Pengikut

Kamis, 16 Maret 2017

sejarah Dinasti Abbasiyah I

SEJARAH PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGAN DINASTI ABBASIYAH

MAKALAH
MATAKULIAH
SEJARAH PERADABAN ISLAM
Dosen
Prof. Dr. Imam Fuadi, M.Ag.

Oleh
Kelompok 4
Rachmad Prihandani (17204153026)
Ria Fatimatus Solikhah (17204153027)
Riska Maghfirotul Khusna (17204153028)
Siti Zulaika (17204153029)

JURUSAN TADRIS MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
TAHUN 2016



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Islam adalah agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan disebarkan di jazirah Arab yang diawali dengan sembunyi-sembunyi. Setelah pengikut agama Islam telah banyak dari keluarga terdekat Nabi dan sahabat, maka turun perintah Allah untuk menyebarkan Islam secara terang-terangan. Namun dalam penyebarnnya tidak berjalan dengan lancar, Rasulullah dalam menyebarkan Islam mendapatkan tantangan dari suku Quraisy. Islam disebarkan dan dipertahankan dengan harta dan jiwa oleh para penganutnya yang setia membela Islam meski harus dengan pertumpahan darah dalam peperangan.
Setelah Rasulullah wafat, kepemimpinan Islam dipegang oleh khulafaur rasyidin. Pada perkembangannya, Islam mengalami banyak kemajuan. Islam telah disebarkan secara meluas ke seluruh wilayah Arab. Pada masa khulafaur rasyidin, Al-Quran telah dibukukan dalam bentuk mushaf yang dikenal dengan mushaf ustmani.
Meskipun Islam telah berkembang, namun juga banyak mendapat tantangan dari luar dan dalam Islam sendiri. Seperti pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib banyak terjadi pemberontakan di daerah hingga peperangan. Salah satu perang dimasa Ali bin Abi Thalib yang menghasilkan arbitrase, sehingga Muawiyah menggantikan posisi Ali bin Abi Thalib. Dampak yang ditimbulkan dari arbitrase ini adalah pengikut dari Ali bin Abi Thalib ingin membunuh Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah karena dianggap telah kafir dan halal dibunuh. Dalam rencana pembunuhan ini, hanya Ali bin Abi Thalib yang berhasil dibunuh.
Setelah kematian Ali bin Abi Thalib, maka berakhirlah masa khulafaur rasyidin dan berganti dengan pemerintahan Dinasti Umayyah dibawah pimpinan Muawiyah bin Abi Sofwan. Pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah, Islam semakin berkembang dengan segala aspek hingga perluasan daerah kekuasaan.
Setelah pemerintahan Dinasti Umayyah, digantikan oleh pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti kedua dalam sejarah pemerintahan umat Islam. Abbasiyah dinisbatkan kepada al-Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Berdirinya dinasti ini sebagai bentuk dukungan terhadap pandangan yang diserukan oleh Bani Hasyim setelah wafatnya Rasulullah SAW yaitu menyandarkan khilafah kepada keluarga Rasul dan kerabatnya.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah pembentukan Abbasiyah ?
2. Bagaimana periode pemerintahan Dinasti Abbasiyah ?
3. Bagaimana profil kholifah Dinasti Abbasiyah ?
4. Bagaimana model pemerintahan Dinasti Abbasiyah ?
5. Bagaimana keadaan dinamika politik Dinasti Abbasiyah?
6. Bagaimana keadaan dinamika intelektual Dinasti Abbasiyah ?
7. Bagaimana keadaan di bidang administrasi zaman Dinasti Abbasiyah?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui sejarah pembentukan Abbasiyah.
2. Mengetahui periode pemerintahan Dinasti Abbasiyah.
3. Mengetahui profil kholifah Dinasti Abbasiyah.
4. Mengetahui model pemerintahan Dinasti Abbasiyah.
5. Mengetahui keadaan dinamika politik Dinasti Abbasiyah.
6. Mengetahui keadaan dinamika intelektual Dinasti Abbasiyah.
7. Mengetahui keadaan di bidang administrasi zaman Dinasti Abbasiyah.

