Pengikut

Jumat, 17 Maret 2017

makalah makna mahabbah

BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Dalam tasawuf telah dijelaskan macam-macam atau tingkatan maqam, dimana setiap maqam memiliki tingkatan kedekatan kepada Allah SWT sendiri-sendiri. Salah satu maqam yang sering terdengar adalah “mahabbah”, maqam ini sangat terkenal di dunia sufi namun tentunya bagi orang awam mahabbah terdengar asing. Bagi mereka yang hanya mengartikan secara sekilas akan salah paham dengan pengertian mahabbah.
Karena mahabbah adalah sebuah tingkatan dalam maqom, maka tentunya diperlukan usaha untuk mencapai tingkatan itu. Usaha ini juga harus ditunjang dengan alat yang akan mempermudah dalam meraih tingkatan mahabbah. Hanya orang-orang tertentu yang pastinya bisa mencapai tingkatan mahabbah, bahkan dalam sejarah hanya sedikit tokoh yang mampu mencapai maqam ini. Selain melalui sejarah tokoh kita juga dapat mempelajari dan mengetahui perihal mahabbah dari Al-Quran. Di dalam Al-Quran secara gamblang disebutkan tentang nyatanya keberadaan maqam mahabbah, dan kita tentu tak dapat mengingkari keberadaanya bila Allah saja telah menjelaskan.
1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada, penulis merumuskan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana pengertian mahabbah?
2.      Apa saja alat untuk mencapai mahabbah?
3.      Siapakah tokoh mahabah dan ajarannya?
4.      Bagaimana contoh mahabbah di dalam Al-Quran?


BAB II
PEMBAHASAN
2.1     Pengertian Mahabbah
Mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabbatan, yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam. Hal ini mengandung maksud cinta kepada Tuhan, Dalam mu’jam al-falsafi, Jamil Shaliba mengatakan mahabbah adalah lawan dari al-baghd, yakni cinta lawan dari benci. Atau Al mahabbah dapat pula berarti Al Waduud yakni yang sangat kasih atau penyayang. Bermacam-macam arti namun dasarnya sama yaitu mencintai[1].
Kata Mahabbah tersebut selanjutnya digunakan untuk menunjukkan pada suatu paham atau aliran dalam tasawuf. Dalam hubungan ini mahabbah obyeknya lebih ditujukan pada Tuhan. Dari sekian banyak arti mahabbah yang dikemukakan di atas, tampaknya ada juga yang cocok dengan arti mahabbah yang dikehendaki dalam tasawuf, yaitu mahabbah yang artinya kecintaan yang mendalam secara ruhian pada Tuhan.
Menurut istilah (terminologi), para ahli berbeda pendapat, namun intinya sama. Pendapat tersebut dihimpun sebagai berikut:
1.    Al-Ghazali; mahabbah ialah cinta kepada Allah itu adalah maqom yang terakhir dan derajat yang paling tinggi dari segala maqom yang sesudahnya yaitu buahnya dari segala maqom yang sebelumnya. Ini merupakan pendahuluan untuk mencapai cinta kepada Allah.
2.    Syekh Jalaluddin; mahabbah ialah termasuk maqom yang sangat penting dalam tasawuf. Cinta tersebut merupakan suatu dorongan kesadaran melalui saluran syariat, bukan sejenis cinta yang melahirkan ucapan-ucapan syahwat yang sering berlawanan dengan pokok-pokok ajaran syariat. Rasa cinta inilah yang mengalahkan hawa nafsu sehingga merasa lezat mentaati semuaajaran syariat. Kasih kepada semua yang dikasihi Allah dan benci kepada semua yang dibenci Allah.
3.    Al-Palimbani; mahabbah ialah ma’rifah hakiki yang lahir dari cinta, tetapi cinta yang hakiki kepada Allah itu hanya lahir dari ma’rifah. Mahabbah dan ma’rifah itu adalah dua hal yang masing-masing merupakan sebab tetap juga akibat dari yang lain. Kasih pada Allah tatkala itu, membawa kepada ma’rifah. Ma’rifah Allah tatkal itu melazimkan sebanar-benar kasih Allah Ta’ala.
4.    Imam Qusyairi; mahabbah ialah kondisi yang mulia telah disaksikan Allah swt. Melalui cintanya itu, bagi hamba telah memperma’lumkan cintanya kepada Allah. Karenanya Allah swt. disifati sebagai yang mencintai hamba dan sihamba disifati sebagai yang mencintai Allah SWT.
Pengertian mahabbah dari segi tasawuf ini lebih lanjut dikemukakan al-Qusyairi sebagai berikut:
اَلْمَحَبَّةُ حَالَةٌ شَرِيْفَةٌ شَهِدَاْلحَقَّ سُبْحَانَهُ بِهَالِلْعَبْدِ وَاَخْبَرَعَنْ مَحَبَّتِهِ لِلْعَبْدِ فَالْحَقُّ سُبْحَانَهُ يُوْصَفُ بِاَنَّهُ يُحِبُّ الْعَبْدَ وَالْعَبْدُ يُوْصَفُ بِاَنَّهُ يُحِبُّ الْحَقَّ سُبْحَا نَهُ
Al-Mahabbah adalah merupakan hal (keadaan) jiwa yang mulia yang bentuknya adalah disaksikannya (kemutlakan) Allah SWT, oleh hamba, selanjutnya yang dicintainya itu juga menyatakan cinta kepada yang dikasihi-Nya dan yang seorang hamba mencintai Allah SWT.

