SEJARAH KEMUNDURAN DAN KEHANCURAN DINASTI ABBASIYAH
MATA KULIAH
SEJARAH PERADABAN ISLAM
Dosen Pengampu
Prof. Dr. Imam Fuadi, M.Ag.
Oleh:
1. Inna Fauziah (17204153030)
2. Ima Rosita (17204153031)
3. Atika Kamala (17204153032)
4. ZulfaHusniatul I. (17204153033)
JURUSAN TADRIS MATEMATIKA 2/A
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
IAIN TULUNGAGUNG
TAHUN 2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam adalah agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW. dan disebarkan di jazirah Arab yang diawali dengan sembunyi-sembunyi. Setelah pengikut agama Islam telah banyak dari keluarga terdekat Nabi dan sahabat, maka turun perintah Allah untuk menyebarkan Islam secara terang-terangan. Namun dalam penyebarannya tidak berjalan mulus, Rasulullah dalam menyebarkan Islam mendapatkan tantangan dari suku Quraisy. Islam disebarkan dan dipertahankan dengan harta dan jiwa oleh para penganutnya yang setia membela Islam meski harus dengan pertumpahan darah dalam pepeprangan.
Setelah Rasulullah wafat, kepemimpinan Islam dipegang oleh khulafaur Rasyidin. Pada perkembangannya, Islam mengalami banyak kemajuan. Islam telah disebarluaskan secara keseluruhan di wilayah Arab. Pada masa khulafaur Rasyidin Al-Quran telah dibukukan dalam bentuk mushaf yang dikenal dengan mushaf utsmani. Setelah kepemimpinan khulafaur Rasyidin, Islam dipimpin oleh beberapa Dinasti.
Peradaban Islam mencapai puncak kejayaan pada masa daulah Abbasiyah. Perkembangan ilmu pengetahuan sangat maju yang diawali dengan penerjemahan naskah asing terutama yang berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab, pendirian pusat pengembangan ilmu dan perpustakaan dan terbentuknya mazhab ilmu pengetahuan dan keagamaan sebagai buah dari kebebasan berfikir. Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti Islam yang berhasil dalam mengembangkan peradaban Islam. Para ahli sejarah tidak meragukan hasil kerja para pakar pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah dalam memajukan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam.
Suatu kepemimpinan disamping memiliki keberhasilan pasti juga mengalami kemunduran. Seperti halnya dinasti Abbasiyah. Meskipun dinasti Abbasiyah ini terkenal dengan keberhasilannya dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban Islam, namun tidak memungkiri bahwa dinasti Abbasiyah akhirnya juga akan mengalami kemunduran.
B. Rumusan Masalah
1. Faktor internal kemundurandankehancuranDinastiAbbasiyah
2. Faktor eksternal kemundurandankehancuranDinastiAbbasiyah
BAB II
PEMBAHASAN
Sejarah Kemunduran dan Kehancuran Dinasti Abbasiyah
Kemunduran dan kehancuran Dinasti Abbasiyah ditandai dengan masuknya dominasi kekuatan luar ke dalam pusat pemerintahan Bagdad. Sementara Bagdad tetap menjadi pusat kebudayaan dan perdagangan. Hal itu menjadikan pemerintah Bagdad ketergantungannya kepada orang-orang Turki semakin besar. Pemerintah dalam hal ini dijabat oleh khalifah, ia tidak mampu lagi mengendalikan orang-orang Turki. Ketidakjelasaan sistem pergantian khalifah, hal ini membuat orang-orang Turki pengawal khalifah leluasa untuk mengangkat siapa saja yang dia kehendaki di dalam keluarga dinasti sebagai khalifah, dan dengan mudah melakukan pemecatan bagi khalifah yang tidak disenangi. Ketidakjelasan ini juga menjadikan di antara putra khalifah di satu sisi, dan antara saudara-saudara khalifah di sisi lain. Siapa di antara mereka itu yang lebih berhak menggantikan sang khalifah yang uzur. Dengan demikian kekuasaan khalifah tidak berfungsi secara efektif. Sehingga menjadikan posisi khalifah sebagai boneka.
Seperti diketahui bahwa sejak awal khalifah Bani Abbas memasukkan unsur-unsur luar non-Arab, baik personil maupun kebudayaannya, seperti Dinasti Buwaih dari Persia dan Dinasti Saljuk dari Turki. Pada tahun 945-1055 Abbasiyah berada di bawah kekuasaan Bani Buwaih dan pada tahun 1055-1199 kekuasaan Abbasiyah jatuh ke tangan Bani Saljuk. Dan tahun 1199-1258 Abbasiyah tidak di bawah kekuasaan tertentu, mereka merdeka dan berkuasa tetapi kekuasaannya jauh dari dulu, hanya berkuasa di sekitar wilayah Bagdad. Dua puluh tujuh orang khalifah setelah khalifah Al- Mutawakil (819-847 M.), terdapat dua belas khalifah yang keberadaannya oleh para pegawai istana dari Turki. Sebagai contoh, khalifah Al-Musta’in melarikan diri dari Bagdad karena tidak tahan menghadapi perlakuan kasar pegawai Turki; Al-Mu’taz dipaksa turun tahta oleh pengawalnya setelah berkuasa selama tiga bulan; Al- Muhtadi diturunkan dari tahta dan dipenjarakan karena bentrok dengan orang Turki.
Selanjutnya pada tahun 950-1050 M. Banyak wilayah yang dipimpin oleh para gubernur melepaskan diri dari pusat Bagdad. Hal tersebut disebabkan oleh pertikaian yang terjadi di tingkat pusat Bagdad yang mengakibatkan lemahnya kontrol ke wilayah-wilayah provinsi. Dan muncul dinasti-dinasti kecil yang mandiri, di wilayah barat Bagdad, muncul Dinasti Idris di Maroko, Dinasti Aghlabi di Tunisia, Dinasti Thuluni di Mesir, Dinasti Ikhsidi dan Hamdani di Mosul dan Aleppo. Sedangkan di wilayah Timut Bagdad, muncul Dinasti Thahiri di Khurasan, Dinasti Saffari di Fes, dan Dinasti Sumani Transoxania.
Munculnya gerakan-gerakan pemberontakan, yaitu kaum Zanj di bawah pimpinan Ali bin Muhammad. Di Irak terdapat gerakan syi’ah Quramithoh yang dipimpin oleh Hamdan Qarmat yang memulai operasinya pada 847 M. Gerakan ini bersifat oposisi, bahkan menjadikan wilayahnya merupakan zona merdeka. Sebagai lanjutan gerakan Qaramithoh, timbul gerakan Hasysyasyin yang dipimpin oleh Hasan bin Sabbah. Mereka tidak segan membunuh pembesar negara yang memusuhinya, seperti perdana menteri Dinasti Bani Saljuk di Bagdad, Nizamul Muluk, ia dibunuh. Sebelum berkuasa Dinasti Bani Buwaih juga melakukan pemberontakan ke pemerintahan Bagdad, yang akhirna berhasil menguasainya.
Kesulitan ekonomi juga menjadi salah satu faktor kemunduran dan kehancuran Dinasti Abbasiyah ini. Sumber penghasilan Bani Abbasiyah antara lain pajak dari wilayah dan pertanian. Banyaknya wilayah yang melepaskan diri sangat mempengaruhi jumlah wilayah pembayar pajak. Pengumpulan uang pajak melalui sistem borongan oleh pemborong pajak dan kadang-kadang juga dilakukan oleh tentara bayaran karena dianggap lebih efisien. Pada saat itu pasukan infantri mendapat gaji 240 dirham pertahun, sedangkan tentara kavaleri mendapat dua kali lipat dari jumlah yang diterima infantri. Jumlah tentara pada masa itu mencapai 120.000 orang. Dan ketika kekuatan militer merosot khalifah tida sanggup memaksakan pengiriman pajak ke Bagdad sehingga pemasukan pajak juga merosot. Akibatnya perekonomian pemerintah mengalami krisis sampai tingkat yang sangat memprihatinkan. Pemerintah pada waktu itu bahkan tidak mampu membayar tentara dengan uang akhirnya diganti dengan memberikan tanah.
Ibn Kaldun menggambarkan bahwa pemasukan tahunan dari berbagai provinsi pada masa Al-Ma’mun adalah dari daerah Sawad (dahulu daerah Babilonia) sebesar 27.800.000 dirham, dari Khurasan sebesar 28.000.000 dirham, dari Mesir sebesar 23.040.000 dirham, dari Syria-Palestina sebesar 14.724.000 dirham, dan dari keseluruhan provinsi berjumlah 331.929.008 dirham tidak termasuk income berupa barang.
Pendapatan Bani Abbas menurun karena para petugas memonopoli pajak. Selain dari faktor pajak, juga di sebabkan oleh rusaknya wilayah yang dulunya sangat subur, yaitu Sawad. Sedangkan Sawad merupakan salah satu andalan pemerintah. Ketidaksuburan wilayah Sawad ini disebabkan oleh adanya banjir yang terjadi secara periodik di wilayah itu dan dangkalnya sungai Dia’ah. Akibat dari dangkalnya sungai tersebut menjadikan irigasi berjalan tidak lancar. Maka terjadilah perubahan struktur tanah yang menyebabkan tidak subur. Ketidaksuburan ini berakibat luar biasa akan merosotnya pemasukan pemerintah dari sektor pertanian. Hal tersebut membawa dampak akan kelangsungan pemerintahan Abbasiyah.
Sebelum mendapat serangan dari pasukan Mongol, ketika Daulah Abbasiyah ada di bawah kekuasaan Bani Saljuk terjadilah perang salib. Perang ini merupakan reaksi orang-orang Kristen Eropa terhadap orang-orang Islam yang telah melakukan penaklukan-penaklukan sejak tahun 632 M. Tidak saja di Syria dan Asia Kecil tetapi juga di Spanyol dan Sisilia. Disamping itu umat islam dianggap menggangu kepentingan-kepentingan umat Kristen seperti mempersulit peziarah Eropa yang akan melakukan ibadah ke Jerussalem. Demikian pula sekembalinya dari ziarah mereka sering mendapat perlakuan yang jelek dari orang-orang Saljuk yang fanatik. Akhirnya Kaisar Alexius I dan Paus Urbanus II menjalin kerjasama untuk membangkitkan semangat orang-orang Kristen Eropa untuk melawan orang-orang Islam, yang kemudian dikenal dengan perang salib. Dikatakan perang salib karena pasukan Kristen memakai lambang salib dalam peperangan itu.
Karena kerjasama antara Paus dan Kaisar Alexius itulah kemudian, Paus Urbanus II pidato di hadapan orang-orang Kristen. Pidato dilakukan Paus pada tanggal 26 November 1095 M. Ajakan Paus lewat pidatonya itu menggema ke seluruh Eropa. Menjelang musim semi tahun 1097 seratus lima puluh ribu orang memenuhi ajakan Paus Urban II dan mereka berkumpul di Konstatinopel. Perang salib akhirnya benar-benar terjadi antara orang-orang islam dengan orang-orang Kristen.
Meskipun akhir dari peperangan ini di menangkan oleh umat islam tetapi umat islam mengalami kerugian yang banyak, karena peperangan ini terjadi di wilayah umat islam dan tentu dana yang dikeluarkan untuk peperangan yang panjang ini cukup menguras finansial pemerintah Abbasiyah.
Disamping umat islam harus bersusah payah menghadapi perang salib yang di mulai akhir abad ke 11, di pertengahan abad ke 13 umat islam harus menghadapi pasukan Hulagu Khan yang ganas dari bangsa Mongol. Ketika kondisi Khalifah Abbasiyah sangat memprihatinkan kemudian datang serangan dari Bangsa Mongol pada tahun 1258 M yamg dipimpin oleh Hulagu Khan.
Pada saat itu pasukan Mongol merupakan pasukan yang tangguh. Ekspansinya sudah ke banyak wilayah yang ada di sekitar bangsanya, bahkan sudah menguasai sebagian yang sudah dikuasai umat islam. Mereka memiliki perlengkapan perang dan juga memiliki disiplin yang tinggi. Pada 10 Pebruari 1258 M benteng Bagdad ditembus pasukan Hulagu, dan kemudian Bagdad dihancur luluhkan. Kekayaan negara termasuk buku-buku di perpustakaan-perpustakaan dihanguskan. Pasukan Hulagu Khan menghancurkan Bagdad rata dengan tanah dan membunuh orang-orangnya.
Khalifah terakhir Bani Abbasiyah, al-Mu’tasim berusaha untuk mengulur waktu penyerahan tetapi hal itu sia-sia saja. Akhirnya Hulagu kehilangan kesabaran dan menyerang ke Bani Abbasiyah. Pasukan Mongol menyeberangi sungai Tigris. Mereka menghancurkan tanggul-tanggul air sehingga airnya membanjiri rumah-rumah penduduk. Penduduk berusaha lari namun sebagian mereka ditangkap oleh tentara dan dibenamkan ke dalam air.
Pada saat itu Al-Muta’sim menyuruh seseorang menawarkan penyerahan. Tetapi Hulagu Khan minta agar Al-Muta’sim datang sendiri dan keluarganya beserta orang-orang lainnya. Ketika permintaan itu dipenuhi untuk datang ke Hulagu bersama keluarga dan oarang-orang Abbasiyah lainnya, tetapi justru yang terjadi adalah pasukan Hulagu mealakukan penyerangan terhadap Al-Muta’sim beserta para pengikutnya. Bangunan-bangunan dinasti Abbasiyah dengan berbagai macam khazanah lainnya termasuk Bait Al-Hikmah dihancurkan oleh Hulagu Khan bersama tentaranya. Diperkirakan sekitar 800.000 orang baik pria, wanita maupun anak-anak jadi sasaran pembantaian pasukan Mongol ini. Dalam pembantaian ini Al-Muta’sim sendiri beserta keluarganya dibunuh dengan kejam. Dengan terbunuhnya Al-Muta’sim yang merupakan khalifah terakhir Dinasti Abbasiyah maka berakhir pulalah pemerintahan Dinasti Abbasiyah ini.
1. Faktor Internal
Secara umum , faktor internal ini ada dua hal yaitu politik dan ekonomi. Kedua faktor ini ditengarahi sebagai penyebab mundur dan jatuhnya Abbasiyah yang berkuasa selama 508 tahun itu.
a. PersoalanPolitik
Pemerintahan Dinasti Abbasiyah terbilang cukup lama bertahan, yakni lima abad. Tetapi selama berlangsungnya pemerintahan ini tidak berarti lancer terus menerus, hampir selama itu pula Daulah Bani Abbasiyah tidak pernah sepi dari konflik politik, baik yang terjadi di pusat kekuasaan maupun di wilayah-wilayah yang menjadi kekuasaan di bawah pemerintahan ini.
Setelah Harun al-Rasyid (786-809) meninggal dunia, Daulah Bani Abbasiyah lambat laun mengalami kemunduran akibat banyaknya gejolak politik yang muncul. Belum lama dari meninggalnya Harun al-Rasyid, terjadi perang saudara antara al-amin dan al-ma’mun. Al-amin yang merupakan saudara tiri al-Ma’mun sudah ditunjuk oleh ayahnya, al-Rasyid, sebagai khalifah yag akan mengganti sedangkan al-Ma’mun diberi kekuasaan di Khurasan sebagai gubernur dan diberi kesempatan untuk mengganti saudaranya sebagai khalifah pada kesempatan berikutnya.
Al-Amin tidak setuju kalau jabatan khalifah itu nantinya dipegang oleh al-ma’mun. Ia berupaya menyingkirkan al-makmun agar kelak jabatan khalifah jatuh ke tangan anaknya sendiri. Terjadilah perang saudara. Dalam perang saudara tersebut kekuatan al-amin didukung oleh pasukan tentara dari Baghdad, sedangkan al-Ma’mun mendapat dukungan pasukan tentara dari Khurasan. Akhirnya al-Amin dapat dikalahkan dan dengan sendirinya al-Ma’mun kemudian menjadi khalifah menggantikan Harun al-Rasyid.
Pada zaman pemerintahan dipegang oleh al-Ma’mun, ia banyak merekrut orang-orang Persia untuk menduduki jabatan di pemerintahan. Orang-orang Persia diberikan posisi strategis. Tahir ibn al-Husain misalnya, orang Khurasan yang berjasa terhadap al-Ma’mun dalam mengalahkan al-Amin, menjadi gubernur Khurasan dan juga sebagai panglima Daulah Abbasiyah secara keseluruhan. Karena posisinya yang itu, kemudain ia berani memproklamirkan Khurasan sebagai propinsi tersendiri dan membangun kekuasaan kegubernuran berdasarkan garis keturunannya sendiri. Pada Khalifah al-Ma’mun dominasi orang-orang Persia lebih kuat disbanding dengan orang-orang Arab.
Sementara itu, di zaman al-Mu’tasim, khalifah yang ke-tujuh yang menggantikan al-Ma’mun, membaca situasi politik yang memang banyak diwarnai oleh orang-orang Persia. Oleh karena al-Mu’tasim orang tuanya adalah orang turki maka ia banyak merekrut orang-orang Turki untuk dijadikan pengawal dalam rangka mengimbangi dominasi orang-orang Persia. Ia juga mempromosikan orang-orang Turki untuk menduduki jabatan-jabatan penting di kemiliteran. Artinya, di zaman ini berarti orang-orang Turki mengambil alih posisi-posisi penting orang-orang Persia sebelum mereka kuasai.
Masalah yang muncul kepermukaan kemudian adalah tampaknya dominasi orang-orang Turki dipemerintahan tidak disukai orang-orang Baghdad dan para veteran pasukan Arab sehingga menimbulkan pertempuran berdarah. Kemudian al-Mu’tasim terpaksa membangun ibu kota baru, Samarra, sebagai basis militer dan administrasi pemerintahan yang jaraknya sekitar 70 mil sebelah Utara Baghdad. Tindakan al-Mu’tasim tersebut berakibat ketergantungannya kapada orang-orang Turki semakin tinggi. Ia banyak didekte oleh orang Turki tetapi ia masih mampu mengendalikan tidak demikian halnya pada zaman-zaman sesudahnya.
Fenomena di atas terbukti pada zaman al-Mutawakkil menjadi khalifah menggantikan al-Wasiq, ia tidak mampu lagi mengendalikan orang-orang Turki. Dominasi orang-orang Turki di pusat kekuasaan semakin kuat, merekalah yang kemudian mengendalikan kekuasaan. Lebih parah lagi akhirnya merekalah yang memilih dan mengangkat khalifah yang sesuai dengan kehendaknya. Keberadaannya kemudian tidak lebih dari symbol spiritual. Dengan demikian kekuasaan khalifah tidak berfungsi secara efektif.
Sebagai efek dari ini semua muncullah persaingan politik antar etnis di pusat kekuasaan. Pada tahun 945-1055 itulah Abbasiyah ada di bawah kekuasaan Bani Buwaihi yang berasal dari etnis Persia. Tahun 1055-1199 kekuasaan Daulah Abbasiyah jatuh ketangan Bani Saljuk yang merupakan etnis Turki. Dan tahun1199-1258 Khalifah Abbasiyah tidak di bawah kekuasaan tertentu, mereka merdeka dan berkuasa namun jauh dengan dulu. Ia hanya berkuasa di sekitar wilayah Baghdad dan kemudian jatuh ke tangan orang-orang Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan pada tahun 1258 M.
Pertikaian di tingkat pusat inilah yang menyebabkan lemahnya control ke wilayah-wilayah propinsi. Dan sebagai akibatnya adalah sebagian propinsi melepaskan diri dari pusat, dan ini menjadikan semakin berkurangnya pemasukan keuangan Negara.
b. PersoalanEkonomi
Kekhalifahan Abbasiyah juga mengalami kemunduran di bidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. Pada awal pemerintahan Bani Abbasiyah merupakan pemerintahan yang kaya raya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar. Pertambahan dana yang besar diperoleh antara lain dari al-Kharaj, semacam pajak hasil bumi.
Akibat dari pertikaian di tingkat pusat kekuasaan Abbasiyah menjadikan melemahnya control pemerintah ke daerah-daerah. Padahal wilayah Abbasiyah yang mewarisi Dinasti Umayyah itu sangat luas. Luasnya wilayah kekuasaan itu menjadikan komunikasi kepropinsi-propinsi menjadi lambat. Meskipun wilayah tersebut cukup luas tetapi kalau ada kepercayaan tinggi kepada pemerintah pusat mungkin bisa mengurangi masalah, tetapi sayangnya kepercayaan seperti itu pada abad kesepuluh sudah banyak berkurang sehingga khalifah mengalami kesulitan dalam menemukan orang yang ditunjuk sebagai gubernur-gubernur propinsi yang bisa dipercaya untuk mengirim uang ke Baghdad yang diperoleh dari surplus pajak. Karena itu pertikaian politik berimbas kepada masalah financial yang sangat jelas dampaknya.
Sebenarnya pengiriman dana ke pusat pemerintahan Abbasiyah hingga tahun 919 M masih dalam jumlah yang besar, tetapi setelah itu, jumlah uang pajak yang dikirim selalu mengalami penurunan. Pada waktu itu biasanya pengumpulan uang pajak melalui system borongan oleh pemborong pajak dan kadang-kadang juga dilakukan oleh tentara bayaran karena dianggap lebih efisien. Dan ketika kekuatan militer merosot khalifah tidak sanggup memaksakan pengiriman pajak ke Baghdad sehingga pemasukan pajak juga merosot. Akibatnya perekonomian pemerintah mengalami krisis sampai tingkat yang sangat memprihatinkan. Pemerintah waktu itu bahkan tidak mampu membayar tentara dengan uang akhirnya diganti dengan memberinya tanah.
Penurunan pendapatan pemerintahan bani Abbasiyah selain dari factor pajak, juga disebabkan oleh rusaknya wilayah yang dulunya sangat subur, yaitu Sawad. Sedangkan Sawad merupakan salah satu wilayah pertanian yang jadi salah satu andalan pemerintah. Ketidaksuburan wilayah Sawad ini disebabkan oleh adanya banjir yang terjadi secara periodic di wilayah itu dan dangkalnya sungai daya’ah. Sehingga irigasi berjalan tidak lancer. Maka terjadilah perubahan struktur tanah yang menyebabkan tanah tidak subur. Selain itu pengeluaran pemerintahan juga membengkak dikarenakan kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah, jenis pengeluaran makin beragam dan para pejabat melakukan korupsi.
2. FaktorEksternal
Kemunduran dinasti Abbasiyah yang disebabkan oleh faktor eksternal ini meliputi dua hal, yaitu pertama karena perang salib dan yang kedua karena serangan dari bangsa Mongol.
a. PerangSalib
Perang salib terjadi selama 2 abad. Yaitu mulai tahun 1095 M sampai tahun 1291 M. Peperangan ini terjadi ketika Daulah Abbasiyah ada di bawah kekuasaan Bani Saljuk.Perang merupakan reaksi orang-orang Kristen Eropa terhadap orang-orang Islam yang telah melakukan penaklukan sejak tahun 632 M tidak saja dari Syiria dan Asia kecil tetapi juga di Spanyol dan Sisilia. Selain itu orang Islam dianggap dianggap mengganggu kepentingan-kepentingan umat Kristen seperti mempersulit peziarah Eropa yang akan melakukan ibadah di Jerussalem. Akhirnya Kaisar Alexius I dan Paus Urbanus II menjalin kerjasama untuk membangkitkan orang-orang Kristen untuk melawan umat Islam, sehingga terjadilah perang salib.
Karena kerjasama antara Paus dan kaisar Alexius kemudian Paus Urbanus II pidato dihadapan orang-orang Kristen. Pidato itu dilakukan paus pada saat tanggal 26 November 1095 M. AJAKAN Paus pada pidatonya itu menggema keseluruh Eropa. Akhirnya padat tahun 1097 seratus lima puluh ribu orang mmenuhi ajakan Paus Urban II dan mereka berkumpul di Konstantinopel. Perang salib akhirnya benar-benar terjadi antara umat Islam dan orang-orang Kristen. periode perang salib dibagi menjadi tiga, yaitu;
Periode Pertama / Penaklukkan
Periodeiniditandaidengansuksesnyapasukan Kristen merebutkota-kota di sekitarpantaitimurlauttengahseperti Antioch, Tripoli, Acre, Jerussalem, dansebagainya.Keberhasilanitumerekasusuldenganmendirikankerajaan Latin di timur.
PeriodeKedua / Periodereaksiumat Islam ataspenaklukkan-penaklukkan orang Kristen, pelopornya Imam al-Din Zangki.
Di mana Islam berhasilmembebaskankembalikota-kota yang direbutolahpasukan Kristen.Kemenangantersebuttercapaiketikaumat Islam dipimpinoleh Salah al-Din al-Ayyubi, pahlawan Islam yang namanyamelegendasmpaisekarang.Peristiwa yang terpentingpadakepempinanyaadalahdirebutnyakembaliJerussalemdaritanganpasukan Kristen.
PeriodeKetiga / Periodeperangsipildanperangkecil-kecilan yang berakhirtahun 1291.
JatuhnyaSyiriaketanganumat Islam menandakanbahwaperangsalibtelahberakhirkarenaSyiriaadalahdaerahterakhir orang Kristen.
Meskipun peperangan ini dimenangkan oleh umat Islam tetapi umat Islam mengalami kerugian yang sangat banyak, karena peperangan ini terjadi di wilayah umat Islam dan tentu dana yang dikeluarkan untuk peperangan yang panjang ini cukup menguras finansial pemerintah Abbasiyah.
b. SeranganBangsa Mongol
Di sampingumat Islam harusmenghadapitentaraSalib yang dimulaipadaakhirabadke 11, dipertengahanabadke 13 umat Islam harusmenghadapipasukanHulagu Khan yang ganasdaribangsa Mongol. Sebelumpasukan Mongol menyerangdinastiAbbasiyah, orang-orang dinastiAbbasiyahsendrisudahterbebaniolehmasalahmerekasendiri, terutamapersainganantaraetnisPersidanetnisTurki.Ketikakondisitersebutsudahmulaiberakhir, kekuasaandinastiAbbasiyahhanyatinggaldaerah Baghdad saja.SehinggabangsaMonggolmemanfaakankeadaantersebutuntukmelakukanseranganpadatahun 1258 M, yang dipimpinolehHulagu Khan.PasukanHulagu Khan merupakanpasukan yang tangguh, merekamenghancurkan Baghdad rata dengantanahdanmembunuh orang-orangnya.
KhalifahterakhirbaniAbbasiyah, al-Mu’tasimberusahauntukmengulurwaktupenyerahantetapihalitusia-siasaja.AkhirnyaHulagu Khan kehilangankesabaranyadanpenyerangankebaniAbbasiyah. Pasukan Mongol menyebrangisungai Tigris.Mereka merusak tanggul air sehingga airnya membanjiri perumahan penduduk. Pada saat itu, al-Mu’tasim menyuruh seseorang untuk menawarkan penyerahan. Tetapi Hulagu Khan meminta agar Mu’tasim datang sendiribe serta keluarganya dan orang-orang lainya. Ketika permintaan itu dipenuhi pasukan Hulagu Khan melakukan penyerangan terhadap al-Mu’tasim dan pengikutnya. Dalam pembantaian ini al-Mu’tasim beserta keluarganya dibunuh akhirnya berakhirlah pemerintahan dinasti Abbasiyah.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
KemundurandankehancuranDinastiAbbasiyahditandaidenganmasuknyadominasikekuatanluarkedalampusatpemerintahan Bagdad. Kemunduran dinasti Abbasiyah disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor internal meliputi faktor politik dan faktor ekonomi yaitu perang saudara antara al-amin dan al-ma’mun yang merebutkan jabatan sebagai khalifah mempengaruhi sistem politik dan perekonomian dinasti Abbasiyah. Adapun faktor eksternal adalah adanya perang salib dan serangan dari bangsa Mongol.
DaftarPustaka
Fuadi Imam, 2008, SejarahPeradaban Islam, Malang: UIN Malang Press.
Yatim Badri, 2008, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Pt. Raja Grafindo Persada.
Nurhakim Moh., 2012,Jatuhnya Sebuah Tamadun,Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar