BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam tasawuf telah dijelaskan macam-macam
atau tingkatan maqam, dimana setiap maqam memiliki tingkatan kedekatan kepada
Allah SWT sendiri-sendiri. Salah satu maqam yang sering terdengar adalah
“mahabbah”, maqam ini sangat terkenal di dunia sufi namun tentunya bagi orang
awam mahabbah terdengar asing. Bagi mereka yang hanya mengartikan secara
sekilas akan salah paham dengan pengertian mahabbah.
Karena mahabbah adalah sebuah tingkatan dalam
maqom, maka tentunya diperlukan usaha untuk mencapai tingkatan itu. Usaha ini
juga harus ditunjang dengan alat yang akan mempermudah dalam meraih tingkatan
mahabbah. Hanya orang-orang tertentu yang pastinya bisa mencapai tingkatan
mahabbah, bahkan dalam sejarah hanya sedikit tokoh yang mampu mencapai maqam
ini. Selain melalui sejarah tokoh kita juga dapat mempelajari dan mengetahui
perihal mahabbah dari Al-Quran. Di dalam Al-Quran secara gamblang disebutkan
tentang nyatanya keberadaan maqam mahabbah, dan kita tentu tak dapat
mengingkari keberadaanya bila Allah saja telah menjelaskan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada, penulis
merumuskan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana pengertian mahabbah?
2. Apa saja alat untuk mencapai mahabbah?
3. Siapakah tokoh mahabah dan ajarannya?
4. Bagaimana contoh mahabbah di dalam Al-Quran?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Mahabbah
Mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabbatan,
yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam. Hal ini mengandung
maksud cinta kepada Tuhan, Dalam mu’jam al-falsafi, Jamil Shaliba mengatakan
mahabbah adalah lawan dari al-baghd, yakni cinta lawan dari benci. Atau Al
mahabbah dapat pula berarti Al Waduud yakni yang sangat kasih atau penyayang.
Bermacam-macam arti namun dasarnya sama yaitu mencintai[1].
Kata Mahabbah tersebut selanjutnya digunakan untuk
menunjukkan pada suatu paham atau aliran dalam tasawuf. Dalam hubungan ini
mahabbah obyeknya lebih ditujukan pada Tuhan. Dari sekian banyak arti mahabbah
yang dikemukakan di atas, tampaknya ada juga yang cocok dengan arti mahabbah
yang dikehendaki dalam tasawuf, yaitu mahabbah yang artinya kecintaan yang
mendalam secara ruhian pada Tuhan.
Menurut istilah (terminologi), para ahli berbeda pendapat, namun intinya
sama. Pendapat tersebut dihimpun sebagai berikut:
1. Al-Ghazali; mahabbah ialah cinta kepada Allah itu adalah maqom yang terakhir dan derajat yang paling tinggi dari
segala maqom yang sesudahnya yaitu buahnya dari
segala maqom yang sebelumnya. Ini merupakan
pendahuluan untuk mencapai cinta kepada Allah.
2. Syekh Jalaluddin; mahabbah ialah termasuk maqom yang sangat penting dalam
tasawuf. Cinta tersebut merupakan suatu dorongan kesadaran melalui saluran
syariat, bukan sejenis cinta yang melahirkan ucapan-ucapan syahwat yang sering
berlawanan dengan pokok-pokok ajaran syariat. Rasa cinta inilah yang
mengalahkan hawa nafsu sehingga merasa lezat mentaati semuaajaran syariat.
Kasih kepada semua yang dikasihi Allah dan benci kepada semua yang dibenci
Allah.
3. Al-Palimbani; mahabbah ialah ma’rifah hakiki yang lahir dari cinta,
tetapi cinta yang hakiki kepada Allah itu hanya lahir dari ma’rifah. Mahabbah
dan ma’rifah itu adalah dua hal yang masing-masing merupakan sebab tetap juga
akibat dari yang lain. Kasih pada Allah tatkala itu, membawa kepada ma’rifah.
Ma’rifah Allah tatkal itu melazimkan sebanar-benar kasih Allah Ta’ala.