5.    Harun Nasution; mahabbah ialah cinta, yang dimaksudkan adalah cinta kepada Allah swt. Lebih lanjut Harun Nasution mengatakan, pengertian yang diberikan kepada mahabbah antara lain yang berikut:
a.        Memeluk kepatuhan pada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya
b.        Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi.
c.         Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari yang dikasihi, yaitu Tuhan.[2]
Dari beberapa pendapat ahli diatas, kami dapat menyimpulkan bahwa “mahabbah” adalah salah suatu tingkatan dalam mahqamat yang menunjukkan rasa cinta yang mendalam kepada Allah SWT.
Tuhan bukanlah suatu zat yang harus ditakuti, tapi sebaliknya sebagai zat yang harus dicintai dan didekati. Untuk dapat lebih dekat dengan Tuhan, seseorang harus melakukan peribadatan dan meninggalkan kesenganan duniawi[3]. Aliran tasawuf mahabbah sejajar dengan aliran tasawuf lain seperti ma’rifat, al-fana dan al-baqa, al-ittihad dan lain-lain. Paham-paham tersebut sering disebut stasiun(mahqamat) yang berada di atas tingkatan tobat, zuhud, sabar, tawakal, dan rida.

2.2     Alat untuk mencapai Mahabbah.
Alat untuk mencapai mahabbah menurut Harun Nasution ada 3 :
1.      Al- qalb yaitu hati untuk mengetahui sifat-sifat Allah SWT.
2.      Roh yaitu alat untuk mencintai Allah SWT.
3.      Sir yaitu alat untuk melihat Allah SWT.
Sir adalah bagian yang lebih halus dari roh, dan roh adalah bagian yang lebih halus dari hati. Kemudian, sir berada di dalam roh dan roh berada di dalam hati. Sir dapat melihat Allah ketika hati dan roh telah benar-benar bersih, telah benar-benar suci serta telah kosong sekosong-kosongnya. Roh dapat digunakan sebagai alat mencintai Allah bila sudah dibersihkan dari dosa dan maksiat serta dikosongkan dar kecintaan kepada segala sesuatu, melainkan hanya cinta kepada Allah SWT.
Salah satu sebab kenapa kita harus mengutamakan rasa cinta kepada Allah karena manusia yang paling beruntung keadaanya diakhirat adalah manusia yang mempunyai rasa cinta yang paling besar kepada Allah. Karena sebenarnya arti dari akhirat adalah menghadap kepada Allah dan menemukan kebahagiaan menemui-Nya. Apakah yang lebih menyenangkan dari bertemu kekasih yang paling dicintai setelah lama tidak bertemu?.  Hanya saja kenikmatan pertemuan dengan Allah akan sesuai kadar kecintaanya pada Allah, semakin ia mencintai Allah maka ia akan sangat menikmati pertemuannya dengan Allah dan sebaliknnya.