BAB II
PEMBAHASAN

Dinasti Abbasiyah yang memerintah setelah dinasti Umayyah adalah dinasti terlama dalam sejarah peradaban islam sekitar lebih dari 5 abad juga dinasti yang mengantarkan Islam pada masa Golden Agenya. Namun demikian, tidaklah dapat dipungkiri bahwa pemerintahan Abbasiyah merupakan pemerintahan yang kompleks sekompleks permasalahan politik yang melandanya. Permasalahan poitik yang dimaksud adalah terjadinya kudeta, pemberontakan bahkan pembentukan dinasti-dinasti baru. Awalnya, Abbasiyah merupakan pemimpin tunggal di daerah Asia, sedangkan di Eropa di bawah kepemimpinan Umayyah- Andalus, dan Mesir di bawah kepemimpinan Fatimiyah. Pembahasan ini mencoba untuk memahami perkembangan Islam masa dinasti Abbasiyah. 
A. Sejarah Pembentukan Abbasiyah
Berdirinya Dinasti Abbasiyah tidak biasa dilepaskan dari munculnya berbagai masalah di periode-periode terakhir dinasti Umayyah. Ketidakpuasan disana-sini yang ditampakkan lewat berbagai macam pemberontakan jelas menjadi pekerjaan rumah yang cukup serius bagi kelangsungan hidup dinasti Umayyah, yang kemudian momentum yang tepat untuk menjatuhkan dinasti abbasiyah yang dimotori oleh Abu-alAbbas al-Safah. 
Meskipun dalam perjalanan dinasti Umayyah banyak menorehkan prestasi  bagus terutama dalam kaitannya dengan perluasan wilayah, tetapi sesungguhnya sejak awal berdirinya dinasti ini, mulai dari khalifah pertama yaitu Mu’awiyah bin Abi Sofyan sampai khalifah terakhir, Marwan bin Muhammad Daulah Bani Umayyah terkadang berjalan atas landasan kekerasan, bahkan mempergunakan segala kesempatan, sekalipun kesempatan jahat untuk memperbesar kekuasaan. Menjelek-jelekan Ali bin Abi Thalib dalam tiap khutbah Jum’at adalah contoh yang nyata terjadi. 
Sebenarnya tidak semua khalifah dinasti ummayah di anggap jahat Umar ibn Abd al-Aziz misalnya adalah khalifah yang mendapatkan pujian karena kebaikan-kebaikan yang dilakukannya. Meskipun ia memerintah tidak terlalu lama tapi ia merupakan salah satu di antara lima khalifah dinasti Umayyah yang besar dan terkenal. Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintah antara tahun  99 H sampai 101 H. Dimasa itu kebenaran dan keadilan betul-betul ditegakkan.  Hak rakyat untuk menyatakan pendirian dijamin, asal tidak mengganggu ketentraman umum. Dimasa Umar ibn Abdil Aziz tidak ada celaan terhadap Ali dan keluarganya dalam materi khutbah Jum’at.
Berbeda dengan khalifah dinasti Umayyah yang lain, Umar adalah pribadi yang zuhud. Kezuhudan beliau semakin jelas ketika dia mendahulukan kepentingan umum dari kepentingan pribadi, bahkan sewaktu dilihatnya  isterinya Fatimah binti Abdul Malik memakai permata, diberinya dua alternatif, yaitu berikan permata itu kepada baitul mal atau bercerai dengannya. Isterinya memilih memberikannya kepada baitul mal. Karena hal itu lebih mulia bagi istri seorang Umar yang zuhud.  Karena itu, Bani Abbas tidak punya dendam dengannya. Buktinya, ketika kelak Bani Abbas naik panggung kekuasaan, kuburan khalifah-khalifah Bani Umayyah dibongkar, malah tulang-belulang mereka menjadi tempat melampiaskan balas dendam, namun pusara Umar bin Abdul Aziz tetep mereka pelihara dan hormati. Meskipun mereka memiliki kebencian terhadap umumnya para khalifah Umayah, tetapi itu tidak terjadi kepada Umar ibn abdul Aziz. 
Pada saat ketidakpuasan sudah terjadi dimana, kemudian kesempatan ini dipergunakan oleh Bani Abbas untuk melancarkan propaganda. Dalam pelaksanaan propaganda, nama Bani Abbas tidaklah ditonjolkan. Akan tetapi yang ereka angkat kepermukaan adalah Bani Hasyim. Hal ini mereka lakukan adalah untuk menjaga kekompakan antara Syi’ah pengikut Ali dengan Syi’ah pengikut Abbas. Sehingga mereka lebih menanamkan diri dengan gerakan keluarga Bani Hayim. Dengan cara itu pula menjadikan solidaritas lebih kuat, dan anggota-anggotanya lebih sanggup berjuang dan bersiap mati demi kepentingan bersama, dalam perjuangan keluarga Bani Hasyim. 
Adalah Muhammad bin Abdul Muthalib yang dianggap seorang propagandis yang aktif. Setelah menjadi pemimpin Bani Hasyim dia menetap di Huymaima, sebuah kota yang terletak di Yordan dan Arabia. Pada tahun 718 M, ia mengatur misi pertamanya ke provinsi-provinsi di Persia. Dia bekerja sangat hati-hati. Dengan diam-diam dan berbisik kepada orang-orang yang menjadi simpatisannya.  Penduduk daerah-daerah tersebut lebih simpati kepada Bani Hasyim dari  pada Bani Ummayah.
Di masa khalifah Hisyam bin Abdul Malik, sebenarnya Hisyam sudah mengetahuiya Muhammad, meskipun ia melakukan propagandanya dengan hati-hati. Karena diketahui itulah akhirnya Muhammad ibn Ali ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara. Walaupun dia menjalani interogasi dan siksaan yang berat, namun tidak sedikitpun rahasia organisasi yang dia buka. Sampai akhir hayatnya di dalam penjara, dia selalu konsisten dengan gerakan dan pendiriannya untuk tidak membuka rahasia besarnya. Tampaknya, jauh sebelum ia ditahan, beliau sudah berwasiat kepada putranya Ibrahim , yang kelak dipanggil dengan al-Imam agar melanjutkan perjuanganya bila kelak dia meninggal dunia. Di bwah kepemimpinan al-Imam, propaganda Abbasiyah lebih intensif dan mencapai kemajuan yang cukup signifikan. 
Tercatat dalam sejarah bahwa di zaman al-Imam terdapat kurang lebih 12 orang propagandis, mereka ini mendapatkan tugas untuk mengembara ke berbagai negeri di Khurasan, Kaufah, Irak, dan terus ke Mekah di musim haji. Mereka menjelaskan bagaimana kezaliman yang dilakukan oleh pemerintah Bani Ummayah kepda orang-orang yang dipengaruhinya tentang keturunan Bani Hayim yang telah dirampas hak mereka. Perlakuan lainnya yang diderita Bani Hasyim adalah bahwa mereka dianiaya, dikejar-kejar dan bahkan dibunuh oleh keluarga bani Umayyah. Para propagandis ini sangat efektif dalam melaksanakan tugasnya, sehingga banyak orang terpengaruh oleh propaganda yang digulirkannya.
Tempat yang ditetapkan sebagai pusat propaganda keompok Abbasiyah adalah Khurasan dan Kufah.  Dipilihnya dua tempat itu karena daerah tersebut termasuk daerah Persia, dan nampaknya ini sangat strategis, kekuasaan dan pemerintahan Bani Abbasiyah yang mereka impikan,, diharapkan dukungan dari Persia ,bukan dari golongan Arab yang merupakan tulang punngung kekuasaan Bani Umayyah . Faktor yang mendukung untuk itu adalah bahwa Khurasan dan Kufah memang banyak orang yang merasa kurang senang khalifah dipegang oleh selain Bani Hasyim.
Ketika al-Imam mengirim Abu Muslim untuk memimpin perjuangan di Khurasan pada tahun 743 M, Abu Muslim sukses melaksanakan tugasnya dan mendapat kepercayaan dari al-imam. Abu Muslim terkenal sebagai tokoh  penting dalam upaya penggulingan kekuasaan dinasti Umayah. Dia berusah memperkuat perjuangan dan juga menetapkan pakaian seragam hitam sebagai uniform resmi prajurit yang dipimpinnya.  Selain Abu muslim dan lagi Abu Salamah. Dua orang ini adalah dua tokoh berjasa untuk mempropaganda Bani Hasyim. Abu Salamah bertindak sebagai penghubung antara al-Imam sebagai pemimpin tertinggi yang berdomisili di Humaima dengan para pengikutnya di Khurasan yang telah dibina oleh Abu Muslim al-Khurasani. Perjuangan dan gerakan kelompok yang mengusung nama besar Bani Hasyim ini berhasil menciptakan kondisi anti Bani Umayyah dan menyusun kekuatan militer yang akan menentukan corak dan perjalanan sejarah dan betul-betul mengancam pemeritahan bani Umayyah.
Kesuksesan Abbasiyah meraih kursi kekhalifahan dikarenakan kepiawaian mereka dalam melihat situasi dan kondisi yang ada. Abbasiyah berhasil mengumpulkan pendukung dari berbagai kalangan yang mayoritas merasa “tersakiti” oleh kebijakan Ummayah baik bernuansa keagamaan –Syiah- atau dari kelompok mawalli yang merasa ditekan dengan adanya pungutan pajak.
Sedangkan tokoh yang berjasa dalam berdirinya dinasti Abbasiyah beserta perannya dapatlah dilihat di bawah ini: 
No Nama Peran
1. a. Abbas bin Abdullah
b. Abdullah bin Abbas
c. Ali bin Abdullah
d. Muhammad bin Ali Pemimpin jaringan oposisi pertama Abbasiyah terhadap Ummayah
2. Ali bin Abdullah Merekrut yang ditugaskan untuk menyebarluaskan gagasan Abbasiyah
3. Muhammad bin Ali Mencari bantuan untuk melancarkan propaganda anti Umayyah diantaranya dengan Abu Muslim al Khurasani
4. Abu Muslim al Khurasani /Abdurrahman bin Muslim Pemimpin pemberontakan anti Umayyah dari Khurasan
5. Ibrahim bin Muhammad Berhasil menggalang dukungan dari kelompok Syiah
6. Abu Abbas- sadara Ibrahim Berhasil menguasai kota Kufah dan dijadikan Khalifah Abbasiyah I (750-754)
7. Abu  Ja’far-saudara Ibrahim Membantu Abu Abbas dalam menguasai Kufah dan dijadikan khalifah Abbasiyah ke 2 (754-775)