4. Imam Qusyairi; mahabbah ialah kondisi yang mulia telah disaksikan Allah
swt. Melalui cintanya itu, bagi hamba telah memperma’lumkan cintanya kepada
Allah. Karenanya Allah swt. disifati sebagai yang mencintai hamba dan sihamba
disifati sebagai yang mencintai Allah SWT.
Pengertian mahabbah dari segi tasawuf ini lebih lanjut dikemukakan
al-Qusyairi sebagai berikut:
اَلْمَحَبَّةُ حَالَةٌ
شَرِيْفَةٌ شَهِدَاْلحَقَّ سُبْحَانَهُ بِهَالِلْعَبْدِ وَاَخْبَرَعَنْ
مَحَبَّتِهِ لِلْعَبْدِ فَالْحَقُّ سُبْحَانَهُ يُوْصَفُ بِاَنَّهُ يُحِبُّ
الْعَبْدَ وَالْعَبْدُ يُوْصَفُ بِاَنَّهُ يُحِبُّ الْحَقَّ سُبْحَا نَهُ
Al-Mahabbah adalah merupakan hal (keadaan) jiwa yang
mulia yang bentuknya adalah disaksikannya (kemutlakan) Allah SWT, oleh hamba,
selanjutnya yang dicintainya itu juga menyatakan cinta kepada yang dikasihi-Nya
dan yang seorang hamba mencintai Allah SWT.
5. Harun Nasution; mahabbah ialah cinta, yang dimaksudkan adalah cinta kepada Allah swt. Lebih lanjut Harun Nasution
mengatakan, pengertian yang diberikan kepada mahabbah antara lain yang berikut:
a.
Memeluk kepatuhan pada Tuhan dan membenci sikap
melawan kepada-Nya
b.
Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi.
c.
Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali
dari yang dikasihi, yaitu Tuhan.[2]
Dari beberapa pendapat
ahli diatas, kami dapat menyimpulkan bahwa “mahabbah” adalah salah suatu
tingkatan dalam mahqamat yang menunjukkan rasa cinta yang mendalam kepada Allah
SWT.
Tuhan bukanlah suatu zat yang harus ditakuti,
tapi sebaliknya sebagai zat yang harus dicintai dan didekati. Untuk dapat lebih
dekat dengan Tuhan, seseorang harus melakukan peribadatan dan meninggalkan
kesenganan duniawi[3].
Aliran tasawuf mahabbah sejajar dengan aliran tasawuf lain seperti ma’rifat,
al-fana dan al-baqa, al-ittihad dan lain-lain. Paham-paham tersebut sering
disebut stasiun(mahqamat) yang berada di atas tingkatan tobat, zuhud, sabar,
tawakal, dan rida.
2.2 Alat untuk
mencapai Mahabbah.
Alat untuk mencapai mahabbah menurut Harun
Nasution ada 3 :
1. Al- qalb yaitu hati untuk mengetahui
sifat-sifat Allah SWT.
2. Roh yaitu alat untuk mencintai Allah SWT.
3. Sir yaitu alat untuk melihat Allah SWT.
Sir adalah bagian yang lebih halus dari roh,
dan roh adalah bagian yang lebih halus dari hati. Kemudian, sir berada di dalam
roh dan roh berada di dalam hati. Sir dapat melihat Allah ketika hati dan roh
telah benar-benar bersih, telah benar-benar suci serta telah kosong
sekosong-kosongnya. Roh dapat digunakan sebagai alat mencintai Allah bila sudah
dibersihkan dari dosa dan maksiat serta dikosongkan dar kecintaan kepada segala
sesuatu, melainkan hanya cinta kepada Allah SWT.
Salah satu sebab kenapa kita harus
mengutamakan rasa cinta kepada Allah karena manusia yang paling beruntung
keadaanya diakhirat adalah manusia yang mempunyai rasa cinta yang paling besar
kepada Allah. Karena sebenarnya arti dari akhirat adalah menghadap kepada Allah
dan menemukan kebahagiaan menemui-Nya. Apakah yang lebih menyenangkan dari
bertemu kekasih yang paling dicintai setelah lama tidak bertemu?. Hanya saja kenikmatan pertemuan dengan Allah
akan sesuai kadar kecintaanya pada Allah, semakin ia mencintai Allah maka ia akan
sangat menikmati pertemuannya dengan Allah dan sebaliknnya.
2.3 Tokoh sufi
mahabbah dan ajarannya.
Rabi’ah al-Adawiyah
Nama lengkapnya yaitu Ummu Al-Khair Rabi’ah
Binti Ismail Al-Adawiyah Al-Qisiyah. Dia lahir di Basrah pada tahun 96 H/713 M.
Ia hidup antara tahun 713-801 H[4].
Dari kecil dia tinggal di kota kelahirannya. Di kota kelahirannya Ummu Rabi’ah
Al-Adawiyah sangat harum namanya sebagai seorang manusia suci dan sangat
dihormati oleh orang-orang di kotanya. Kelahirannya dipenuhi dengan keanehan,
dirumahnya tidak ditemui sedikitpun minyak untuk penerangan dan sepotong
kainpun untuk membungkus bayi Rabiah. Maka sang ibu meminta ayah Rabiah untuk
meminjam tetangga, sang ayah sangat gelisah karena sebelumnya ia telah berjanji
tidak akan memohon bantuan pada sesama. Tetapi ternyata tetangganya tidak
memberi jawaban ketika pintunya diketuk, maka sang ayah Rabiah bersyukur pada
Allah kemudian pulang. Rabiah kehilangan kedua orang tuannya ketika masih
kecil, ketiga kakaknya pun juga meninggal dunia ketika ada wabah kelaparan.
Kemudian ia jatuh ke tangan yang kejam yang menjadikannya budak belian yang
menjualnnya dengan harga tak seberapa. Majikannya yang baru pun juga tak kalah
bengisnya.
Rabiah kecil menghabiskan waktunya dengan
melaksanakan semua perintah majikannya. Namun ia tak pernah lupa untuk
beribadah dan berdo’a. Pada suatu malam ketika Rabiah berdo’a pada Allah “Ya
Rabbi, Engkau telah membuatku menjadi seorang budak belian seorang manusia
sehingga aku terpaksa mengabdi kepadannya. Seandainya aku bebas, pastilah akan
kupersembahkan seluruh waktu dalam hidupku ini untuk berdo’a kepada-Mu.
Tiba-tiba nampak cahaya di dekat kepalannya, ternyata majikannya melihat itu
dan langsung ketakutan sehingga keesokan harinnya Rabiah dibebaskan.
Ia terkenal sebagai Ulama Shufi wanita yang
mempunyai banyak murid dari kalangan wanita pula. Rabi’ah menganut ajaran zuhud
dengan menonjolkan falsafah hubb (cinta) dan syauq (rindu) kepada Allah. Salah
satu pernyataannya yang melukiskan falsafah hubb dan syauq yang mewarnai
kehidupannya adalah :[5]
مَا عَبَدْ تُهُ خَوْفًا مِنْ نَارِهِ وَلَا طَمْعًا فِيْ جَنَّتِهِ فَاَ
كُوْنَ كَا لْأَ جِيْرِ السُّوْءِ عَبَدْ
تُهُ حُبًّا لَهُ وَ شَوْقًا اِلَيْهِ
Artinya: Saya tidak menyembah Allah karena
takut kepada neraka-Nya, dan tidak pula tamak (untuk mendapatkan) syurga;
(karena hal itu) akan menjadikan saya seperti pencuri imbalan yang berakhlak
buruk. (Ketahuilah), bahwa saya menyembah-Nya karena cinta dan rindu
kepada-Nya.
Kaum sufi menganggap mahabbah sebagai modal
utama sekaligus mauhibah dari Allah SWT untuk menuju kejenjang ahwal yang lebih
tinggi. Cinta yang suci murni adalah lebih tinggi dan lebih sempurna daripada
al khauf war raja’ (takut dan pengharapan), karena cinta yang suci murni tidak
mengharapkan apa-apa dari Allah kecuali ridla-Nya. Menurut Rabi’atul Adawiyah,
al hub itu merupakan cetusan dari perasaan rindu dan pasrah kepada-Nya.
Perasaan cinta yang menyelinap dalam lubuk hati Rabi’atul Adawiyah, menyebabkan
dia mengorbankan seluruh hidupnya untuk mencintai Allah SWT.[6]
Diantara ucapannya yang terkenal tentang zuhd ialah sebagaimana diriwayatkan oleh
al-Hujwiri dalam kitabnya Kasyf al-Mahjub
: “Suatu ketika aku membaca cerita bahwa seorang hartawan berkata pada Rabi’ah
: ‘Mintalah kepadaku segala kebutuhanmu!’ Rabi’ah menjawab : ‘Aku ini begitu
malu meminta hal-hal duniawi kepada Pemiliknya. Maka bagaimana bisa orang aku
meminta hal itu kepada orang yang bukan Pemiliknya?”
Riwayat lain menyebutkan bahwa ia selalu
menolak lamaran-lamaran pria salih, dengan mengatakan: “Akad nikah adalah bagi
pemilik kemaujudan luar biasa. Sedangkan pada diriku hal itu tidak ada, karena
aku telah berhenti maujud dan rela lepas dari diri. Aku maujud dalam Tuhan dan
diriku sepenuhnya milik-Nya. Aku hidup dalam naungan firman-Nya. Akah nikah
mesti diminta dari-Nya, bukan dariku”.[7]
2.4 Mahabbah dalam
Al-Quran
Mengenai cinta dalam Al-Quran,
Al-Quran mengarahkan kita untuk mencintai segala sesuatu yang tidak disukai
hawa nafsu dan menghindari dari sesuatu yang memperbudaknya. Sesungguhnya cinta
kepada Allah itu bukan hanya pengakuan mulut bukan pula hanya dalam angan-angan
saja,
tetapi harus disertai sikap mengikuti Rasulullah saw., melaksanakan petunjukNya
dan melaksanakan manhajNya dalam kehidupan sehari-hari.[8]
Mencintai tanpa disandarkan pada
sang Khaliq dapat dikatakan cinta yang bodoh. Didalam kehidupan ini tak pernah
ketinggalan dengan kata “Mahabbah” karena didalamnya terkandung kasih sayang
dan kedamaian yang menjadi tujuan utamanya. Mahabbah dapat mempersatukan
kehidupan manusia baik dalam lingkup individu maupun dalam lingkup
bermasyarakat.
Sebagaimana menurut penafsiran Imam Ibnu
Katsîr, seseorang yang mengaku cinta
tetapi tidak mengikuti apa yang telah di perintahkan oleh yang dicintainya maka
cintanya itu adalah dusta. Sebaliknya jika seseorang mencintaisesuatu yang ia
cintai maka semua apa yang diperintahkan dan dilarangnya akan ia patuhi. Karena, jika ia tidak mematuhinya
maka sesuatu yang ia sukai akan menjauh. Akan
tetapi hal seperti itu tidak hanya di ucapkan di bibir saja, ia membutuhkan
implementasi pengorbanan, dan pengorbanan orang yang mencintai Allah nilainya
tidak dapat disamakan dengan pengorbanan yang dilakukanseorang manusia kepada
kekasihnya.[9]
Allah telah berfirman dalam surat al-Imrăn ayat
31-32:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ
اللهَفَاتَّبِعُونِي يُحْبِيْكُمْ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُو بَكُمْ وَاللهُ
غَفُورٌرَحِيمٌ. قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ
اللهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ
Katakanlah :”Jika kamu (benar-benar) mencintai
Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Taatilah Allah dan
Rasul-Nya, jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang kafir.”
Dalam Al-Qur’an cinta atau mahabbah memiliki 8
pengertian, berikut penjelasannya:
1.
Mahabbah
Mawaddah adalah jenis cinta menggebu-gebu, membara dan
nggemesi. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua,
enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli
cintanya dan hampir tak bisa berfikir lain.
2.
Mahabbah Rahmah
adalah jenis cinta yang penuh kasih saying, lembut, siap berkorban, dan siap
melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memerhatikan orang
yang dicintainya disbanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah
kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi
kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam
cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta
orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Maka dari itu dalam al-quran
kerabat disebut al arham, dzawi al arham yakni orang-orang yang memiliki
hubungan kasih sayang secara fitri, berasal dari gharba yang berarti kasih
sayang ibu. Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis
kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim.
3.
Mahabbah Mail
adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot
seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta
jenis mail ini dalam al-quran disebut dalam konteks orang poligami dimana
ketika sedang jatuh cinta kepada muda, cenderung mengabaikan kepada yang lama.
4.
Mahabbah
Syaghaf adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan.
Orang yang terserang cinta syaghaf bisa seperti orang gila, lupa diri dan
hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al-Quran menggunakan term
syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha kepada Yusuf.
5.
Mahabbah Ra’fah
yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya
kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkan untuk shalat, membelanya
meskipun salah. Al-quran menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah
cinta ra’fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini
kasus hukum bagi pezina.
6.
Mahabbah
Shobwah yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku menyimpang tanpa
sanggup mengelak.. Al-quran menyebut term ini ketika mengkisahkan bagaimana
Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaikha yang setiap hari menggodanya,
sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh.
7.
Mahabbah Syauq
(rindu). Term ini bukan dari al-quran tetapi dari hadis yang menaffsirkan
al-quran. dalam surat al ‘Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu
berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam
kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah
pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub) dan kobaran
cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa
iltihab naruha fi qalb al muhibbi.
8.
Mahabbah Khulfah
adalah perasaan cinta yang disertai keasadaran mendidik kepada hal-hal yang
positif meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu,
membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. jenis cinta ini disebut
al-quran ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebabi seseorang kecuali sesuai
dengan kemampuannya.[10]
Tentang “ mahabbah” misalnya yang ada di dalam
Al-Quran antara lain:
a.
Surat Ali Imran ayat 31.
Artinya: “Katakanlah “Jika kamu (benar-benar)
mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni
dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
b. Surat Al-Maidah ayat 54.
Artinya: “Allah akan mendatangkan suatu kaum
yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.
BAB III
KESIMPULAN
1. “mahabbah” adalah salah
suatu tingkatan dalam mahqamat yang menunjukkan rasa cinta yang mendalam kepada
Allah SWT.
2.
Alat untuk mencapai mahabbah menurut Harun Nasution ada 3
: Al- qalb yaitu hati untuk mengetahui sifat-sifat Allah SWT, Roh yaitu alat
untuk mencintai Allah SWT, Sir yaitu alat untuk melihat Allah SWT.
3.
Salah satu tokoh sufi mahabbah adalah Rabi’ah al-Adawiyah
dengan ajarannya: “Saya tidak menyembah Allah karena takut kepada neraka-Nya,
dan tidak pula tamak (untuk mendapatkan) syurga; (karena hal itu) akan menjadikan
saya seperti pencuri imbalan yang berakhlak buruk. (Ketahuilah), bahwa saya
menyembah-Nya karena cinta dan rindu kepada-Nya”.
4.
Tentang “ mahabbah” misalnya yang ada di dalam Al-Quran
antara lain Surat Ali Imran ayat 31, Surat Al-Maidah ayat 54.
[3] Dr.’Abd al-Fattah ‘Abdullah Barakat (1989),Fi
al-Tasawuf wa al-Akhlaq Dirasat wa Nusus, Kaherah, ‘Alam al-Fikr, hlm.
144
[5]Yesti Jasmine.Yestijasmine.blogspot.co.id/2014/01/mahabbah-menurut-konsep-tasawuf.html?m=1,
diakses tanggal 28 Oktober 2016, jam 18.05.
[6]Sufi Road. Sufiroad.blogspot.co.id/2009/03/mahabbah.html?m=1,
diakses tanggal 28 Oktober 2016, jam 18.31.
[8]http://digilib.uinsby.ac.id/5713/5/Bab%202.pdf
diakses pada tanggah 27 Oktober 2016 pukul 2.46
[9]Ibid.,
[10]http://ulfatunnazilah94.blogspot.co.id/2015/04/mahabbah.html
diakses tanggal 27 Oktober 2016 pukul 17.43
Tidak ada komentar:
Posting Komentar