2.3     Tokoh sufi mahabbah dan ajarannya.
Rabi’ah al-Adawiyah
Nama lengkapnya yaitu Ummu Al-Khair Rabi’ah Binti Ismail Al-Adawiyah Al-Qisiyah. Dia lahir di Basrah pada tahun 96 H/713 M. Ia hidup antara tahun 713-801 H[4]. Dari kecil dia tinggal di kota kelahirannya. Di kota kelahirannya Ummu Rabi’ah Al-Adawiyah sangat harum namanya sebagai seorang manusia suci dan sangat dihormati oleh orang-orang di kotanya. Kelahirannya dipenuhi dengan keanehan, dirumahnya tidak ditemui sedikitpun minyak untuk penerangan dan sepotong kainpun untuk membungkus bayi Rabiah. Maka sang ibu meminta ayah Rabiah untuk meminjam tetangga, sang ayah sangat gelisah karena sebelumnya ia telah berjanji tidak akan memohon bantuan pada sesama. Tetapi ternyata tetangganya tidak memberi jawaban ketika pintunya diketuk, maka sang ayah Rabiah bersyukur pada Allah kemudian pulang. Rabiah kehilangan kedua orang tuannya ketika masih kecil, ketiga kakaknya pun juga meninggal dunia ketika ada wabah kelaparan. Kemudian ia jatuh ke tangan yang kejam yang menjadikannya budak belian yang menjualnnya dengan harga tak seberapa. Majikannya yang baru pun juga tak kalah bengisnya.
Rabiah kecil menghabiskan waktunya dengan melaksanakan semua perintah majikannya. Namun ia tak pernah lupa untuk beribadah dan berdo’a. Pada suatu malam ketika Rabiah berdo’a pada Allah “Ya Rabbi, Engkau telah membuatku menjadi seorang budak belian seorang manusia sehingga aku terpaksa mengabdi kepadannya. Seandainya aku bebas, pastilah akan kupersembahkan seluruh waktu dalam hidupku ini untuk berdo’a kepada-Mu. Tiba-tiba nampak cahaya di dekat kepalannya, ternyata majikannya melihat itu dan langsung ketakutan sehingga keesokan harinnya Rabiah dibebaskan.
Ia terkenal sebagai Ulama Shufi wanita yang mempunyai banyak murid dari kalangan wanita pula. Rabi’ah menganut ajaran zuhud dengan menonjolkan falsafah hubb (cinta) dan syauq (rindu) kepada Allah. Salah satu pernyataannya yang melukiskan falsafah hubb dan syauq yang mewarnai kehidupannya adalah :[5]
مَا عَبَدْ تُهُ خَوْفًا مِنْ نَارِهِ وَلَا طَمْعًا فِيْ جَنَّتِهِ فَاَ كُوْنَ كَا لْأَ جِيْرِ السُّوْءِ  عَبَدْ تُهُ حُبًّا لَهُ وَ شَوْقًا اِلَيْهِ
Artinya: Saya tidak menyembah Allah karena takut kepada neraka-Nya, dan tidak pula tamak (untuk mendapatkan) syurga; (karena hal itu) akan menjadikan saya seperti pencuri imbalan yang berakhlak buruk. (Ketahuilah), bahwa saya menyembah-Nya karena cinta dan rindu kepada-Nya.
Kaum sufi menganggap mahabbah sebagai modal utama sekaligus mauhibah dari Allah SWT untuk menuju kejenjang ahwal yang lebih tinggi. Cinta yang suci murni adalah lebih tinggi dan lebih sempurna daripada al khauf war raja’ (takut dan pengharapan), karena cinta yang suci murni tidak mengharapkan apa-apa dari Allah kecuali ridla-Nya. Menurut Rabi’atul Adawiyah, al hub itu merupakan cetusan dari perasaan rindu dan pasrah kepada-Nya. Perasaan cinta yang menyelinap dalam lubuk hati Rabi’atul Adawiyah, menyebabkan dia mengorbankan seluruh hidupnya untuk mencintai Allah SWT.[6]
Diantara ucapannya yang terkenal tentang zuhd ialah sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hujwiri dalam kitabnya Kasyf al-Mahjub : “Suatu ketika aku membaca cerita bahwa seorang hartawan berkata pada Rabi’ah : ‘Mintalah kepadaku segala kebutuhanmu!’ Rabi’ah menjawab : ‘Aku ini begitu malu meminta hal-hal duniawi kepada Pemiliknya. Maka bagaimana bisa orang aku meminta hal itu kepada orang yang bukan Pemiliknya?”
Riwayat lain menyebutkan bahwa ia selalu menolak lamaran-lamaran pria salih, dengan mengatakan: “Akad nikah adalah bagi pemilik kemaujudan luar biasa. Sedangkan pada diriku hal itu tidak ada, karena aku telah berhenti maujud dan rela lepas dari diri. Aku maujud dalam Tuhan dan diriku sepenuhnya milik-Nya. Aku hidup dalam naungan firman-Nya. Akah nikah mesti diminta dari-Nya, bukan dariku”.[7]
2.4     Mahabbah dalam Al-Quran
Mengenai cinta dalam Al-Quran, Al-Quran mengarahkan kita untuk mencintai segala sesuatu yang tidak disukai hawa nafsu dan menghindari dari sesuatu yang memperbudaknya. Sesungguhnya cinta kepada Allah itu bukan hanya pengakuan mulut bukan pula hanya dalam angan-angan saja, tetapi harus disertai sikap mengikuti Rasulullah saw., melaksanakan petunjukNya dan melaksanakan manhajNya dalam kehidupan sehari-hari.[8]
Mencintai tanpa disandarkan pada sang Khaliq dapat dikatakan cinta yang bodoh. Didalam kehidupan ini tak pernah ketinggalan dengan kata “Mahabbah” karena didalamnya terkandung kasih sayang dan kedamaian yang menjadi tujuan utamanya. Mahabbah dapat mempersatukan kehidupan manusia baik dalam lingkup individu maupun dalam lingkup bermasyarakat.
Sebagaimana menurut penafsiran Imam Ibnu Katsîr, seseorang yang mengaku cinta tetapi tidak mengikuti apa yang telah di perintahkan oleh yang dicintainya maka cintanya itu adalah dusta. Sebaliknya jika seseorang mencintaisesuatu yang ia cintai maka semua apa yang diperintahkan dan dilarangnya akan ia patuhi. Karena, jika ia tidak mematuhinya maka sesuatu yang ia sukai akan menjauh. Akan tetapi hal seperti itu tidak hanya di ucapkan di bibir saja, ia membutuhkan implementasi pengorbanan, dan pengorbanan orang yang mencintai Allah nilainya tidak dapat disamakan dengan pengorbanan yang dilakukanseorang manusia kepada kekasihnya.[9]

Allah telah berfirman dalam surat al-Imrăn ayat 31-32:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَفَاتَّبِعُونِي يُحْبِيْكُمْ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُو بَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌرَحِيمٌ. قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ
Katakanlah :”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”

Dalam Al-Qur’an cinta atau mahabbah memiliki 8 pengertian, berikut penjelasannya:
1.      Mahabbah Mawaddah adalah jenis cinta menggebu-gebu, membara dan nggemesi. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya dan hampir tak bisa berfikir lain.
2.      Mahabbah Rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih saying, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memerhatikan orang yang dicintainya disbanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Maka dari itu dalam al-quran kerabat disebut al arham, dzawi al arham yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, berasal dari gharba yang berarti kasih sayang ibu. Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim.
3.      Mahabbah Mail adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al-quran disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada muda, cenderung mengabaikan kepada yang lama.
4.      Mahabbah Syaghaf adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta syaghaf bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al-Quran menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha kepada Yusuf.
5.      Mahabbah Ra’fah yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkan untuk shalat, membelanya meskipun salah. Al-quran menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra’fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukum bagi pezina.
6.      Mahabbah Shobwah yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku menyimpang tanpa sanggup mengelak.. Al-quran menyebut term ini ketika mengkisahkan bagaimana Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaikha yang setiap hari menggodanya, sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh.
7.      Mahabbah Syauq (rindu). Term ini bukan dari al-quran tetapi dari hadis yang menaffsirkan al-quran. dalam surat al ‘Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub) dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa iltihab naruha fi qalb al muhibbi.
8.      Mahabbah Khulfah adalah perasaan cinta yang disertai keasadaran mendidik kepada hal-hal yang positif meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. jenis cinta ini disebut al-quran ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebabi seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.[10]

Tentang “ mahabbah” misalnya yang ada di dalam Al-Quran antara lain:
a.         Surat Ali Imran ayat 31.
Artinya: “Katakanlah “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
b.      Surat Al-Maidah ayat 54.
Artinya: “Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.




BAB III
KESIMPULAN
1.    “mahabbah” adalah salah suatu tingkatan dalam mahqamat yang menunjukkan rasa cinta yang mendalam kepada Allah SWT.
2.    Alat untuk mencapai mahabbah menurut Harun Nasution ada 3 : Al- qalb yaitu hati untuk mengetahui sifat-sifat Allah SWT, Roh yaitu alat untuk mencintai Allah SWT, Sir yaitu alat untuk melihat Allah SWT.
3.    Salah satu tokoh sufi mahabbah adalah Rabi’ah al-Adawiyah dengan ajarannya: “Saya tidak menyembah Allah karena takut kepada neraka-Nya, dan tidak pula tamak (untuk mendapatkan) syurga; (karena hal itu) akan menjadikan saya seperti pencuri imbalan yang berakhlak buruk. (Ketahuilah), bahwa saya menyembah-Nya karena cinta dan rindu kepada-Nya”.
4.    Tentang “ mahabbah” misalnya yang ada di dalam Al-Quran antara lain Surat Ali Imran ayat 31, Surat Al-Maidah ayat 54.




[1] Anwar, Rasihan. Akhlak Tasawuf. 2010. Pustaka Setia: Bandung. Hal.55
[2] Mustofa. AKHLAK TASAWUF. 2014. Pustaka Setia: Bandung. Hal. 240
[3] Dr.’Abd al-Fattah ‘Abdullah Barakat (1989),Fi al-Tasawuf wa al-Akhlaq Dirasat wa Nusus, Kaherah, ‘Alam al-Fikr, hlm. 144
[4] Jamil, Ahmad,dkk. 2008. Aqidah Akhlak. CV PUTRA KEMBAR JAYA: Gresik. Hal. 8.
[5]Yesti Jasmine.Yestijasmine.blogspot.co.id/2014/01/mahabbah-menurut-konsep-tasawuf.html?m=1, diakses tanggal 28 Oktober 2016, jam  18.05.
[6]Sufi Road. Sufiroad.blogspot.co.id/2009/03/mahabbah.html?m=1, diakses tanggal 28 Oktober 2016, jam 18.31.
[7]Ibid, Yesti Jasmine.
[8]http://digilib.uinsby.ac.id/5713/5/Bab%202.pdf diakses pada tanggah 27 Oktober 2016 pukul 2.46
[9]Ibid.,
[10]http://ulfatunnazilah94.blogspot.co.id/2015/04/mahabbah.html diakses tanggal 27 Oktober 2016 pukul 17.43

Tidak ada komentar:

Posting Komentar