Proses berdirinya Abbasiyah dengan tokoh-tokohnya diatas melalui beberapa tahapan perjuangan, yaitu :
1. Adanya gerakan rahasia (100-129/718-746 M) tau identik gerakan bawah tanah. Gerakan ini dimaksutkan untuk menebarkan dan membentuk opini publik tentang keburukan pemerintahan Umayyah.
2. Adanya gerakan terang-terangan yaitu dengan ditakhlukannya Khurasan dan Irak. Gerakan ini dibawah komando Abu Muslim Al Khurasani. 

B. Periodesasi Pemerintahan Dinasti Abbasiyah
Kompleksitas dan kebesaran pemerintahan Abbasiyah menjadikan beberapa sejarawan mengadakan periodesasi pemerintahannya berdasarkan ciri, pola perubahan struktur pemerintahan dan struktur sosial politik maupun tahap perkembangan peradaban yang dicapai. Periodesasi tersebut dapat dilihat jelas berikut ini:
No. Ensiklopedi Tematis Ahmad Usairy Badri Yatim
1. Periode awal 
(750-847) Periode Pertama, sejak tahun (132-247 H/749-861 M) Periode Pengaruh Persia Pertama
2. Periode lanjutan
(845-945) Periode II, mulai tahun 247-656 H/861-1258 M) Pengaruh Turki pertama
3. Periode Buwaihi
(945-1055) Pengaruh Persia Kedua
4. Periode Seljuk 
(1055-1258) Pengaruh Turki Kedua
Bebas dari dinasti lain 

Pada dasarnya tidak ada perbedaan mendasar dalam pembagian tahapan pemerintahan Abbasiyah di atas, namun hanya didasarkan pada perbedaan sudut pandang yang dipakai. Periodesasi di atas menggambarkan situasi politik Abbasiyah, dimana terdapat 2 unsur luar yang mempengaruhinya, yaitu Persia dan Turki. Keduanya mendominasi kekuasaan masa Abbasiyah.

C. Profil Kholifah Dinasti Abbasiyah
Khalifah yang memerintah masa Dinasti Abbasiyah ada 37 Khalifah. Adapun gambaran khalifah-khalifah tersebut dapat dilihat berikut ini :
No Nama Mulai Berakhir Lama Umur Periode
1 Abu Abbas al-Saffah 132 H/750 M 136H/754M 4th 33th

Periode 1

2 Abu  Ja’far al-Mansur 136 H/754 M 158H/775M 22th 63th
3 Mahdi bin al-Mansur 158 H/775 M 169H/785M 10th 43th
4 Hadi bin Mahdi 169 H/785 M 170H/786M 1th 3bln 62th
5 Haun al-Rasyid 170 H/786 M 193H/809M 23th 2bln 47th
6 Al-Amin 193 H/809 M 198H/813M 4th 8bln 28th
7 Al-Ma’mun 198 H/809 M 218H/833M 20th 48th
8 Al-Mu’tashim 218 H/733 M 227H/842M 8th 8bln 38th
9 Al-Wasiq 227 H/842 M 232H/847M 5th 9bln 32th
10 Mutawakkil 232 H/647 M 247H/861M 14th 9bln

Periode II 

11 Al-Muntashir 247 H/861 M 248H/862M 6bln
12 Al-Musta’in 248 H/862 M 252H/866M 3th 9bln
13 Al-Mu’tazz 252 H/866 M 255H/868M 24th
14 Muhtadie bin al-Watsiq 255 H/868 M 256H/869M 38th
15 Mu’tamid bin Mutawakkil 256 H/869 M 279H/892M 50th
16 Mu’tahdid bin al-Muwaffaq 279 H/892 M 289H/902M 47th
17 Muktafie bin Mu’tahdid 289 H/902 M 295H/908M 33th
18 Muqtadir bin Mu’tahdid 295 H/908 M 320H/932M 38th
19 Al-Qahir bin Mu’tahdid 320 H/932 M 322H/934M 35th
20 Ar-Radhie bin Muqtadir 322 H/934 M 329H/940M 32th
21 Al-Muttaqie bin Muqtadir 329 H/940 M 333H/944M 60th
22 Mustakhfie bin Muktafie 333 H/944 M 334H/945M 42th
23 Al-Mu’thie bin Muqtadir 334 H/945 M 363H/973M
Periode Buwaihiyah/ Persi Ke 2

24 At-Tai bin Al-Muthie 363 H/973 M 381H/991M 76th
25 Al-Qadir bin Ishaq 381 H/991 M 422H/1031M 86th
26 Al-Qaim bin Al-Qadir 422 H/1031 M 467H/1074M 76th
27 Muaqtadie bin Muhammad 467 H/1074M 487H/1094M 38th

Periode Saljuqiyah / Turki Ke 2

28 Mustadzar bin Muqtadie 487 H/1094 512H/1118M 41th
29 Mustarsyid bin Mustazhir 512 H/1118 M 529H/1134M 43th
30 Al-Muqtafie bin Mustadhir 529 H/1134M 530H/1135M 40th
31 Al-Rasyid bin Mustarsyid 530 H/1135 M 555H/1160M 66th
32 Al-Muqtafie bin Mustadhir 555 H/1160 M 566H/1170M 48th
33 Mustadhie bin Mustanjid 556 H/1170 M 575H/1179M 39th
34 Al-Nashrir bin Mustahdie 575 H/1179 M 622H/1225M 46th 11bln 70th
35 Al Zahir bin I Nashir 622 H/1225 M 623H/1226M 53th
36 Mustanshir bin al-Zahir 623 H /1226 M 641H/1243M 52th
37 Muta’shim bin Mustanshir 641H/1243 M 656H/1257M 50th

Diantara ke 37 khalifah Abbasiyah di atas, khlifah 10 pertamalah (mulai Abu Abbas -  al-Mutawakkil) yang dianggap berjasa dalam meletakkan pondasi pemerintahan Abbasiyah.  Tapi ada juga yang mengatakan bahwa khalifah yang paling berjasa adalah pada periode al-Mahdi sampai al-Watsiq.  Peran khalifah tersebut dapatlah dilihat secara jelas berikut ini :
No Nama Peran/Kontribusi
1 As-Saffah 
(750-754) a. Berhasil mengkondisikan dinasti Abbasiyah
b. Menstabilkan situasi politik masa awal dari Bani Umayyah dan aliran Syiah
2 Al-Manshur
(754-775) a. Pendiri dan pembangunan dinasti Abbasiyah
b. Memadamkan pemberontakan yang terjadi di dalam negeri yang dipimpin oleh Abdullah bin Ali, Abu Muslim al-Khurasani, sekte Rawandiyah, gol, Syiah, pemberontakan Sunbad, Pemberontakan kota Baghdad
c. Membangun kota Baghdaad
d. Menciptakan tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai koordinator pemerintaha dari persia keluarga Barmak
e. Memperbaiki dan meningkatkan struktur pemerintahan, seperti adanya protokol negara dan lainnya. 
3 Al-Mahdi
(775-785) a. Meningkatkan sektor ekonomi terutama dalam bidang pertanian dan hasil tambang dan menjadikan pelabuhan, 
b. Basrah sebagai pelabuhan transit perdagangan Timur dan Barat 
c. Menghentikan perpecahan antara Abbasiyah dan Alaiyah da menggalang kesatuan  keturunan ahl bait denan cara memberikan perhatian kesejahteraan ahl bait
4 Al-Hadi 
(785-786) Berhasil memadamkan peberontakan yang dilakukan Husein bin Ali Ibnul dan Yahya Bin Abdullah 
5 Harun ar
Rasyid
(786-809) Terjaminnya kesejahteraan sosial, meningkatnya ilmu pengetahuan dan pendidikan
6 Al-Ma’mun
(813-833) Maraknya penerjemahan-penerjemahan buku mendirikannya Bayt al-Hikmah memaksakan aliran iktizal
7 Al-Mu’tasim
(833-842) Menguatkan kekuatan militer Abbasiyah dengan memperkerjakan orang Turki sebagai tentara pengawal sehingga terkenal sebagai stabilisator Abbasiyah
Kontribusi para Khalifah di atas ditekankan pada kemampuan para khalifah dalam mempertahankan keutuhan kekuasaan dengan banyaknya pemberontakan yang berhasil dipadamkan di samping kontribusi mereka di bidang lainnya.
Adapun khalifah lainnya memerintah di saat Abbasiyah mulai mengalami kemunduran yang bisa dilihat dari ciri-ciri pemerintahan Abbasiyah (pasa periode ke 2), yaitu:
1. Lemahnya para khalifah dan dominasi kalangan militer terhadap pusat kekuasaan
2. Munculnya negeri-negeri kecil akibat banyaknya pemimpin yang memisahkan diri dari pusat kekuasaan dan pengakuan khalifah terhadap kekuasaan mereka.
3. Munculnya peradaban islam massa lalu di masa ini dalam bentuk ilmu pengetahuan, pembangunan, kemewahan dan foya-foya.
4. Munculnya gerakan yang menamakan diri sebagai bani Hasyim serta gerakan kebatinan.
5. Serangan pasukan Salib ke wilayah kaum muslim
6. Serangan pasukan mongol dan dihancurkannya pemerintahan Abbasiyah an jatuhnya Baghdad pasa tahun 656H/1258M 
Bila ditelaah lebih lanjut ke-6 ciri di atas dapat dijadikan faktor penyebab kemunduran Abbasiyah yang meliputi 6 faktor internal dan eksternal.
D. Model Pemerintahan Dinasti Abbasiyah
Model pemerintahan yang diterapkan oleh Abbasiyah bisa dikatakan asimilasi dari berbagai unsur Ini terlihat jelas dari adanya periodesasi atau tahapan pemerintahan Abbasiyah. Namun demikian, kiranya perlu juga diketahui perbedaan ataupun persaaan dengan dinasti sebelumnya :
Abbasiyah Umayyah
Persamaan Menerapkan sisttem warisan pada proses pemilihan khalifah
Perbedaan 1.      Adanya unsur non Arab dalam sistem pemerintahannya adanya pengaruh Pensi dan Turki 1.      Adanya dominan unsur Arab
2.      Makin komplitnya struktur pemerintahan 2.      Sangat terbatas karena lebih fokus pada upaya ekspansi
3.      Profesionalisme tentara mulai tertata 3.      Belum tertata secara profesional dalam bidang ketentaraan ini 

Pada pembahaasan di atas dikatakan bahwa Abbasiyah mengalami beberapa periode yang masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri :
1. Periode Awal atau periode Pengaruh Persia Pertama (750-847)
Ada 10 khalifah yang memerintah pada masa ini, yaitu :
No Nama Mulai Berakhir Lama Unsur Periode
1 Abu Abbas Al-Saffah 132H/750M 132H/754M 4th 33th Periode I
2 Abu Ja’far al-Manshur 136H/754M 158H/775M 22th 63th
3 Mahdi bin al-Manshur 158H/775M 169H/785M 10th 43th
4 Hadi bin Mahdi 169H/785M 170H/786M 1th 3bln 62th
5 Harun al-Rasyid 170H/786M 193H/809M 23th 2bln 47th
6 Al-Amin 193H/809M 198H/813M 4th 8bln 28th
7 Al-Ma’mun 198H/813M 218H/833M 20th 48th
8 Ibrahim 817
9 Al-Mu’tashim 218H/833M 227H/842M 8th 8bln 38th
10 Al-Wasiq 227H/842M 232H/847M 5th 9bln 32th

Telah dikatakan pada awal pembahasan bahwa salah satu ciri pemerintahan Abbasiyah adalah bahwa salah satu ciri pemerintahan Abbasiyah adalah adanya unsur non Arab yang mempengaruhi pemerintahannya seperti Persia dan Turki. Pada awal pemerintahannya Abbasiyah lebih cenderung seperti pemerintahan Persia simana raja mempunyai kekuasaan absolut yang mendapat dari Tuhan.  Masa inilah yang mengantarkan Abbasiyah pada puncak kejayaannya.

