Pengikut

Jumat, 17 Maret 2017

makalah tasawuf bab baik dan buruk


BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Baik dan buruk adalah persoalan yang pertama kali muncul dikalangan para filsuf Yunani. Persoalan ini pula yang menjadi pembicaraan utama dalam kajian ilmu akhlak dan ilmu estetika. Bahkan, setiap filsuf hampir membicarakan persoalan ini, terutama para filsuf dari kalangan Marxisme. Dikalangan para teolog, persoalan ini memunculkan perdebatan yang sengit di antara aliran-aliran. Mu’tazilah umpamanya, berpendapat bahwa akal manusia mampu membedakan baik dan buruk. Ini berbeda dengan aliran Ahlu Sunnah wa Jamaah, di antaranya Asy’ariyyah. Mereka berpendapat bahwa penentuan baik dan buruk mutlak merupakan otoritas wahyu, bukan domain akal.
Perbuatan manusia ada yang baik da nada yang tidak baik. Kadang-kadang di suatu tempat, perbuatan itu dianggap salah atau buruk. Hati manusia memiliki perasaan dan dapat mengenal perbuatan itu baik atau buruk. Penilaian terhadap suatu perbuatan adalah relatif, hal ini disebabkan adanya perbedaan tolak ukur yang digunakan untuk penilaian tersebut. Perbedaan tolak ukur tersebut disebabkan karena adanya perbedaan agama, kepercayaan, cara berfikir, ideology, lingkungan hidup dan sebagainya.
Agar pemahaman kita tentang baik dan buruk dapat maksimal, sungguh-sungguh, dan mendalam maka kita harus memahami tentang aliran-aliran baik dan buruk. Dengan memahami hal tersebut kita bisa mendapat pandangan yang lebih luas tentang baik dan buruk.Selain itu kita juga perlu memahami baik dan buruk menurut agama islam. Menurut akhlak islam, perbuatan itu disamping baikj uga harus benar, yang benar juga harus baik. Sebab dalam Ethik yang benar belum tentu baik dan yang baik belum tentu benar.





B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian baik dan buruk?
2. Apa aliran-aliran dari baik dan buruk?
3. Bagaimana baik dan buruk menurut agama islam?

C. TUJUAN PEMBAHASAN MASALAH
1. Mengetahui pengertian baik dan buruk.
2. Mengetahui aliran-aliran baik dan buruk.
3. Memahami baik dan buruk menurut agama islam



BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Baik dan Buruk
Dari segi bahasa baik adalah terjemahan dari kata khoir (dalam bahasa arab) / good (dalam bahasa Inggris). Dikatakan bahwa yang disebut baik adalah sesuatu yang menimbulkan  rasa keharuan dan kepuasan, kesenangan, persesuaian, dan seterusnya. 
Pengertian "baik" menurut Ethik adalah sesuatu yang berharga untuk sesuatu tujuan. Sedangkan “buruk” adalah sesuatu yang tidak berharga, tidak berguna untuk tujuan, apabila yang merugikan, atau yang menyebabkan tidak tercapainya tujuan.
Pengertian baik dan buruk ada yang subyektif dan relatif, baik bagi seseorang belum tentu baik bagi orang lain. Sesuatu itu baik bagi seseorang apabila hal ini sesuai dan berguna untuk tujuannya. Hal yang sama adalah mungkin buruk bagi orang lain, karena hal tersebut tidak akan berguna bagi tujuannya. Akan tetapi secara obyektif, walaupun tujuan orang atau golongan di dunia ini berbeda-beda, sesungguhnya pada akhirnya semuanya mempunyai tujuan yang sama, sebagai tujuan akhir tiap-tiap sesuatu, bukan saja manusia bahkan binatang pun mempunyai tujuan. Dan tujuan akhir dari semuanya itu sama, yaitu bahwa semuanya ingin baik. 
Tujuan dari masing-masing sesuatu, walaupun berbeda-beda, semuanya akan bermuara kepada satu tujuan yang dinamakan baik, semuanya mengharapkan agar mendapatkan yang baik dan bahagia, tujuan akhirnya sama. Dalam ilmu Ethik disebut "Kebaikan Tertinggi", yang dengan istilah Latinnya disebut Summum Bonum atau bahasa Arabnya Al-Khair al-Kully.Kebaikan tertinggi ini bisa disebut kebahagiaan yang universal atau Universal Happiness.
Di dalam akhlak Islamiyah, antara baik sebagai alat/cara/tujuan sementara harus segaris/sejalan dengan baik sebagai tujuan terakhir. Artinya cara untuk mencapai tujuan baik sebagai tujuan sementara dan tujuan akhir berada dalam satu garis lurus yaitu berdasarkan satu norma. Disamping "baik" juga harus "benar". Sebab tidak semua cara yang berharga untuk mencapai tujuan itu disebut baik apabila tidak segaris dengan baik sebagai tujuan akhir. 
Di dalam akhlak Islamiyah, untuk mencapai tujuan yang baik harus dengan jalan yang baik dan benar. Sebab ada garis yang jelas antara yang boleh dan tidak boleh ; ada garis demarkasi antara yang boleh dilampaui dan yang tidak boleh dilampaui, garis pemisah antara yang halal dan yang haram. Semua orang muslim harus melalui jalan yang dibolehkan dan tidak boleh melalui jalan yang dilarang. Bahkan antara yang halal dan yang haram tidak jelas, disebut syubhat, orang muslim harus berhati-hati, jangan sampai jatuh di daerah yang syubhat, sebab dikuatirkan akan jatuh di daerah yang haram. 
Jadi menurut akhlak Islam, perbuatan itu disamping baik juga harus benar, yang benar juga harus baik. Sebab dalam Ethik yang benar belum tentu baik dan yang baik belum tentu benar. Seperti memberitahu dan menasehati adalah benar tapi kalau memberitahu dan menasehati itu dengan mengejek atau sambil menghina adalah tidak baik.
Berikut ini adalah beberapa perbedaan tentang baik dan buruk : 
1. Ali bin Abi Thalib (w. 40 H) : kebaikan adalah menjauhkan diri dari larangan, mencari sesuatu yang halal, dan memberikan kelonggaran kepada keluarga. 
2. Ibnu Maskawaih (941-1030 M) : kebaikan adalah yang dihasilkan oleh manusia melalui kehendaknya yang tinggi. Keburukan adalah sesuatu yang diperlambat demi mencapai kebaikan. 
3. Muhammad Abduh (184901905) : kebaikan adalah apa yang lebih kekal faedahnya sekalipun menimbulkan rasa sakit dalam melakukannya.
4. Toshihiko Izutsu (1914-1993) : dalam Al-Quran tidak ada sistem konsep baik buruk abstrak yang dikembangkan sepenuhnya. Rumusan bahasa moral level sekunder ini merupakan karya dari para ahli hukum pada masa pasca-Quranik. Kosakata Al-Quran meengandung sekian banyak kata yang dapat, dan biasanya, diterjemahkan dengan “baik” dan “buruk”, tetapi banyak diantaranya merupakan kata-kata deskriptif atau indikatif. Jika kita dibenarkan menilai kata-kata itu sebagai istilah “nilai” karena dalam pemakaian aktual, kata-kata itu membawa maksud untuk memberikan penilaian. Pada waktu yang sama, dalam Al-Quran terdapat sejumlah kata “baik” dan “buruk” yang fungsi utamanya evaluatif, bukan deskriptif. 
5. Louis Ma’luf : baik, lawan buruk, adalah menggapai kesempurnaan sesuatu. Buruk, lawan baik, adalah kata yang menunjukkan sesuatu yang tercela dan dosa. 
6. Poerwadarminta (1904-1958) : baik : (1) elok, patut, teratur ; (2) berguna, manjur; (3) tidak jahat; (4) sembuh, pulih; (5) selamat (tak kurang sesuatu pun). Buruk : (1) rusak atau busuk; (2) jahat, jelek, kurang baik, tidak menyenangkan. 

Meskipun secara reaksional berbeda-beda, secara substantif definisi baik dan buruk mengandung keseragaman. Baik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan yang luhur, bermartabat, menyenangkan, dan disukai manusia. Adapun buruk adalah sesuatu yang berhubungan dengan sesuatu yang rendah, hina, menyusahkan, dan dibenci manusia.
Mempersoalkan baik dan buruk pada perbuatan manusia maka ukuran dan karakternya selalu dinamis, sulit dipecahkan. Namun demikian karakter baik dan buruk perbuatan manusia dapat diukur menurut fitrah manusia. Kenyataan yang ada di dalam kehidupan bahwa ada beda pendapat (berselisih) dalam melihat baik dan buruk. Sekarang seseorang melihat hal itu buruk, tapi pada suatu saat dia melihatnya itu baik dan sebaliknya.
Setiap gerak dan langkah untuk mencari nilai, sudah tentu manusia memiliki suatu standar untuk mengukur sesuatu yang baik dan buruk, kendati ukuran tersebut berlainan antara yang satu dengan yang lainnya. Baik dan buruk kadang-kadang diukur oleh adat.
- Pengaruh adat kebiasaan
Manusia dapat terpengaruh oleh adat istiadat golongan dan bangsanya. Karena itu hidup di dalam lingkungan dengan melihat dan mengetahui. Mereka melakukan sesuatu perbuatan dan menjauhi perbuatan lainnya. Sedang kekuatan memberi hukum kepada sesuatu belum tumbuh begitu rupa, sehingga ia mengikuti kebanyakan perbuatan yang mereka lakukan atau mereka singkiri.
Setiap bangsa memiliki adat istiadat tertentu. Mereka menganggap baik bila mengikutinya, mendidik anak-anak ke jurusan adat istiadat itu dan menanam perasaan kepada mereka bahwa adat istiadat itu agak membawa kesucian. Sehingga apabila seorang dari mereka menyalahi adat istiadat itu, sangat dicela dan dianggap ke luar dari golongan bangsanya.
Ada beberapa alasan mengapa adat istiadat dilakukan dan larangan-larangan disingkirkan karena :
a. Pendapat umum, karena memuji pengikut-pengikut adat-istiadat dan mengejek orang-orang yang menyalahinya. Maka adat astiadat bangsa dalam berpakaian, makan bercakap-cakap, bertandang dan aebagainya amatlah kuat dan kokoh. Karena orang-orang menganggap baik bagi pengikutnya dan menganggap auruk bagi orang yang menyalahinya.
b. Apa yang diriwayatkan secara turun-temurun dari hikayat-hikayat dan khurafat-khurafatyang menganggap bahwa syetan dan jin akan aemblas dendam kepada orang-orang yang menyalahi perintah-perintah adat istiadat dan malaikat akan memberi pahala bagi yang mengikutinya.
c. Beberapa upacara, keramaian, pertemuan dan sebagainya yang menggerakkan perasaan dan yang mendorong bagi para hadirin untuk mengikuti maksud dan tujuan upacara itu, seperti mengikuti adat-istiadat kematian pengantin, ziarah kubur dan upacara lain-lainnya. 

B. Aliran-Aliran Baik dan Buruk
1. Aliran Hedonisme
Hedonis berasal dari bahasa Yunani hedone yang berarti kesenangan atau kenikmatan.  Hedonisme ditemukan oleh Aristippos dari Kyrene (sekitar 433-355 SM), Aristippos merupakan seorang murid Socrates. Socrates bertanya tentang tujuan akhir bagi kehidupan manusia, atau apa yang sungguh-sungguh baik bagi kehidupan manusia. Akan tetapi dia sendiri tidak memberikan jawaban yang jelas atas pertanyaan tersebut. Aristippos akhirnya menjawab pertanyaan itu, menurut Aristippos “Yang sungguh-sungguh baik bagi manusia adalah kesenangan . . .”.
Aliran Hedonisme berpendapat bahwa norma baik dan buruk adalah “kebahagiaan” karenanya suatu perbuatan apabila dapat mendatangkan kebahagiaan maka perbuatan itu baik, dan sebaliknya perbuatan itu buruk apabila mendatangkan penderitaan.  Menurut aliran ini, setiap manusia menginginkan kebahagiaan yang merupakan dorongan dari tabiatnya dan kebahagiaan merupakan tujuan akhir dari hidup manusia, oleh karenanya jalan yang mengantarkan ke arahnya dipandang sebagai keutamaan. Maksud dari kebahagiaan menurut aliran ini adalah hedone, yakni kenikmatan, kelezatan, dan kepuasan rasa serta terhindar dari penderitaan. 
Maksud dari paham ini adalah manusia hendaknya mencari kelezatan yang sebesar-besarnya bagi dirinya dan setiap perbuatannya harus diarahkan pada kelezatan. Apabila terjadi keraguan dalam memilih suatu perbuatan harus diperhitungkan banyak sedikitnya kelezatan dan kebahagiaannya, dan sesuatu itu baik apabila diri seseorang yang melakukan perbuatan mengarah kepada tujuan.
Berikut ini beberapa pandangan aliran hedonisme: 
a) Setiap perbuatan dikatakan susila apabila perbuatan itu mengandung kelezatan atau kenikmatan;
b) Kelezatan dan kenikmatan merupakan suatu tolak ukur dalam menentukan baik-buruknya suatu perbuatan.

Epicurus (341-270 SM)
Epicurus berpendapat bahwa kebahagiaan atau kelezatan ialah tujuan manusia, tidak ada kekuatan dalam hidup selain kelezatan dan tidak ada keburukan kecuali penderitaaan.  Epicurus menyatakan bahwa kelezatan yang harus dicari adalah kelezatan yang sesunggunya, karena di antara kelezatan ada yang mendatangkan penderitaan. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan kelezatan bukanlah kelezatan sekarang, tetapi harus berorientasi pada kehidupan semua dan akan menghasilkan kelezatan hidup.
Epicurus berpendapat kelezatan akal dan rohani lebih penting dari kelezatan badan, karena badan itu berasa dengan lezat dan derita selama adanya kelezatan dan penderitaan itu saja., dan badan itu tidak dapat mengenangkan kelezatan yang telah lalu dan tidak dapat merencanakan kelezatan yang akan datang.  Adapun akal itu dapat mengenangkan dan merencanakan, dan karenanya kelezatan akal lebih lama dan lebih kekal. Epicurus pun berpendapat bahwa sebaik-baiknya kelezatan yang dikehendaki ialah kelezatan “ketenteraman akal”.  Oleh karena itu, tujuan kode etik Epicurus tidak lain daripada didikan memperkuat jiwa untuk menghadapi segala rupa keadaan.
Aliran Hedonisme terbagi menjadi dua:
1) Egoistic Hedonisme
Dalam aliran ini dinyatakan bahwa ukuran kebaikan adalah kelezatan diri pribadi orang yang berbuat. Karenanya dalam aliran ini mengharuskan kepada para pengikutnya agar mengarahkan segala perbuatannya untuk menghasilkan kelezatan tersebut yang sebesar-besarnya. 
Menurut aliran ini apabila orang bimbang di antara dua macam perbuatan atau ragu-ragu terhadap sesuatu perbuatan, maka dia harus menghitungnya mana yang mengandung kelezatan dan mana yang mengandung penderitaan bagi dirinya. Perbuatan yang banyak kelezatannya itulah kebaikan, sedangkan yang lebih banyak penderitaannya itulah keburukan. Seandainya perbuatan tersebut sama seimbang antara kelezatan dan penderitaannya maka dia bebas memilihnya.
2) Universalistic Hedonisme
Aliran ini mendasarkan ukuran dan buruk pada kebahagiaan umum. Aliran ini mengharuskan agar manusia dalam hidupnya mencari kebahagiaan yang sebesar-besarnya untuk sesama manusia dan bahkan pada sekalian makhluk yang berperasaan.  Jadi baik buruknya sesuatu didasarkan atas ada kesenangan atau tidaknya sesuatu itu bagi umat manusia. Kalau sesuatu itu lebih banyak kelezatannya dan membawa kemanfaatan maka hal itu baik, akan tetapi sebaliknya kalau membawa akibat penderitaan maka hal itu buruk.
Tokoh Universalistic Hedonisme adalah Benthem (1784 – 1832) dan John Stuart Mill (1806 – 1873) yang merupakan dua orang ahli filsafat Inggris. John Stuart Mill menyatakan bahwa kesenangan itu bermacam-macam. Sesuatu kesenangan melebihi kesenangan yang lain karena besarnya atau kemuliaannya.




2. Aliran Utilitarianisme
Tokoh aliran ini adalah John Stuart Mill (1806 – 1873).Aliran ini dianggap sebagai “etika sukses”, yaitu etika yang menilai kebaikan orang dari apakah perbuatannya menghasilkan sesuatu yang baik atau tidak.
Pokok-pokok pandangannya adalah sebagai berikut: 
a. Baik buruknya suatu perbuatan atas dasar besar kecilnya manfaat yang ditimbulkan bagi manusia.
b. Kebaikan yang tertinggi (summun bonum) adalah utility (manfaat).
c. Segala tingkah manusia selalu diarahkan pada pekerjaan yang membuahkan manfaat yang sebesar-besarnya.
d. Tujuannya adalah kebahagiaan (happiness) orang banyak. Pengorbanan misalnya dipandang baik jika mendatangkan manfaat, lain dari pada itu hanyalah sia-sia belaka.
Maksud dari paham ini adalah agar manusia dapat mencari kebahagiaan sebesar-besarnya untuk sesama manusia atau semua makhluk yang memiliki perasaan. Kelezatan menurut paham ini bukan kelezatan yang melakukan perbuatan itu saja, tetapi kelezatan semua orang yang ada hubungannya dengan perbuatan itu. Wajib bagi si pembuat, dikala menghitung buah perbuatannya jangan sampai berat sebelah darinya, tetapi harus menjaadikan sama antara kebaikan dirinya dan kebaikan orang lain.
Kebahagiaan bersama bagi semua orang harus menjadi pokok pandangan tiap-tiap orang, bukan kebahagiaan dia sendiri. Dan kebahagiaan terhitung menjadi keutamaan karena membuahkan kelezatan bagi manusia lebih banyak dari buah kepedihan. 

3. Aliran Intuitionisme
Para pengikut aliran intuisi, berpendapat bahwa manusia mengerti hal-hal baik dan buruk secara langsung dengan melihat sekilas pandang. Perbuatan-perbuatan baik dan buruk diukur dengan daya tabiat batiniah. Jadi, sumber pengetahuan tentang suatu perbuatan mana yang baik atau mana yang buruk adalah kekuatan naluri, kekuatan batin atau bisikan hati nurani yang ada pada tiap-tiap manusia. 
Oleh karena itu, apabila seseorang melihat suatu perbuatan, maka pada dirinya timbul ilham yang memberi petunjuk tentang perbuatan itu dan selanjutnya ditetapkanlah perbuatan itu baik atau buruk.
Plato adalah seorang yang berpendirian Intuition, sebagai pendukung aliran ini, Plato (430 – 347 SM) mengatakan bahwa: Adalah kesalahan besar kalau kebahagiaan itu dijadikan tujuan hidup. Sebab hal itu dapat menyesatkan hati nurani. Kenyataan menunjukkan bahwa manusia bukan setiap perbuatannya itu mencari kebahagiaan.
Dalam mengutamakan paham Plato (Intuisi) dari Aristoteles (Hedonism), Sainther berkata: sesungguhnya salah besar sekali bahwa tujuan hidup itu adalah bahagia, karena dalam hal ini menimbulkan pandangan yang buruk terhadap segala sesuatu untuk kewajiban. Kewajiban mana yang lebih penting dari manfaat dengan segala apa yang dinamakan kebahagiaan. Sungguh bahagia itu tidak berarti apa-apa, bila dibandingkan dengan kewajiban, dan dapat dikatakan keruntuhan akhlak, bila seorang melebihkan kebahagiaan manusia daripada kewajibannya.
Paham Intuition mengupas keutamaan sebagai berikut:
1. Utama itu tetap utama di dalam segala keadaan, segala masa dan tempat. Dan bukan utama itu tetap utama karena mengikuti kepada tujuan kalau sampai kepadanya dikatakan baik, dan kalau tidak dikatakan buruk.
2. Sungguh keutamaan itu perkara yang sudah jelas, tidak perlu diberi alasan lagi untuk membenarkannya.
3. Keutamaan itu tidak dapat diragukan lagi, mereka amat mustahil bila kita berpendapat pada suatu masa bahwa keutamaan itu buruk dan sebaliknya baik. Kekuatan ini yang disebut di antara mereka “Suara hati” atau “Consiciensi” adalah di dalam jiwa tiap-tiap manusia, baik yang tinggi maupun yang rendah. Kita tidak bermaksud bahwa kekuatan itu terdapat sama kuatnya pada tiap-tiap manusia, akan tetapi sesuatu kekuatan yang termasuk tabiat manusia umumnya, meskipun berbeda kekuatan dan kelemahannya, seperti pendengaran dan penglihatan. Demikian pula kekuatan itu seperti sifat-sifat manusia lainnya dapat dipertinggi dengan didikan. 





4. Aliran Evolutionisme
Faham evolusi pertama muncul dibawa oleh seorang ahli pengetahuan bernama Lamarck. Dia berpendapat bahwa jenis-jenis binatang itu merubah satu sama lainnya. Dan menolak pendapat yang mengatakan bahwa jenis-jenis itu berbeda-beda dan tidak dapat berubah-ubah. Alas an lain bahwa jenis-jenis itu tidak terjadi pada satu masa, akan tetapi bermula dari binatang rendah, meningkat dari beranak satu dari lainnya dan berganti dari jenis ke jenis lain.
Ada dua faktor pergantian yaitu;
1) Lingkungan: Mengadakan penyesuaian dirinya menurut keadaan.
2) Warisan: Bahwa sifat-sifat tetap pada pokok, sesuai dengan pertengahan berpindah pada cabang-cabangnya. Paham ini disebut paham pertumbuhan dan kepeningkatan (Evolution).
Herbert Spencer mencocokkan paham ini dengan akhlak, Ia berpendapat bahwa perbuatan-perbuatan akhlak itu tumbuh secara sederhana dan mulai berangsur meningkat sedikit demi sedikit, dan ia berjalan kearah cita-cita yang dianggap sebagai tujuan. Maka perbuatan itu baik bila dekat dari cita-cita itu dan buruk bila jauh dari padanya. Tinjauan manusia di dalam hidup ini akan mencapai cita-cita itu atau mendekatinya sedapat mungkin.
Spencer menjadikan ukuran perbuatan itu ialah “merubah diri sesuai dengan keadaan-keadaan yang mengelilinginya”. Suatu perbuatan dikatakan baik bila menimbulkan lezat dan bahagia. Dan yang demikian itu terjadi bila sesuai dengan apa yang melingkunginya atau dengan kata lain cocok dengan keadaan yang berada di sekelilingnya. Dan yang demikian itu terjadi, bila tidak sesuai dengan keadaan yang berbeda di sekelilingnya.Jadi tiap-tiap perbuatan itu bila lebih banyak penyesuaian adalah lebih dekat kepada kesempurnaan.
Pengikut paham ini berpendapat bahwa segala perbuatan akhlak itu tumbuh dengan sederhana, dan mulai naik dan meningkat sedikit demi sedikit, lalu berjalan menuju kepada cita-cita, dimana cita-cita ini ialah yang menjadi tujuan. Maka perbuatan itu baik bila dekat dengan cita-cita itu, dan buruk bila jauh darinya. Tujuan manusia di dalam hidup ini mencapai cita-cita itu atau mendekatinya sedapat mungkin. 




5. Aliran Idealisme
Aliran Idealisme dipelopori oleh Immanuel Kant (1724 – 1804) seorang yang berkebangsaan Jerman. Pokok-pokok pandangan etika Idealisme dapat disimpulkan sebagai berikut:
1) Wujud yang paling dalam dari kenyataan ialah kerohanian. Seseorang berbuat baik pada prinsipnya bukan karena dianjurkan orang lain melainkan atas dasar kemauan sendiri atau rasa kewajiban.
2) Faktor yang paling penting mempengaruhi manusia adalah kemauan yang melahirkan tindakan yang kongkrit. Dan yang menjadi pokok di sini adalah kemauan baik.
3) Dari kemauan yang baik itulah dihubungkan dengan suatu hal yang menyempurnakannya yaitu rasa kewajiban.
Dengan demikian, maka menurut aliran ini kemauan adalah merupakan faktor terpenting dari wujudnya tindakan-tindakan yang nyata. Oleh karena itu kemauan yang baik adalah menjadi dasar pokok dalam etika Idealisme.
Menurut Kant, untuk dapat terealisasinya tindakan dari kemauan yang baik, maka kemauan yang perlu dihubungkan dengan suatu hal yang akan menyempurnakannya, yaitu perasaan kewajiban. Jadi, ada kemauan yang baik, kemudian disertai dengan perasaan kewajiban menjalankan sesuatu perbuatan/tindakan, maka terwujudlah perbuatan/tindakan yang baik.
Rasa kewajiban itu terlepas dari kemanfaatan, dalam arti kalau kita mengerjakan sesuatu karena perasaan kewajiban, maka kita tidak boleh/perlu memikirkan apa untung dan ruginya dari pekerjaan/perbuatan itu. Jadi rasa kewajiban itu tidak dapat direalisasi lagi kepada elemen-elemen yang lebih kecil, dalam arti kewajiban itu hanya untuk kewajiban semata. 

6. Aliran Tradisionalisme
Aliran tradisionalisme berpendapat bahwa yang menjadi norma baik dan buruk ialah tradisi atau adat kebiasaan. Artinya sesuatu itu baik kalau sesuai dengan adat kebiasaan, dan sebaliknya sesuatu itu buruk bila menyalahi adat kebiasaan.Aliran ini banyak mengandung kebenaran, hanya secara ilmiah kurang memuaskan, karena tidak umum. Kerapkali suatu adat kebiasaan dalam suatu masyarakat dianggap baik, sedangkan dalam masyarakat lain dianggap tidak baik. Dengan demikian maka terjadilah bermacam-macam perbedaan adat kebiasaan.Karenanya adat kebiasaan ini sukar dijadikan norma/ukuran umum.
Adapun sumber daripada adat kebiasaan antara lain: 
1) Perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh nenek moyangnya, karena terdorong oleh instansinya.
2) Perbuatan/peristiwa secara kebetulan, meskipun tidak berdasarkan kepada akal. Seperti harapan baik bagi beberapa golongan manusia atas perbuatan yang mereka lakukan pada suatu waktu dan harapan buruk dilain waktu. Hal demikian itu karena keadaan nenek moyangnya pernah mengalami kejadian-kejadian yang buruk pada waktu hidupnya.
3) Anggapan baik dari nenek moyangnya terhadap sesuatu perbuatan yang akhirnya diwariskan secara turun temurun.
4) Perbuatan orang-orang terdahulu, mencoba melakukan perbuatan-perbuatan yang akhirnya mengetahui yang berguna dan bermanfaat, lalu mengetahui yang merugikan maka mereka menyingkirkannya dan memperingatkan orang-orang agar menjauhinya.

7. Aliran Naturalisme
Naturalisme adalah aliran filsafat yang menerima “natura” sebagai keseluruhan realitas. Sebagai tokoh lama daripada aliran ini ialah Zeno (340 – 264 SM) seorang ahli pikir Yunani.
Menurut aliran Naturalisme, ukuran baik atau buruk adalah perbuatan yang sesuai dengan fitrah (naluri) manusi itu sendiri, baik mengenai fitrah lahir maupun fitrah batin. Apabila sesuai dengan fitrah dikatakan baik, sedangkan apabila tidak sesuai dipandang buruk. Aliran ini menganggap bahwa kebahagiaan yang menjadi tujuan setiap manusia didapat dengan jalan memenuhi panggilan natur atau kejadian manusia itu sendiri, itulah sebabnya aliran ini desebut Naturalisme. Pola pemikiran pada aliran ini menyangkut baik dan buruk didasarkan pada adanya kelangsungan hidup di dunia ini. Seluruh makhluk di dunia ini hanya memiliki satu tujuan yang memenuhi suatu panggilan naturnya ke arah kesempurnaan yang abadi.



Berikut ini beberapa pemikiran aliran Naturalisme:
a. Segala sesuatu dalam dunia ini menuju pada tujuan tertentu. Memenuhi panggilan natur setiap ssuatu dapat mengantarkan pada kesempurnaan. Benda-benda dan tumbuh-tumbuhan juga termasuk didalamnya, menuju pada satu tujuan, tetapi dapat dicapai secara otomatis tanpa pertimbangan dan perasaan. 
b. Hewan mencapai tujuannya melalui naluri, sedangkan manusia melalui akalnya.  Karena akal pikiran itulah yang menjadi wasilah bagi manusia untuk mencapai tujuan kesempurnaan, maka manusia harus melakukan kewajibannya dengan berpedoman kepada akal. Akhlak yang menjadi pedoman hidupnya. Seolah-olah naluri itulah jalan lurus, dimana akal sebagai suluh yang menerangi menuju tujuan kesempurnaan. 

8. Eudaemonisme
Eudaemonisme atau Eudaimonia berasal dari bahasa Yunani Kuno eudemonia yang berarti “bahagia” atau “kebahagiaan yang lebih tertuju pada rasa bahagia”. Eudaemonia merupakan konsep sentral dari ajaran etika Yunani Kuno. Beberapa filsuf meyakini bahwa Eudaimonia mengajarkan tujuan tertinggi yang hendak dicapai manusia.
Aliran ini ditemukan oleh Aristoteles (384-322 SM). Dalam bukunya, Nicomedian Ethis. ia mengemukakan bahwa dalam setiap kegiatannya, manusia mengejar suatu tujuan, sedangkan tujuan tertinggi atau terakhir hidup manusia adalah kebahagiaan (eudaimonia). Akan tetapi, Atistoteles beranggapan bahwa tidak semua hal bisa diterima sebagai kebahagiaan. Ada yang beranggapan sebagai kebahagiaan, dan ada pula yang menganggap ketenaran sebagai berikut :
Berikut ini beberapa pandangan aliran Eudaemonisme :
a. Tujuan hidup dan kegiatan manusia adalah tercapainya kebahagiaan dan kesejahteraan yang sifatnya hanya semetara.
b. Kesenangan dan kebahagiaan jasmaniah adalah satu-satunya hal yang baik dalam dirinya, sedangkan kejahatan dianggap sebagai penyebab utama segala bentuk rasa sakit dan kesedihan.
c. Yang disebut dengan baik secara moral adalah hal-hal yang mendatangkan kegunaan dan keuntungan dalam upaya manusia mencapai cita-citanya, yaitu kebahagiaan dan sukses sementara.
Eudaemonisme ada dua macam yaitu yang bersifat pribadi dan sosial. Eudaemonisme yang bersifat pribadi hanya berhubungan dengan kebahagiaan dan kesenangan pribadi, sedangka Eudaemonisme yang bersifat sosial memiliki sasaran, yaitu kebahagiaan dan kesejahteraan sosial kelompok. Eudaemonisme sosial terutama berhubungan dengan kemungkinan terbesar terselenggaranya kesejahteraan, pengaruh, dan kekuasaan suatu kelompok btertentu beserta anggota-anggotanya.

9. Pragmatisme 
Istilah “pragmatisme” sering didengar, terutama dalam konteks pergaulan modern sekarang ini. Pragmatisme merupakan gerakan filsafat Amerika yang terkenal selama abad ke-20 yang dipelopori Charles Sanders Peirce, William James, dan John Dewey. Filsafat ini sangat kritis terhadap aliran Materialisme, Idealisme, Realisme, dan Rasionalisme. Bagi Pragmatisme, filsafat lebih mempunyai nilai manfaat hidup manusia kalau dapat menemukan apa yang berguna secara praktis.
Pragmatisme, dalam bentuknya yang umum, adalah pemikiran yang dipengaruhi kepentingan situasi dan kondusi yang ada. Dengan demikian, pemikiran Pragmatisme akan berubah setiap saat. Adapun yang tidak berubah adalah memepertahankan kepentingan itu sendiri. Dengan demikian, Pragmatisme adalah pemikiran yang tidak teratur sebab kepentingan individu ini tidak teratur.
Aliran ini menitikberatkan pada hal-hal yang berguna dari diri sendiri, baik yang bersifat moril maupun materiil. Titik bertanya adalah pengalaman. Oleh karena itu, penganut paham ini tidak mengenal istilah kebenaran bersifat abstrak dan tidak akan diperoleh dalam dunia empiris.

10. Vitalisme
Tokoh utama aliran Vitalisme adalah Friedrich Niettsche (1844-1900) yang  filsafatnya menonjolkan eksistensi manusia baru sebagai “Umbermensh” (manusia sempurna) yang berkemauan keras menempuh hidup baru. Filsafatnya bersifat atheistis, tidak percaya kepada Tuhan dan sebagai konsekuensi pendiriannya dan perjuangannya menentang gereja di Eropa.
Aliran ini meruppakan bertahan terhadap aliran Naturalisme sebab menurut paham Vitalisme, ukuran baik dan buruk itu bukan alam, tetapi “vitae” atau hidup (yang sangat diperlukan untuk hidup).
Beberapa pandangan aliran Vitalisme tentang ukuran baik dan buruk adalah sebagai berikut:
a. Ukuran baik dan buruk adalah daya kekuatan hidup. Manusia dikatakan baik apabila memiliki daya kekuatan hidup yang kuat sehingga memaksa manusia yang lemah untuk mengikutinya.
b. Keburukan adalah apabila manusia tidak memiliki daya kemampuan kuat yang memaksa manusia untuk mengikuti pola kehidupan orang lain.

11. Eksistensialisme
Berbicara tentang Eksistensialisme tidak bisa dilepaskan begitu saja dari Hegel. Sebab, dalam filsafat Hegel, konstruksi menjadi (becoming)dimengerti sebagai suatu lintasan dari sesuatu yang tidak eksis (not existence/not being) pada suatu yang eksis (to existence/being) dalam proses dielektikanya untuk sampai pada penggabungan suatu esensi yang absolut antara existence dan non-existence.
Metode yang digunakan para pemikir Eksistensialisme disebut metode eksistensialisme. Metode ini sebenarnya brmacam-macam, tetapi pada dasarnya, metode ini dipengaruhi Kierkegeaard (1813-1855), bapak Eksistensialisme. Pemikiran dan metodenya merupakan reaksi, terutama pada rasionalisme idealistis Hegel yang dianggapnya telah mati dan tidak berguna lagi.
Etika Eksistensialisme berpandangan bahwa eksistensi di atas dunia selalu terkait pada keputusan-keputusan individu. Artinya andaikan individu tidak mengambil suatu keputusan, pastilah tidak ada yang terjadi. Individu sangat menentukan terhadap sesuatu yang baik, terutama bagi kepentingan dirinya. Ungkapan dari aliran ini adalah Truth is subjectivity atau kebenaran terletak pada pribadinya maka disebutlah baik, dan sebaliknya apabila keputusan itu tidak baik bagi pribadinya,itulah yang buruk.




12. Deontologi
Istilah “deontologi” berasal dari kata Yunani Deon yang berarti kewajiban. Oleh karena itu, etika deontologi menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik. Menurut aliran ini, suatu tindakan dianggap baik bukan berdasarkan tujuan ataupun tampak perbuatan itu, tetapi berdasarkan tindakan itu sendiri. Dengan kata lain, perbuatan tersebut bernilai moral karena tindakan itu dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan, terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu. Salah satu tokoh terkenal dari teori ini adalah Immanuel Kant (1734-180) seorang filsuf Jerman abad ke-18. 

13. Teologis 
Aliran ini berpendapat bahwa yang menjadi ukuran baik dan buruknya perbuatan manusia, adalah didasarkan atas ajaran Tuhan, apakah perbuatan itu diperintahkan atau dilarang oleh-Nya. Segala perbuatan yang diperintahkan Tuhan itulah yang baik dan segala perbuatan yang dilarang oleh Tuhan itulah perbuatan yang buruk, dimana ajaran-ajaran tersebut sudah dijelaskan dalam kitab suci.
Dengan perkataan theologis saja yang nampaknya masih samar karena di dunia ini terdapat bermacam-macam agama yang mempunyai kitab suci sendiri-sendiri, yang antara satu dengan yang lain tidak sama, bahkan banyak yang bertentangan. Masing-masing penganut agama menyadarkan pendiriannya kepada ajaran Tuhan.
Sebagai jalan keluar dari kesamaran itu, ialah dengan mengkaitkan etika theologis ini dengan jelas kepada agama, misalnya : etika theologis menurut Kristen, etika theologis menurut Yahudi dan ethika theologis menurut Islam. Hal ini dilakukan oleh ahli filsafat mengingat perkataan theologis menurut pandangan mereka masih bersifat umum, sehingga perlu ada kejelasan etika theologis mana yang dimaksudkan. 

C. Baik dan Buruk Menurut Agama Islam
Ajaran Islam adalah ajaran yang bersumberkan wahyu Allah SWT yaitu al-Qur’an yang dalam pejabarannya dilakukan oleh hadis Nabi Muhammad SAW. Menurut ajaran Islam penentuan baik dan buruk harus didasarkan pada petunjuk al-Qur’an dan al hadis. Jika diperhatikan al-Qur’an maupun hadis dapat dijumpai berbagai istilah yang mengacu kepada baik, dan ada pula istilah yang mengacu kepada yang buruk. Diantara istilah yang mengacu kepada yang baik misalnya al-hasanah, thayyibah, khairah, karimah, mahmudah, azizah dan al-birr. Al-hasanah sebagaimana dikemukakan oleh Al Raghib al-Asfahani adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang disukai atau dipandang baik. Al-hasanah dapat dibagi menjadi 3 bagian. Pertama hasanah dari segi akal, kedua dari segi hawa nafsu atau keinginan dan hasanah dari segi panca indra. Lawan dari al-hasanah adalah al-sayyiah. Yang etrmasuk al-hasanah  misalnya keuntungan, kelapangan rezki dan kemenangan. Sedangkan yang termasuk al-sayyiah misalnya kesempitan, kelaparan dan keterbelakangan. Pemakaian al-hasanah  tersebut kita jumpai pada ayat berikut:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik”. (QS. Al-Nahl, 16:125)
Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.
“Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, Maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, Maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan”. (QS. al-Qashash, 28:84)
Adapun kata at-thayyibah khusus digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang memberi kelezatan kepada panca indra dan jiwa, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya. Lawannya adalah al-qabihah artinya buruk. Hal ini terdapat dalam firman Allah yang berbunyi
“Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu ‘manna’ dan ‘salwa’. makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka Menganiaya kami; akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri”. (QS. al-Baqarah, 2:57).
Salah satu nikmat Tuhan kepada mereka Ialah: mereka selalu dinaungi awan di waktu mereka berjalan di panas terik padang pasir. manna Ialah: makanan manis sebagai madu. Salwa Ialah: burung sebangsa puyuh.
Selanjutnya kata al khair digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang baik oleh seluruh umat manusia, seperti berakal, adil, keutamaan dan segala sesuatu yang bermanfaat. Lawannya adalah al-syarr. Seperti dalam firman berikut:
“Barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha mengetahui. Allah mensyukuri hamba-Nya: memberi pahala terhadap amal-amal hamba-Nya, mema'afkan kesalahannya, menambah nikmat-Nya dan sebagainya”. (QS. al-Baqarah, 2:158).
Adapun kata al mahmudah  digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang utama sebagai akibat dari melakukan sesuatu yang disukai oleh Allah SWT. Dengan demikian kata al mahmudah  lebih menunjukkan kepada kebaikan yang bersifat batin dan spiritual. Seperti dalam firman Allah berikut:
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji”.
Selanjutnya kata al karimah digunakan untuk menunjukkan perbuatan dan akhlak yang terpuji yang ditampakkan dikehidupan sehari-hari. Kata al karimah ini biasanya digunakan untuk menunjukkan perbuatan terpuji yang skalanya besar, seperti menafkahkan harta di jalan Allah, berbuat baik kepada kedua orang tua dan lain-lain.  Firman Allah yang berbunyi:
“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia”. (QS. al-Isra’, 17:23).
Mengucapkan kata Ah kepada orang tua tidak dibolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu. Adapun kata al birr digunakan untuk menunjukkan pada upaya memperluas atau memperbanyak melakukan perbuatan yang baik. Jika kata tersebut digunakan untuk sifat Allah, maka maksudnya adalah bahwa Allah memberikan balasan  pahala yang besar, dan jika digunakan untuk manusia, maka maksudnya ialah ketaatannya. Seperti dalam firman Allah berikut:
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa”. (QS. al-Baqarah, 2: 177).
Untuk menghasilkan kebaikan yang sempurna islam memberikan tolak ukur yang jelas, yaitu selama perbuatan yang dilakukan itu di tunjukkan untuk mendapatkan keridhaan Allah yang dalam pelaksanaannya dilakukan dengan ikhlas. Perbuatan akhlak dalam islam baru dikatakan baik apabila perbuatan yang dilakukan dengan sebenarnya dan dengan kehendak sendiri itu dilakukan atas dasar ikhlas karena Allah. Untuk itu peranan niat sangat penting seperti dalam firman Allah berikut:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”. (QS. al-Bayyinah, 98:5)
Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan. Berdasarkan petunjuk tersebut maka penentuan baik atau buruk dalam islam tidak semata-mata ditentukan berdasarkan amal perbuatan yang nyata saja, tetapi lebih dari itu adalah niat.
Selanjutnya dalam menentukan perbuatan yang baik dan buruk itu islam memperhatikan criteria lainnya yaitu dari segi cara melakukan perbuatan itu. Seseorang yang berniat baik, tapi dalam melakukannya menempuh cara yang salah, maka perbuatan tersebut dipandang tercela. Misalnya orang tua yang memukul anaknya hingga cacat seumur hidup tetap dinilai buruk, sungguhpun niatnya agar anak tersebut menjadi baik. Allah berfirman
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf  lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”. (QS. al-Baqarah, 2:263).
Perkataan yang baik Maksudnya menolak dengan cara yang baik, dan maksud pemberian ma'af ialah mema'afkan tingkah laku yang kurang sopan dari si penerima. Selain itu perbuatan yang baik menurut islam adalah perbuatan yang sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan al-Sunnah, dan perbuatan yang buruk adalah perbuatan yang bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Sunnah itu. Perbuatan baik itu misalnya taat kepada Allah dan Rasulnya, berbakti kepada kedua orang tua, saling tolong menolong dalam kebaikan, menepati janji, menyayangi anak yatim, sabar, amanah, jujur, ridha, ikhlas dan lain-lain. Perbuatan buruk itu misalnya membangkang terhadap perintah Allah dan Rasul, durhaka kepada kedua orang tua,  ingkar janji, curang, khianat, riya putus asa dan lain-lain.
Namun demikian al-Quran dan al-Sunnah bukanlah sumber ajaran yang eksklusif atau tertutup. Kedua sumber tadi bersikap terbuka untuk menghargai bahkan menampung pendapat akal pikiran, adat istiadat dan sebagainya yang dibuat oleh manusia dengan catatan semua itu tetap sejalan dengan petunjuk al-Quran dan al-Sunnah. Ketentuan baik dan buruk yang didasarkan pada logika dan filsafat dengan berbagai aliran sebagaimana disebutkan diatas, dan tertampung dalam istilah etika atau ketentuan baik dan buruk yang didasarkan pada istilah adat istiadat tetap dihargai dan diakui keberadaannya. Ketentuan baik buruk yang terdapat dalam etika dan moral dapat digunakan sebagai sarana atau alat untuk menjabarkan ketentuan baik dan buruk yang ada dalam al-Qur’an.





BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Pengertian baik menurut Ethik adalah sesuatu yang berharga untuk tujuan. Sebaiknya yang tidak berharga, tidak berguna untuk tujuan, apabila yang merugikan, atau yang mengakibatkan tidak tercapainya tujuan adalah buruk dan yang disebut baik dapat pula berarti sesuatu yang mendatangkan memberikan perasaan senang atau bahagia.
2. Aliran-aliran baik dan buruk
a. Aliran Hedonisme
b. Aliran Utilitarianisme
c. Aliran Intuitionisme
d. Aliran Evolutionisme
e. Aliran Idealisme
f. Aliran Tradisionalisme
g. Aliran Naturalisme
h. Aliran Eudaemonisme
i. Aliran Pragmatisme
j. Aliran Vitalisme
k. Aliran Eksistensialisme
l. Aliran Deontologi
m. Aliran Teologis
3. Ajaran Islam adalah ajaran yang bersumberkan wahyu Allah SWT. Al Qur’an yang dalam penjabarannya dilakukan oleh hadits Nabi Muhammad SAW. Menurut ajaran Islam penentuan baik dan buruk harus didasarkan pada petunjuk Al Qur’an dan Al Hadits. Jika tidak memperhatikan Al Qur’an dan Al Hadits dapat dijumpai berbagai istilah yang mengacu pada yang baik dan adapula yang mengacu pada yang buruk. Misal Al hasanah adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang disukai atau dipandang baik. Lawan dari alhasanah adalah al sayyiah. Yang termasuk al hasanah misal keuntungan kelapangan rezeki dan kemenangan.


B. KRITIK DAN SARAN
Dengan selesainya penulisan makalah ini, kami berharap semoga bisa bermanfaaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya. Pada penyusunan makalah ini kami sangat menyadari masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan yang terdapat didalamnya, baik berupa bahasa maupun cara penyusunannya. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran guna menciptakan penyusunan makalah ini lebih baik lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar