adalah yang takut akan dirinya sendiri melebihi rasa takutnya kepada musuh. Abu Al Qasim Al Hakim memandang orang yang takut kepada sesuatu akan lari darinya, sedang orang yang takut kepada Allah akan lari kepada-Nya. Ahmad Al Nuri menegaskan seseorang yang takut adalah yang lari dari Tuhannya kepada Tuhannya. Syah Al kirmani berpendapat  tanda rasa takut adalah sedih yang terus-menerus dan menurut sufi lain, tanda rasa takut adalah kebingungan dan menunggu-nunggu di pintu gerbang keghaiban.
Ibnu Qoyyim memandang khawf sebagai perasaan bersalah dalam setiap tarikan nafas. Perasaan bersalah dan adanya ketakutan dalam hati inilah yang menyebabkan orang lari menuju Allah. Untuk memunculkan rasa beralah seseorang harus mengingat dosa-dosa yang pernah dilakukan sambil merasa khawatir kalau-kalau Allah tidak mengampuninya, khawatir kalau-kalau masih tergoda setan dalam setiap desahan nafasnya. Dengan perasaan seperti ini sang sufi akan berusaha agar sikap dan perilakunya tidak menyimpang dari yang dikehendaki Allah.
Dalam pandangan Al Sarraj, Khawf (takut) senantiasa bergandengan dengan Mahabbah (cinta). Keduanya tidak bisa dipisahkan dan masih dalam bingkai qurb (kedekatan). Qurb membutuhkan dua kondisi. Pertama, dalam hati sang hamba yang dominan adalah rasa takutnya. Kedua, dalam hati sang hamba yang dominan adalah rasa cintanya.

Khawf itu menurut Al Sarraj dibagi menjadi tiga tingkatan :
a.       Takutnya orang awam.
b.      Takutnya orang-orang pertengahan.
c.       Takutnya kaum Khushus (khusus)
Khawf berkaitan dengan raja’. Seorang hamba yang dekat dan intim dengan Allah akan merasa ketakutan yang luar biasa kepada-Nya. Takut akan ancaman dan siksa-Nya, takut berpisah, dijauhi oleh-Nya, sehingga terputus dari rahmat-Nya dan hilang rasa nikmat bersama-Nya. Namun pada saat bersamaan sang hamba juga merasakan raja’, harapan yang besar akan limpahan dan ampunan, kasih sayang, dan karunia Allah.
Menurut al Ghozali Khauf terdiri dari tiga tingkatan atau tiga derajat, diantaranya adalah:
- Tingkatan Qashir (pendek), Yaitu khauf seperti kelembutan perasaan yang dimiliki wanita, perasaan ini seringkali dirasakan tatkala mendengarkan ayat-ayat Allah dibaca.
- Tingkatan Mufrith (yang berlebihan), yaitu khauf yang sangat kuat dan melewati batas kewajaran dan menyebabkan kelemahan dan putus asa, khauf tingkat ini menyebabkan hilangya kendali akal dan bahkan kematian, khauf ini dicela karena membuat manusia tidak bisa beramal.
- Tingkatan Mu’tadil (sedang), yaitu tingkatan yang sangat terpuji, ia berada pada khauf qashir dan mufrith.56

3). Ar-Raja’
Menurut kalangan kaum sufi, raja’ dan khauf berjalan seimbang dan saling mempengaruhi. Raja’ dapat berarti berharap atau optimisme, yaitu perasaan senang hati menaati sesuatu yang diinginkan dan disenangi. Orang yang harapan dan penantiannya mendorongnya untuk berbuat ketaatan dan mencegahnya dari kemaksiatan, berarti harapan benar. Sebaliknya, jika harapannya hanya angan-angan, sementara ia sendiri tenggelam dalam lembah kemaksiatan, harapannya sia-sia.

Raja’ menuntut tiga perkara, yaitu:
a. Cinta kepada apa yang diharapkannya.
b. Takut bila harapannya hilang.
c. Berusaha untuk mencapainya.
Raja’ yang tidak dibarengi dengan tiga perkara itu hanyalah ilusi atau hayalan. Setiap orang yang berharap adalah juga orang yang takut (khauf). Orang yang berharap untuk sampai di suatu tempat tepat waktunya, tentu ia takut terlambat. Dan karena takut terlambat, ia mempercepat jalannya. Begitu pula orang yang berharap rida atau ampunan Tuhan, diiringi dengan rasa takut akan siksaan Tuhan.
Raja’ atau harapan menurut Al Qusyairi adalah keterpautan hati kepada sesuatu yang diinginkannya terjadi di masa yang akan datang, seperti halnya takut juga berkaitan dengan apa yang akan terjadi dimasa datang. Hati menjadi hidup oleh harapan-harapan akan lenyapnya beban di hati. Harapan adalah melihat kegemilangan Ilahi dengan mata keindahan. Harapan adalah kedekatan hati kepada kemurahan Tuhan. Harapan berarti melihat pada kasih sayang Allah Yang Maha Meliputi. Al Ghazali memandang Raja’ sebagai senangnya hati karena menunggu Sang Kekasih datang kepadanya. Khawf dan Raja’ adalah dua kata yang senantiasa bergandengan dan tidak akan terputus, jika terputus bukan Khawf dan Raja’ namanya. Abu Ali Al-Rudzbari  memandang Khawf dan Raja’ seperti sepasang sayap burung. Apalabila takut dan harap keduanya tidak ada, maka si burung akan terlempar ke jurang kematiannya. Raja’ berarti suatu sikap mental optimism dalam memperoleh karunia dan nikmat ilahi yang disediakan bagi hamba-hamba-Nya yang shaleh. Dalam pandangan Al Sarraj, Raja’ merupakan hal yang mulia. Kemuliaan hal ini ditunjukkan dalam firman-Nya,
•        ” Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al-Ahzab : 21).
•         Firmannya yang lain
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti”. (QS. Al-Isra’ : 57)
Menurut Al-Sarraj Raja’ terdiri atas tiga bagian :
a.       raja’ bersama Allah (fi Allah)
b.      raja’ di dalam luasnya rahmat Allah (fi sa’ati rahmat Allah)
c.       raja’ di dalam pahala Allah (fi tsawab Allah).

4). Ath-Thuma’minah
Thuma’minah adalah rasa tenang, tidak was-was atau khawatir. Seseorang yang telah mencapai thuma’minah, ia telah kuat akalnya, kuat imanya dan ilmunya serta bersih ingatanya. Beberapa firman Allah tentang Thuma’ninah, diantaranya:
•        ”Ya” (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”(QS. Al-Ra’du:28)
•        “Wahai jiwa yang tenang”(QS. Al-Fajr:27)
Thuma’ninah terbagi menjadi 3 tingkatan.
a. Pertama adalah kaum awam. Mereka merasa tenang jika menyebut-Nya.
b. Kedua, kelompok khusus. Mereka tenang karena rela dengan ketetapan-Nya, sabar dengan , musibah-Nya, bertakwa, ikhlas, dan damai.
c. Ketiga, kelompok istimewa. Mereka mengetahui bahwa rahasia-rahasia yang ada pada mereka tidak akan mampu membuat tenang kepada-Nya, karena rasa agung dan segan yang hinggap dihati mereka. Menurut mereka, Allah tidak memiliki akhir yang mungkin dicapai.





5). Al Uns
Dalam pandangan sufi Uns adalah sifat merasa selalu berteman, tak pernah merasa sepi, dalam keadaan sperti ini sufi merasa tidak ada yang dirasakan tidak ada yang di ingat kecuali Allah. Seseorang yang merasakan Uns dibedakan menjadi tiga kondisi. Pertama, hamba yang suka merasakan suka cita berzikir menginggat Allah dan merasakan gelisa disaat lalai. Kedua seorang hamba yang senang dengan Allah dan gelisah terhadap bisikan hati, dsb. Ketiga, yaitu kondisi yang tidak melihat lagi suka cita karena adanya wibawa kedekatan kemuliaan dan mengagungkan disertai dengan suka cita.
6). al Musyahada
Musyahadah secara harfiah adalah menyaksikan dengan mata kepala. Seorang sufi bila sudah mencapai musyahadah apabila sudah bisa merasakan bahwa Allah telah hadir atau Allah telah berada dalam hatinya dan seorang sudah tidak menyadari segala apa yang telah terjadi, segalanya tercurah pada yang satu yaitu Allah. Dalam keadaan seperti itu seorang sufi memasuki tingkatan ma’rifat, dimana seorang sufi seakan akan menyaksikan Allah dan melalui persaksiannya tersebut maka timbul rasa cinta kasih.
Hal ini misalnya tertera dalam permohonan Nabi Musa as untuk melihat Tuhan, ”Musa berkata : Ya Tuhanku perlihatkanlah (diri-Mu) kepadaku, agar aku dapat melihat-Mu.” (QS. Al-Khaf : 143). Para Sufi juga meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW dapat melihat Tuhan ketika melakukan Mi’raj.
Menurut Al Sarraj, musyahadah adalah hal yang tinggi, ia merupakan gambaran-gambaran yang menambah hakikat keyakiinan. Tingginya hal Musyahadah ini ditunjukkan oleh firman Allah,
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya”. (QS. Qaf :37).
Menyaksikan dalam ayat ini berarti menghadirkan hati atau kesaksian hati bukan dengan mata.
Hal Musyahadah ini dapat dikatakan merupakan tujuan akhir dari tasawuf, yakni menemukan puncak pengalaman rohani kedekatan seorang hamba dengan Allah.  Menurut Al sarraj ahli Musyahadah terbagi atas tiga tingkatan.
a. Tingkat pertama, adalah kelompok Al Ashagir (pemula), yakni mereka yang berkehendak.
b. Tingkat kedua, kelompok pertengahan (Al-Awsath). Dalam pandangan kelompok ini Musyahadah berarti bahwa ciptaan aa pada genggaman Yang Haq dan pada kerajaan-Nya.
c. Tingkat ketiga seperti yang diterangkan Al Makki, hati kaum arifin ketika menyaksikan Allah sesungguhnya menyaksikan dengan kesaksian yang kokoh.
7). Mahabbah
Cinta (mahabbah) adalah pijakan atau dasar bagi kemuliaan hal. Seperti halnya taubat yang menjadi dasar bagi kemuliaan maqam.Al-Junaid menyebut mahabbah sebagai suatu kecenderungan hati. Artinya, hati seseorang cenderung kepada Allah dan kepada segala sesuatu yang datang dariNya tanpa usaha. Tokoh utama paham mahabbah adalah Rabi’ah al-Adawiyah (95 H-185 H). Menurutnya, cinta kepada Allah merupakan cetusan dari perasaan cinta dan rindu yang mendalam kepada Allah. Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa cinta kepada Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan ia menduduki derajat/level yang tinggi. Dalam tasawuf, setelah di raihnya maqam mahabbah ini tidak ada lagi maqam yang lain kecuali buah dari mahabbah itu sendiri. Pengantar-pengantar spiritual seperti sabar, taubat, zuhud, dan lain lain nantinya akan berujung pada mahabatullah (cinta kepada Allah).





Menurut Sang Hujjatul Islam ini kata mahabbah berasal dari kata hub yang sebenarnya mempunyai asal kata habb yang mengandung arti biji atau inti. Sebagian sufi mengatakan bahwa hubb adalah awal sekaligus akhir dari sebuah perjalanan keberagamaan kita. Kadang kadang kita berbeda dalam menjalankan syariat karena mazhab/aliran. Cinta kepada Allah yang merupakan inti ajaran tasawuf  adalah kekuatan yang bisa menyatukan perbedaan-perbedaan itu. dan menerima terhadap apa-apa yang di berikan Allah. Bahkan ia akan selalu ridha terhadap Allah walaupun cobaan berat menimpanya.
Menurut Al-Ghazali makhluk yang paling bahagia di akhirat adalah yang paling kuat kecintaannya kepada Allah Swt. Menurutnya, ar-ru’yah (melihat Allah) merupakan puncak kebaikan dan kesenangan. Bahkan kenikmatan surga tidak ada artinya dengan kenikmatan kenikmatan perjumpaan dengan Allah Swt. “Shalat adalah mi’rajnya orang beriman” begitulah bunyi sabda Nabi Saw. untuk menisbatkan kualitas shalat bagi para pecinta. Shalat merupakan puncak pengalaman ruhani di mana ruh para pecinta akan naik ke sidratul muntaha, tempat tertinggi di mana Rasulullah di undang langsung untuk bertemu dengan-Nya.
Seorang Aqwiya (orang-orang yang kuat kecintaannya pada Tuhan) akan menjalankan shalat sebagai media untuk melepaskan rindu mereka kepada Rabbnya, sehingga mereka senang sekali menjalankannya dan menanti-nanti saat shalat untuk waktu berikutnya, bukannya sebagai tugas atau kewajiban yang sifatnya memaksa. Seorang pecinta akan berhias wangi dan rapi dalam shalatnya, melebihi saat pertemuan dengan orang yang paling ia sukai sekalipun. Bahkan mereka kerap kali menangis dalam shalatnya. Kucuran air mata para pecinta itu merupakan bentuk ungkapan kerinduan dan kebahagiaan saat berjumpa dengan-Nya dalam sholatnya. Mencintai Allah bukan sebatas ibadah vertikal saja (mahdhah), tapi lebih dari itu ia meliputi segala hal termasuk muamalah. Jadi, cinta kepada Allah pun bisa diterjemahkan ke dalam cinta kemanusiaan yang lebih konkrit, misalnya bersikap dermawan dan memberi makan fakir miskin.

Sikap dermawan inilah yang dalam sejarah telah di contohkan oleh Abu bakar, Abdurahman bin Auf, dan sebagainya. Bahkan karena cintanya yang besar kepada Allah mereka memberikan sebagian besar hartanya dan hanya menyisakan sedikit saja untuk dirinya. Mencintai Allah berarti menyayangi anak-anak yatim, membantu saudara saudara kita yang di timpa bencana, serta memberi sumbangan kepada kaum dhuafa dan orang lemah yang lain.
Mahabbbah mempunyai tiga tingkatan
a.       Tingkatan pertama ini pada intinnya mengandung 3 hal yakni
o   Mengerahkan ketaatan pada Allah dan membenci sikap melawan kepada-Nya
o   Menyerahkan diri kepada sang kekasih secara total
o   Mengosongkan hati dari segala sesuatu yang dikasihi.
b.      Tingkatan kedua
Adalah pandangan hati, keagungan, pengetahuan, dan kekuasaan-Nya. Itulah cinta orang yang  jujur kepada Allah dan orang yang telah menemukan kebenaran dan pengetahuan sejati tentang tuhan.
c.       Tingkatan ketiga
Adalah cintannya orang yang bersikap benar kepada Allah (shiddiqun) dan orang yang mengenal Allah dengan mata hatinnya (arifin).

8) Qurb
Secara literal, qurb berarti dekat darinnya dan kepadanya. Menurut sari al-saqathi, qurb(mendekatkan diri kepada Allah) adalah taat kepada-Nya. Sementara ruwaym ibn Ahmad ketika ditanya tentang qurb, menjawab, “menghilangkan setiap hal yang merintangi dirimu untuk bersama-Nya.
Dalam pandangan al-sarraj, qurb adalah penyaksian sang hamba dengan hatinya akan kedekatan Allah kepada-Nya, maka ia mendekat kepada Allah dengan ketaatanya, dan mengerahkan segala keinginannya kepada Allah semata dengan cara mengingatnya secara kontinu baik pada keramaian maupun dikala sendiri.
Kedekatan Allah kepada hambanya banyak disebut dalam firmanNya seperti:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS.Al-Baqarah:186)
Menurut Al-Sarraj Qurb ada tiga tingkatan yaitu:
a.       Tingkatan pertama dari tiga tingkatan orang-orang mendekaat kepada Allah adalah orang-orang yang berjuang mendekati Allah dengan berbagai macam ketaatan karena mereka memiliki pengetahuan yang diberikan oleh Allah, mengetahui kedekatan dan kekuasaan Allah kepada mereka.
b.      Tingkatan kedua adalah orang yang sudah sempurna dengan keadaan tingakat pertama. Artinnya dengan ketaatan dan ilmunya tentang Allah ia yakin merasa melihat dan dekat kepada Allah.
c.       Tingkatan ketiga adalah kelompok kaum agung dan kaum akhir (hal al-Kubara wa ahl al-Nihayah). Kondisi qurb mereka seperti yang dicewritakan oleh Husyan al-Nuri. Ia menjelaskan dalam pandangan kaum sufi, teman sejati adalah Allah dan bukan yang lain. Kedekatan kepada Allah jauh lebih baik daripada kedekatan sepasang sahabat. Dan kedekatan sepasang sahabat boleh jadi itu artinnya semakin jauhnya hamaba dari Allah.









9) Yaqin
Perpaduan antara pengetahuan yang luas dan mendalam dengan rasa cinta dan rindu yang bergelora bertaut lagi dengan perjumpaan secara langsung, tertanamlah dalam jiwanya dan tumbuh bersemi perasaan yang mantap, Dialah yang dicari itu. Perasaan mantapnya pengetahuan yang diperoleh dari pertemuan secara langsung, itulah yang disebut dengan Al Yaqin. Yaqin adalah kepercayaan yang kokoh tak tergoyahkan tentang kebenaran pengetahuan yang ia miliki,   karena ia sendiri menyaksikannya dengan segenap jiwanya.
Keyakinan menurut Al Sarraj merupakan hal yang tinggi. Ia adalah pondasi dan sekaligus bagian akhir serta pangkalan terakhir dari seluruh ahwal. Dengan kata lain seluruh ahwal terletak pada keyakinan yang nampak (Zahir) Puncak dari keyakinan ini diisyaratkan Allah dalam firman-Nya.
”Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda”. (QS. Al Hijr : 75).
”Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Al-Dzariyat :20)
Lebih  lanjut menurut Al sarraj seluruh ayat-ayat Allah yang berbicara mengenai yaqin sesungguhnya terdiri atas tiga hal : Ilm Al-yaqin, ‘ain Al yaqin, dan haq Al yaqin. Al Junaid berpandangan bahwa keyakinan adalah tetapnya ilmu di dalam hati, ia tidak berbalik, tidak berpindah, dan tidak berubah. Karena tetapnya keyakinan ini, nabi pernah bersabda,”Sekalian makhluk nanti akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan mereka ketika mati.” Maksudnya sesuai dengan keyakinan mereka ketika mati.






10) Syawq
Secara literal, syawq berarti lepasnya jiwa dan bergeloranya cinta. Menurut Suhrawardi, syawq merupakan bagian-bagian dari mahabbah, seperti halnya zuhud bagian dari tobat. Jika mahabbah sudah mantab akan tampak pula syawq. Menurut Abu Utsman siapa yang cinta kepada Allah dia akan merindu hendak berjumpa dengan-Nya. Rasa rindu tak mungkin ada pada yang mencinta. Sementara itu, Dzunun memandang  syawq sebagai derajat atau maqom tertinggi. Jika sang hamba sudah mencapai derajat Syawq ini mati rasanya mudah dan ringan karena kerinduan kepada Tuhannya dan harapan hendak berjumpa dengan-Nya.
Pengetahuan dan pengenalan yang mendalam terhadap Allah akan menimbulkan rasa senang dan gairah. Rasa senang dan bergairah melahirkan cinta dan akan tumbuh rasa rindu. Rindu ingin bertemu, hasrat akan selalu bergelora agar selalu bersama Dia. Di setiap denyutan jantung, detak kalbu, dan desah nafas, serta ingatan hanya kepada Allah, itulah Syawq (rindu).
Menurut Al Sarraj orang yang merindu itu terbagi atas tiga golongan.
a.       Pertama adalah mereka yang merindu kepada janji Allah atas para kekasih-Nya tentang pahala, karamah, keutamaan, dan keridlaan-Nya.
b.       Kedua, mereka yang rindu kepada kekasihnya karena cintanya yang mendalam dan bersemayamnya rindu itu hendak bertemu dengan kekasihnya.
c.       Ketiga, mereka yang menyaksikan kedekatan Allah terhadap dirinya, Allah senantiasa hadir tidak pernah pergi, maka hatinya merasa senang walau hanya menyebut nama-Nya saja.







BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1) Secara harfiah Maqamat berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat orang berdiri atau pangkal mulia. Istilah ini selanjutnya digunakan untuk arti sebagai jalan panjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat kepada Allah.
2) Beberapa pendapat tentang Maqamat disini para sufi berbeda pedapat ada yang mengatakan tujuh, delapan dan sepuluh. Akan tetapi para sufi sepakat bahwa maqamat itu ada tujuh: Taubat, Wara’, Zuhud, Faqr, Sabar, Sabar, Tawakal, karena dalam macam ada yang sudah masuk dalam ahwal (hal),
3) Secara Bahasa Al Ahwal merupakan jamak dari kata tunggal hal yang berarti keadaan atau sesuatu (keadaan rohani), menurut syekh Abu Nash As-sarraj, hal adalah sesuatu yang terjadi yang mendadak yang bertempat pada hati nurani dan tidak bertahan lama
4) Akhwal sendiri di bagi menjadi enam: al musyahada, Al Usn, ath-thuma’minah, ar-raja’, al-khauf, al-muroqobah, syawq, faqr, qurb, yakin  dan mahabbah. Lebih lanjut kaum sufi mengatakan bahwa hal adalah anugerah dan maqam adalah perolehan. Tidak ada maqam yang tidak dimasuki hal dan tidak ada hal yang terpisah dari maqam.

B. Saran
Kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.