2. Periode Lanjutan atau Turki Pertama (847-945)
Ada 13 khalifah yang memerintah pada masa ini, yaitu :
No Nama Mulai Berakhir Lama Umur
1 Mutawakkil 232H/847M 247H/861M 14th 9bln 40th
2 Al-Muntashir 247H/861M 248H/862M 6bln 26th
3 Al-Musta’in 248H/862M 252H/866M 3th 9bln 3th
4 Al-Mu’tazz 252H/866M 255H/868M 3th 9bln 24th
5 Muhtadie bin Al Watsiq 255H/868M 256H/869M 11bln 28th
6 Mu’tamid bin Mutawakkil 356H/869M 279H/892M 23th 6bln 50th
7 Mu’tahdid bin al-Muwaffaq 279H/892M 289H/902M 9th 9bln 47th
8 Muktafie bin Mu’tahdid 289H/902M 295H/908M 6th 9bln 33th
9 Muqtadir bin Mu’tahdid 295H/908M 320H/932M 25th 38th
10 Al-Qahir bin Mu’tahdid 320H/932M 322H/934M 1th 5 bln 35th
11 Ar-Radhie bin Muqtadir 322H/934M 329H/940M 6th 32th
12 Al-Muttaqie bin Muqtadir 329H/940M 333H/944M 4th 60th
13 Mustakfie bin Muktafie 333H/944M 334H/945M 1th 4bln 42th

Masa ini ditandai dengan kebangkitan orang Turki salah satu cirinya adalah orang Turki memegang jabatan penting dalam pemerintahan terbukti dengan dibangunnya kota Samara oleh al-Mu’tasim. Sepeninggal al-Mutawakkil, para Jenderal Turki berhasil mengontrol pemerintahan, sehinggan khalifah hanya dijadikan sebagai “boneka” atau simbol seperti khalifah al-Muntanshir, al-Mustain, al-Mu’tazz, al-Muhatadi.

3. Periode Buwaihiyah atau Pengaruh Persia Kedua (945-1055)
Adapun khalifah yang memerintah masa ini, yaitu :
No Nama Mulai Berakhir Lama Umur
1 Al-Muktafie 944 945
2 Al-Mu’thie bin Muqtadir 334H/945M 363H/973M 29th 5bln 63th
3 At-Tai bin Al Muthie 363H/973M 381H/991M 117th bln 76th
4 Al-Qadir bin Ishaq 381H/991M 422H/1031M 41th 1bln 86th
5 Al-Qaim bin Al-Qadir 422H/1031M 467H/1074M 44th 9bln 76th
 
Masa ini berjalan lebih dari 150 tahun, namun secara defacto kekuasan khalifah dilucuti dan bermunculan dinasti-dinasti baru. Kemunculan dinasti Buwaihiyah ini, pada awalnya untuk menyelamatkan keselamatan khalifah yang telah jatuh sepenuhnya di bawah kekuasaan para pengawal yang berasal dari Turki. Dominasi bani Buwaihiyah berasal dari diangkatnya Ahmad bin Buwaihi oleh al-Muktafie sebagai jasa mereka dalam menyingkirkan pengawal-pengawa Turki. Pengangkatan ini merupakan senjata makan tuan, dimana Ahmad bin Buwaihi yang diangkat sebagai amir ‘umara’ dengan gelar muiz ad daulah menurunkan khalifah Muktafie. Dominasi bani Buwaihiyah dapat dipahami dari pertanyaan di  bawah ini:
...”Pada mulanya mereka berkhidmat kepada pembesar-pembesar dari para khulafa’, sehingga banyak dari mereka yang menjadi Panglima tentara di antaranya menjabat Panglima Besar. Kemudian setelah kedudukan mereka kuat, para Khalifah Abbasiyah di bawah telunjuk kekuasaan mereka dan seluruh pemerintahan di tangan mereka. Khalifah Abbasiyah hanya tinggal nama belaka, hanya disebut dalam do’a-do’a di atas mimbar, bertandatangan di dalam peraturan dan pengumuman resmi dan sekedar nama mereka ditulis di atas mata uang.... 
Dengan kata lain, bani Buwaihiyah mengangkat khalifah dengan memakai nama  “atas pilihan rakyat” namun setelah upacara pelantikan, khalifah diminta tinggal di istana dan dilarang berhubungan dengan siapapun. Kondisi ini merupakan kondisi yang paling buruk seperti yang dikatakan Sir William Muir dalam The Caliphate.
Adapun penguasa “sebenarnya” di Baghdad yang berasal dari bani Buwaihiyah adalah:
No Nama Tahun Berkuasa Lamanya
1 Muizzud Daulah 942-967M 22th
2 Izzud Daulah Bakthiar 967-977M 11th
3 Adhudud Daulah 977-982 5th
4 Syafarafud Daulah 982-989M 7th
5 Bahaud Daulah 989-1012 25th
6 Sulthanud Daulah 1012-1020 7th
7 Musyrifud Daulah 1020-1025 5th
8 Jalaud Daulah 1025-1043 19th
9 Imadhud Daulah 1043-1048 5th
10 Abu Nashar Malik Ar-Rahim 1048-1055 7th

Masa Bani Buwaihiyah ini, Abbasiyah menghadapi 2 polemik besar, yaitu :
a. Adanya pemerintah tandingan, yaitu berdirinya Fatimah (967-1171), Dinasti Samaniah di Khurasan (847-1055), dinasti Hamdiyah di Suriah (924-1003), dinasti Umayyyah di Spanyol (756-1187), dinasti Ghaznawiyah di Afganistan (962-1187)
b. Adanya perang ideologi antara Syi’ah dan Sunni
Sebenarnya, Buwaihiyah merupakan dinasti yang beraliran Syiah, sehingga sejak awal pemerintahannya mereka memaksakan upacara-upacara syiah seperti upacara kematian Husain cucu Rasulullah harus diperingati, jika tidak mau maka akan dihukum atau disiksa. Namun pemaksaan tersebut tidak berjalan lama karena harus berhadapan dengan masyarakat Sunni ditambah dengan adanya manifesti Baghdad yang secara langsung menghentikan propaganda Buwaihiyah atas syiah di baghdad.

4. Periode Dinasti Saljukiyah atau Pengaruh Turki kedua (1054-1157M)
Massa ini berawal ketika Seljuk mengontrol kekuasaan Abbasiyah dengan mengalahkan Bani Buwaihiyah dan berakhir dengan adanya serbuan Mongol. Kekuasaan Seljuk berawal ketika penduduk Baghda marah atas tindakan Jenderal Arselan Basasieri yang memaksa rakyat Baghdad untuk menganut Syiah dengan cara menahan khalifah al-Qaim dan menghapuskan nama-nama khalifah Abbasiyah diganti dengan nama khalifah Fatimiah. Kondisi ini tidak berlangsung dengan dikalahkannya Arselan Basaseri oleh Tughrul Bey yang pernah menjadi tentara bayaran Abbasiyah. Tughrul Bey berhasil mendudukkan khalifah al-Qaim pada jabatannya sebagai khalifah. Atas jasanya ini, khalifah Al-Qaim menobatkannya sebagai penguasa yang sah dan resmi dengan gelar kehormatan Sulthan wa Malik as-Syirqi wa Maghrib dan juga mengwinkannya dengan putri khalifah al-Qaim.
Adapun khalifah yang mmerintah masa pengaruh Turki Kedua ini adalah :
No. Nama Mulai Berakhir Lama Umur
1 Muqtadie bin Muhammad 467H/1074M 487H/1094M 19th 8bln 38th
2 Mustadzar bin Muqtadie 487H/1094M 512H/1118M 25th 41th
3 Mustarsyid bin Mustazhir 512H/1118M 529H/1134M 17th 7bln 43th
4 Al-Muqtadie bin Mustadhir 529H/1134M 530H/1135M 11bln 40th
5 Al-Rasyid bin Mustarsyid 530H/1135M 555H/1160M 24th 66th
6 Al-Muqtafie bin Mustadhir 555H/1160M 566H/1170M 11th 48th
7 Mustadhie bin Mustanjid 556H/1170M 575H/1179M 9th 39th
8 Al-Nashir bin Mustahdie 575H/1179M 622H/1225M 46th 11bln 70th
9 Al-Zahir bin I Nashir 622H/1225M 623H/1226M 9bln 53th
10 Mustanshir bin al-Zahir 623H/1226M 641H/1243M 18th 52th
11 Muta’shim bin Mustanshir 641H/1243M 656H/1257M 16th 50th
 
Khalifah-khalifah di atas hanya mempunyai wewenang dalam bidang keagamaan saja, sedangkan bidang lainnya di bawah dominasi Turki dengan penguasa berikut ini:
No Nama           Tahun Berkuasa    Lamanya                  Uraian
1. Thugrul Bey 1058-1063M                5th                    Memulihkan stabilitas politik setelah                                                                            perebutan kekuasaan dengan Jenderal Arselkan Basaseiri
2. Alp Arselan 1063-1072M           10th Saudara Tughrul Bey dan terkenal bijaksana serta                         mempunyai perdana menteri Nidzamul Mulk yang mendirikan Universitas Nidzamiyah
3. Maliksyah 1072-1092M 20th                    Putra Alp Arsela dengan perdana menteri                                              Nidzamul Mulk kekuasaannya meliputi Arabia, Persi, Afghanistan dan seluruh India
4. Barkiyaruq 1092-1117M           26th Putra tertua Maliksyah dari istri yang lain dan terjadi bentrokan dengan ibu tirinya Khatun Turkeman tentang pengganti Maliksyah dan saudaranya Mahmud
5. Mahmud bin Muhammad 1117-1119M 2th Keponakan Barkiyatuq, anak dari Muhammad saudara Barkiyatuq terjadi perebutan antara Tajul Mulk dan Muhammad paman Sultan Mahmud
6. Sanggar 1119-1131M                      13th             Penguasa dari Isfahan
7. Thugrul II 1131-1134M                 3th
8. Mas’ud bin Muhammad 1134-1154M 23th
                                    Total                        102th

Langgengnya Saljuk masa Abbasiyah disebabkan beberapa faktor, yaitu:
a. Adanya visi pada diri penguasa Saljuk seperti Alop Arselan dan maliksyah
b. Adanya kesatuan kokoh antar keluarga Saljuk, yaitu :Saljuk Persi yang berkuasa di Baghdad, Saljuk Karman, Saljuk Syria, Saljuk Iraq, Saljuk Rum.
c. Faham umum Saljuk yang sama dengan faham umum rakyat yaitu Sunni
Adapun bencana terbesar bani Saljuk adalah adanya gerakan Batiniah Ismailiyah yang berasal dari Syiah Fatimiah di bawah pimpinan Hasan bin Shabbah. Berkuasanya bani Saljuk secara utuh hanya sampai pada tahun 1154, masa sesudahnya kekhalifahan Abbasiyah sebenarnya bebas dari pengaruh manapun namun secara perlahan namun pasti menuju kehancuran.

5. Bebas dari Pengaruh Lain (1157-1258)
Setelah berakhirnya Masud bin Muhammad yang menghabisi kekuasaan Saljuk maka Kekhalifahan Abbasiyah dikacau lagi dengan adanya kaum Khuarzamsyah dari Turki yang dulunya menjadi pembantu Saljuk yang kemudian menamakan diri dengan abateg (Bapak raja/Amir). Berkuasanya kau Khuarzamsyah di bawah kepemimpinan Sultan Alaudin Takash memaksa khalifah Nashir (Khalifah ke-34) untuk mencari dukungan dari luar, dari bangsa Tar-tar Mongol untuk menghancurkan lawan politiknya dan inilah yang menjadi kaesalahan terbesar Abbasiyah, karena disaming menghancurkkan Khurzamsyah Bangsa Tartar juga memusnahkan Baghdad san kota islam lainnya sehingga sampai masa Hulagu khan cucu Jengis Khan Abbasiyah sudah habis riwayat.

E. Dinamika Politik Dinasti Abbasiyah
Perjalanan dinasti Abbasiyah sejak awal terjadi banyak intrik politik yang didominasi oleh konflik internal yang kemudian dipertajam dengan adanya serangan dari luar di akhir-akhir kekhilafan dinasti Abbasiyah. Konflik-konflik tersebut secara tidak langsung menyebabkan situasi politik seperti bara api yang makin lama makin memanas baik berupa upaya kudeta, perpecaan provinsi, dan dinasti yang memberontak mulai bermunculan. Adapun intrik politik internal dapat dilihat di bawah ini:
No Masa                                                     Intrik Politik 
1 Al-Mansur Pemberontakan Abudullah bin Ali disebabkankeinginannya menjadi khalifah
                                Pemberontakan Syiah yang merasa terkecoh dengan propganda Abbasiyah
                                Timbulnya kelmpok-kelompok keagamaan yang berkembang manjadi kelompok                                           politik seperti Fatimiyah
2 Al Mahdi Munculnya gerazan Zindiq dan kaum Khawarij yang mendirikan pemerintahan                                              Rustamiyah di Aljazair
3 Al-Hadi         Adanya pemberontakan Husein bin Ali
4 Harun ar-Rasyid Pemberontakan Yahya bin Abdullah
                                        Pemberontakan Walid bin Tharif-tokoh kwarij
                                        Pemberontakan kaum Zindiq
                                    Terjadinya Tragedi Baramikah (terbunuhnya keluarga Baramikah (terbunuhnya keluarga Barmak-persik)
                                        Pemberontakan di Kuhurasan dipimpin Rafi’ bin Laits
5 Al-Makmun         Pemberontakan al-Khuramiyah salah satu madzab kaum Zindiq
                                       Tersebarnya paham Muktazilah bahwa al Qur’an adalah makhluk

Dari bebrapa intrik politik yang mewarnai pemerintahan para Khalifah di atas, disebabkan oleh : 
1. Perebutan kekuasaan antar golongan
2. Munculnya gerakan keagamaan seperti zindiq, khawarij dan syi’ah
Secara global dinamika politik masa Abbasiyah adalah sebagai berikut:
No. Tahun                                                        Uraian
1. 750-847                                        1. Kemunculan Umayyah- Spanyol tahun 756
                                                               2. Dinasti Idrisah (789-926 M)
                                                               3. Dinasti Rustamiah (777-909M)
                                                               4. Dinasti Aghlabid (800-909M)
2. 847-945                                        1. Munculnya Dinasti Saffariah (861-1003M)
                                                               2. Munculnya Dinasti Tahiri (810-873M)
                                                               3. Dinasti Samaniah (874-1005M)
                                                               4. Dinasti Tuluniah (904M)
                                                               5. Dinasti Hamdani (924-991M)
3. 945-1055                                        1. Dinasti Buwaihiyah 
                                                               2. Dinasti Ikhsyid (939-968M)
                                                               3. Dinasti Ghaznawiyah (977-1186M)
4. 1055-1258                                1. Dinasti Fatimah (909-1160M)
                                                               2. Kemunculan Diasti Seljuk
                                                               3. Dinasti Ayubiad (1174-1252M)
                                                               4. Dinasti Mamluk (1250-1147M)
                                                               5. Dinasti Murabithun (1056-1147M)
                                                               6. Dinasti Muwahhidun (1121-1269M)

Dengan gambaran diatas maka dapatlah diketahui betapa kompleksnya kondisi politik Abbasiyah. Di satu sisi, keragaman kekuasaan yang ada menggambarkna adanya kedinamisan intelektual ataupun peradaban yang ada, namun disisi lain menggambarkan perpecahan umat islam dari sisi kesatuan kekuasaan.

F. Dinamika Intelektual Dinasti Abbasiyah
Perkembangan intelektual masa Abbasiyah terlihat jelas dengan terbentuknya jaringan keilmuan yang kuat terutama yang berhubungan dengan 2 sumber agama, Al-Qur’an dan Hadist, dan semuanya itu juga tidak luput dari adanya gesekan dengan peradaban lainnya seperti Yunani, India, dan Mesir. Dinamika intelektual setidaknya dapat dipahami dari periodesasi pemerintahan Abbasiyah sehingga akan terlihat jelas kontinuitas keintelektualannya. Sehingga meskipun intensitas politiknya sangat tinggi, namun kajian-kajian ilmiah tetap stabil.
Periode ke 3, yaitu masa Buwaihiyah misalnya banyak tokoh-tokoh inelektual yang bermunculan,  yaitu :
No Bidang                              Tokoh                                              Keterangan
1. Arsitektur                                                     Adanya rumah sakit Adhudud Daulah
2 Filsafat                     Al-Farabi
3 Kedokteran            Ibnu Sina/Avicena
                                           Ikhwanus Shafa’
                                  Muhammad bin Zakaria ar-Razi
                                       Ali bin Abbas al Majusi
                                                                                              Lembaga Kesayangan bani Buwaihiyah
                                                                                                            Dokter pribadi Adhudud Daulah
4 Matematika              Al-Khawarizmi
5 Sastra                a. Muntanabii
                                       b. Abu a’la al Maariy (973-1057)
                                       c. Shabi (925-994)
                                       d. Shahib Ibnu Ubbad (938-955M)
                                       e. Badi’z Zaman (969-1007M)
                                       f. Ibnul Amied(948-977M)
6 Hukum dan Politik        Imam Mawardi             Penulis al-Ahkan al-Sulthaniyyah

Sedangkan dinamika intelektual lainnya dapat dilihat dibawah ini :
No. Keilmuan                                   Tokoh dan Kitab
1 Tafsir                              a. Al-Tabari –kitab al-Jami’ al-Bayan
                                                     b. Az-Zamakhasari Al-Khasyaf
                                                     c. Fakhruddin ar-Razi-Mafatih al-Ghaib
2 Hadist                              a. Bukhari (masa Mutawakkil)
                                                     b. Muslim
3 Sastra dan sejarah              a. Muhammad ibn ishaq-Sirah
                                                     b. Ibn Hisayam-Sirah Ibn Hisyam
                                                     c. Ibn sa’ad-Tabaqat al-Kubra
                                                     d. Abu Raihan al-Biruni-Tahqiq ma Lil Hind
4 Tasawuf                              a. Munculnya Al-Qusyairi (1072-Risalah al Qusyairiyah)
                                                     b. Al-Ghazali (1108)-Ihya Ulumuddin
                                                     c. Syahabudin )1234)-Awarif al-Maarif 
                                                     d. Dzun Nun al-Misri (Mutawakkil)
5 Fiqh                                      a. Abu Hanifah (699-767)
                                                     b. Malik bin Anas (715-795)
                                                     c. Syafi’i (820)
                                                     d. Ahmad bin Hambali (855)
6 Filsafat                              a. Al-Kindi (masa mutawakkil)
                                                     b. Abu Bakar ar-Razi (864-926)
                                                     c. Al-farabi (870-950)
                                                     d. Ibn Sina (980-1037)
7 Sains                              a. Al-kwariizmi (Masa mutawakkil)-ahli matematika
                                                     b. Al-Fazari, ahli astronomi
                                                     c. Al-Haytami-ahli optik
8 Teologi                              a. Murjiah
                                                     b. Mu’tazilah
                                                     c. Khawarij
Adanya tokoh-tokoh intelektual dias secara tidak  langsung membuktikan adanya dinamika intelektual yang terjadi mas aitu yang sekaligus menjadi bukti kongkret adanya kemajuan islam yang identik dengam The Golden Age nya.
G. Administrasi Zaman Dinasti Abbasiyah
Meskipun pemerintahan dinasti Abbasiyah memberi perhatian yang tinggi di bidang ekonomi dan politik, wilayah administrasi Negara juga dilakukan penataan. Secara administratif   ada bidang-bidang yang semula sudah ada sejak masa bani umayah, tapi juga dilakukan upaya pengembangan dan penyempurnaan sehingga fungsi administratif agar pemerintahan dapat berjalan dengan baik.
Pembaharuan yang paling tampak secara administratif dari dinasti ini adalah berpindahnya ibu kota negara sebagai pusat kegiatan administrasi ke Baghdad. Disamping itu, di dalam penyelenggaraan administrasi negara pada masa ini telah pula dikenal adanya jabatan wazir yang membawahi kepala-kepala departemen. Jabatan ini ada yang menyebut sudah ada di zaman Umayah, tetapi juga ada yang menyebutnya belum ada. Wazir terbagi ke dalam dua bagian , pertama, wazir yang bertugas sebagai pembantu khalifah dan bekerja atas nama khalifah, dan yang kedua adalah yang diberi kuasa penuh untuk memimpin pemerintahan. Karena itulah khalifah cukup terbantu dengan kedudukan wazir-wazir ini. 
Selain itu dibentuk pula apa yang disebut dengan diwan al-kitabah, semacam sekretariat negara, yang dipimpin oleh seorang Rais al-kuttab, rais ini dibantu oleh beberapa sekretaris, diantaranya yang paling mahsyur adalah Katib al-Rasail, Katib al-Kharni, Katib al Jundi, Katib al-Syurthat dan Katib al-Qadha. Diwan al Kitabat ini sebetulnya sudah pernah ada pada masa pemerintahan Umayyah.
Pada masa dinasti Abbasiyah, terdapat juga semacam departemen, atau diwan. Departemen ini dipimpin oleh Rais al-diwan, seperti menteri, yang bertugas untuk membantu wazir dalam menjalankan pemerintahan. Departemen ini sudah jauh berkembang dari pada yang ada pada Umayah. Bila pada masa Umayah, departemen tersebut terpecah kepada empat atau lima bidang, maka pada masa dinasti Abbasiyah sudah terpecah kepada lebih dari tiga belas bidang. Terdapat pengembangan departemen yang cukup signifikan untuk menjalankan roda pemerintahan.
Kekuasaan dinasti Abbasiyah dibagi ke dalam beberapa propinsi atau disebut juga imarah, dan setiap imarah dipimpin oleh seorang gubernur. Hal ini bermaksudkan tentu untuk mempermudah jalannya pemerintahan di daerah-daerah. Propinsi-propinsi di zaman dinasti Abbasiyah :1. Kufah dan Sawwad, 2. Bashrah dan daerah-daerah Dajlah, Bahrein, Uman, 3. Hijaz dan Yamamah, 4. Yaman, 5. Ahwaz yang meliputi Khuzistan dan Cattan, 6. Parsi, 7. Khurasan, 8. Mosul, 9. Jazirah, Armania, Azerbaijan, 10. Suriah, 11 Mesir dan Afrika dan 12. Sind. Sehingga total wilayah keimarahan pada dinasti ini adalah dua belas propinsi.
Bila diperhatikan sesungguhnya penataan administrasi pada masa pemerintahan Abbasiyah mengalami perkembangan yang tinggi. Hal ini boleh jadi disebabkan pengaruh Persi yang masuk di dalam pemerintahan. Sebab Persi memang sejak awal terkenal ilmu administrasinya yang dianggap bagus. Dan dengan menjalankan kebijakan yang terbuka sangat mungkin pengaruh Persi menjadi terakomodir di system pemerintahan, ditambah lagi bahwa pusat pemerintahan Islam zaman bami Abbasiyah memang berada di jantung kekuasaan Persi, setelah Persi dikuasai oleh umat Islam.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dinamakan khilafah bani Abbasiyah karena para pendiri dan penguasanya adalah keturunan al Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti ini didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Abbas. Berdirinya Dinasti ini tidak terlepas dari keamburadulan Dinasti sebelumnya, dinasti Umaiyah.
Pada mulanya ibu kota negera adalah al-Hasyimiyah dekat kufah. Namun untuk lebih memantapkan dan menjaga setabilitas Negara al-Mansyur memindahkan ibu kota Negara ke Bagdad. Dengan demikian pusat pemerintahan dinasti Abasiyah berada di tengah-tengah bangsa Persia. Al-Mansyur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya. Dia mengangkat sejumlah personal untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif.
Puncak perkembangan dinasti Abbasiyah tidak seluruhnya berawal dari kreatifitas penguasa Bani Abbasiyah sendiri. Sebagian diantaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam.

B. Saran
Kita sebagai penerus agama islam harus mempelajari dan memahami sejarah peradaban islam ini kedalam segala bidang kehidupan. Semoga dengan adanya makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis maupun pembaca kami juga berharap semoga  sejarah yang ada saat ini dapat menjadi pedoman kita untuk membangun agama.  Kelompok kami menerima kritik dan saran kalian semua untuk bahan pertimbangan kami supaya lebih baik untuk kedepannya. Bila ada kurang lebihnya kami mohon maaf . 


DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Zainal Abidin. 1978. Ilmu Politik Islam IV Sejarah dan Umatnya. Jakarta: Bulan Bintang.
Amin, Ahmad. 1972. Dhuha al-Islam, Juz. I. Cairo: Maktabah al-Nudhah al-Misriyyah.
Hamka. 1981. Sejarah Umat Islam, Juz. II. Jakarta: Bulan Bandung.
Hasan, Hasan Ibrahim. 1991. Tarikh al-Islam, Juz. I Cairo: Artabah al-Nahdhah al-Misriyyah.
Khaldun, Ibnu. 1986. Maqaddimah Ibn Khaldun, terjemah Ahmadie Ocha. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Lewis, Barnard. 1988. The Arab In History, terjemah Drs. Said Unhuri. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.
Lubis, Nur Ahmad Fadhil. 2001. Dinasti Abbasiyah, dalam Ensiklopedia Tematis. Jakarta: PT Icli Baru Van Hoeve.
Lubis, Nur Ahmad Fadhil. 2002. Dinasti Abbasiyah, dalam Ensiklopedia Tematis. Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve.
Mahmud, Hasan A. dan A. Ibrahim Syarif. 1977. Al-Alamu al-Islami fi al’’Ashari al-Abbasi. Baeirut: Dar al-Fikir al-Arabi.
Tim Penyusun SKI Depag. SKI, Proyek Pembinaan IAIN Alaudin SKI
Usairy, Ahmad Al. 2002. Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX . Jakarta: Akbar.
Watt, W. Montogomery. 1990. The Majesty That Was Islam, terjemah Hartono Hadikusuma. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Yatim, Badri. 2011. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Rajawali Pers.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar