Pengikut

Jumat, 17 Maret 2017

makalah aspek-aspek yang mempengaruhi ahlak

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Berbicara masalah pembentukan akhlak sama dengan berbicara tentang tujuan pendidikan, karena banyak sekali dijumpai pendapat para ahli yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pembentukan akhlak. Muhammad Athiyah Al-Abrasyi  misalnya mengatakan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa dan tujuan pendidikan Islam. Demikan pula Ahmad D. Marimba berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah identik dengan tujuan hidup setiap Muslim, yaitu untuk menjadi hamba Allah, yaitu hamba yang percaya dan menyerahkan diri kepada-Nya dengan memeluk agama Islam.
Menurut sebagian ahli bahwa akhlak tidak perlu dibentuk, karena akhlak adalah insting (garizah) yang dibawa manusia sejak lahir. Bagi golongan ini bahwa masalah akhlak adalah pembawaan dari manusia sendiri, yaitu kecenderungan kepada kebaikan atau fitrah yang ada dalam diri manusia, dan dapat juga berupa kata hati atau intuisi yang selalu cenderung kepada kebenaran. Dengan pandangan seperti ini, maka akhlak akan tumbuh dengan sendirinya, walaupun tanpa dibentuk atau diusahakan (ghair muktasabah). Kelompok ini lebih lanjut menduga bahwa akhlak adalah gambaran batin sebagaimana terpantul dalam perbuatan lahir. Perbuatan lahir ini tidak akan sanggup mengubah perbuatan batin. Orang yang bakatnya pendek misalnya tidak dapat dengan sendirinya meninggikan dirinya, demikian sebaliknya.
Pada kenyataan di lapangan, usaha-usaha pembinaan akhlak melalui berbagai lembaga pendidikan dan melalui berbagai macam metode terus dikembangkan. Ini menunjukkan bahwa akhlak memang perlu dibina, dan pembinaan ini ternyata membawa hasil berupa terbentuknya pribadi-pribadi muslim yang berakhlak mulia, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, hormat kepada ibu-bapak, sayang kepada sesama makhluk Tuhan dan seterusnya. Keadaan sebaliknya juga menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak dibina akhlaknya, atau dibiarkan tanpa bimbingan, arahan, dan pendidikan, ternyata menjadi anak-anak yang nakal, mengganggu masyarakat, melakukan berbagai perbuatan tercela dan seterusnya. Ini menunjukkan bahwa akhlak memang perlu dibina.
Dengan demikian pembentukan akhlak dapat diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh dalam rangka membentuk anak, dengan menggunakan sarana pendidikan dan pembinaan yang terprogram dengan baik dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Potensi rohaniah yang ada dalam diri manusia dibina secara optimal dengan cara dan pendekatan yang tepat.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa saja aspek-aspek yang mempengaruhi bentuk akhlak ?
2. Bagaimana pengaruh insting dengan akhlak ?
3. Bagaimana pengaruh pola dasar bawaan dengan akhlak ?
4. Bagaimana pengaruh lingkungan dengan akhlak ?
5. Bagaimana pengaruh kebiasaan dengan akhlak ?
6. Bagaimana pengaruh kehendak dengan akhlak ?
7. Bagaimana pengaruh pendidikan dengan akhlak ?




BAB II
PEMBAHASAN

A. INSTING
Definisi insting oleh ahli jiwa masih ada perselisihan pendapat. Namun perlu diungkapkan juga, bahwa menurut James, insting ialah “suatu alat yang dapat menimbulkan perbuatan yang menyampaikan pada tujuan dengan berpikir lebih dahulu ke tujuan itu dan tiada dengan di dahului latihan perbuatan itu.
Menurut bahasa insting adalah kemampuan berbuat pada suatu tujuan yang dibawa sejak lahir, merupakan pemuasan nafsu, dorongan-dorongan nafsu, dan dorongan psikologis. Insting juga merupakan kesanggupan melakukan hal yang kompleks tanpa dilihat sebelumnya, terarah kepada suatu tujuan yang berarti bagi subjek tidak disadari langsung secara mekanis.
Insting merupakan kemampuan yang melekat sejak lahir dan dibimbing oleh naluriahnya. Insting pada intinya ialah suatu kesanggupan untuk melakukan perbuatan yang tertuju kepada sesuatu pemuasan dorongan nafsu atau dorongan batin yang telah dimiliki manusia maupun hewan sejak lahir. Dalam insting terdapat tiga unsur kekuatan yang bersifat psikis, yaitu : mengenal (kognisi), kehendak (konasi), dan perasaan (emosi). Insting juga terdiri dari empat pola khusus, yaitu sebagai berikut :
a. Sumber insting, berasal dari kondisi jasmaniah, untuk melakukan kecenderungan, lama-lama menjadi kebutuhan.
b. Tujuan insting ialah menghilangkan rangsangan jasmaniah, untuk menghilangkan perasaan tidak enak yang timbul karena adanya tekanan batin yang disebabkan oleh meningkatnya energi pada tubuh .
c. Objek insting merupakan segala aktivitas yang mengantar keinginan dan memilah-milah gar keinginannya dapat terpenuhi.
d. Gerak insting tergantung kepada intensitas (besar-kecilnya) kebutuhan.

Insting pada tingkat tertentu selalu berubah-rubah, boleh jadi ia hidup dan boleh jadi ia mati. Perubahan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Insting hidup, berfungsi melayani individu untuk tetap hidup dan memperpanjang ras. Bentuk utama insting ini adalah insting makan, minum, dan seksual.
b. Insting mati disebut juga insting merusak. Fungsi 9 ini kurang jelas jika dibandingkan dengan insting-insting hidup, karena insting ini tidak begitu dikenal. Suatu derivatif insting-insting mati yang terpenting adalah dorongan agresif. Sifat agresif adalah pengurusan diri yang diubah dengan objek substitusi. Insting hidup dan insting mati, keduanya dapat saling bercampuran.

B. POLA DASAR BAWAAN (AL-WARITHAH)
Ahmad Amin mengatakan bahwa perpindahan sifat-sifat tertentu dari orang tua kepada keturunannya, maka disebut al-Waratsah atau warisan sifat-sifat.  Warisan sifat orang tua terhadap keturunannya, ada yang sifatnya langsung dan tidak langsung. Artinya, langsung terhadap anaknya dan tidak langsung terhadap anaknya, misalnya terhadap cucunya. Sebagai contoh, ayahnya adalah seorang pahlawan, belum tentu anaknya seorang pemberani bagaikan pahlawan, bisa saja sifat itu turun kepada cucunya.
Warisan sifat-sifat orang tua kepada keturunannya ada yang sifatnya langsung (mubasharah) dan ada juga yang tidak langsung (gairu mubasharah), misalnya sifat-sifat itu tidak langsung turun kepada anaknya, tetapi bisa turun kepada cucunya. Sifat-sifat ini juga kadang dari ayah atau ibu, dan kadang anak atau cucu mewarisi kecerdasan (sifah al-‘aqliyah) dari ayahnya atau kakeknya, lalu mewarisi sifat baik (sifah al-khuluqiyaah) dari ibunya atau neneknya, atau dengan sebaliknya.
Di samping adanya sifat bawaan anak sejak lahir (naluri dan sifat keturunan), sebagai potensi dasar potensi dasar untuk mempengaruhi perbuatan setiap manusia, dan juga faktor lingkungan yang mempengaruhinya; misalnya pendidikan dan tuntunan agama. Faktor ini, disebut faktor usaha (al-muktasabah) dalam ilmu akhlaq. Semakin besar pengaruh faktor pendidikan atau kemungkinan warisan sifat-sifat buruk orang tua dapat mempengaruhi sikap dan perilaku anaknya.
Kemampuan ilmu (kognitif), sikap kejiwaan yang baik (afektif) dan keterampilan yang didasari oleh ilmu dan sikap baik manusia (psikomotorik) yang telah diperoleh dari proses pendidikan dan tuntunan agama, termasuk kemampuan dan sifat-sifat yang telah diusahakan oleh manusia (sifah al-muktasabah). Maka disinilah peranan orang tua di rumah tangga, guru di sekolah, dan tokoh agama di masyarakat, untuk membentuk manusia yang beragama, berilmu, dan berakhlaq mulia.
Pada awal perkembangan kejiwaan primitif, bahwa ada pendapat yang mengatakan kelahiran manusia itu sama. Dan yang membedakan adalah faktor pendidikan. Tetapi pendapat baru mengatakan tidak ada dua orang yang keluar di alam keujudan sama dalam tubuh, akal dari akhlaknya.
Ada teori yang mengemukakan masalah turunan, yaitu:
a) Turunan (pembawaan) sifat-sifat manusia.
Dimana-mana tempat orang membawa turunan dengan berbeda-beda sifat yang bersamaan. Seperti bentuk, pancaindra, perasaan, akal dan kehendak. Dengan sifat-sifat manusia yang diturunkan ini, manusia dapat mengalahkan alam didalam beberapa perkara, sedang seluruh binatang tidak dapat menghadapinya.
b) Sifat-sifat bangsa.
Selain adat kebiasaan tiap-tiap bangsa, ada juga sifat yang diturunkan sekelompok orang dahulu kepada kelompok orang sekarang. Sifat-sifat ini ialah menjadikan beberapa orang dari tiap-tiap bangsa berlainan dari beberapa orang dari bangsa lain, bukan saja dalam bentuk mukanya bahkan juga dalam sifat-sifat yang mengenai akal.

C. LINGKUNGAN
Salah satu faktor yang turut menentukan kelakuan seseorang atau suatu masyarakat adalah lingkungan (milleu). Lingkungan (milleu) adalah suatu yang melingkupi suatu tubuh yang hidup. Lingkungan tumbuh-tumbuhan oleh adanya tanah dan udaranya. Lingkungan manusia ialah apa yang melingkunginya dari negeri, lautan, sungai, udara dan bangsa.
Lingkungan ada dua macam, yaitu:
a) Lingkungan alam
Lingkungan alam telah menjadikan perhatian para ahli-ahli sejak zaman Plato sampai sekarang ini. Dengan memberi penjelasan-penjelasan dan sampai akhirnya membawa pengaruh. Menurut Ibnu Chaldun, tubuh yang hidup, hidupnya tergantung pada keadaan lingkungan yang ia hidup di dalamnya. Demikian juga halnya akal, yakni pengaruh mempengaruhi antara akal dan apa yang melingkunginya. Akal tidak tetap atau meningkat kecuali dengan mempergunakan pikirannya dalam keadaan di sekitarnya dan mengambil faedah dari lingkungan yang berada di sekitarnya.
Manusia jangan menyerah pada lingkungan, sehingga tidak dapat mengubahnya atau menguasainya, bahkan ia dengan pemberian akal dan kehendak, dapat mempergunakan sekitarnya untuk kepentingan dirinya. Ukuran hasilnya beberapa orang dalam hidup atau gagal, adalah tergantung kepada dapatnya mereka menguasai apa yang melingkunginya dan mempergunakan sekitarnya untuk kemanfaatan mereka dan dari tujuan ilmu pendidikan ialah menjadikan orang di dalam hidup untuk demikian itu.
Alam yang melingkupi manusia merupakan faktor yang mempengaruhi dan menentukan tingkah laku seseorang. Lingkungan alam mematahkan atau mematangkan pertumbuhan bakat yang dibawa oleh seseorang. Pada zaman Nabi Muhammad pernah terjadi seorang badui yang kencing di serambi masjid, seorang sahabat membentaknya tapi nabi melarangnya. Kejadian diatas dapat menjadi contoh bahwa badui yang menempati lingkungan yang jauh dari masyarakat luas tidak akan tau norma-norma yang berlaku.
b) Lingkungan pergaulan
Lingkungan yang kedua adalah lingkungan pergaulan, ia mengandung susunan pergaulan yang meliputi manusia, sekolah, pekerjaan, pemerintah, syiar agama, keyakinan, pikiran-pikiran, adat-istiadat, pendapat  umum, bahasa, kesusastraan, kesenian, pengetahuan dan akhlak. Singkatnya segala apa yang diperbuahkan oleh kemajuan manusia.
Manusia hidup selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Itulah sebabnya manusia harus bergaul. Oleh karena itu, dalam pergaulan akan saling mempengaruhi dalam fikiran, sifat, dan tingkah laku. Contohnya akhlak orang tua di rumah dapat pula mempengaruhi akhlak anaknya, begitu juga akhlak anak sekolah dapat terbina dan terbentuk menurut pendidikan yang diberikan oleh guru-guru disekolah.
Manusia apabila tumbuh dalam lingkungan yang baik, terdiri dari rumah, sekolah dan teman yang baik, beragama, mempunyai undang-undang yang adil, tentu akan menjadi orang baik. Banyak dari penyakit pergaulan akhlak yang timbul karena lingkungan. Kemiskinan, banyaknya peminta-minta, pengangguran dan keburukan akhlak adalah buah dari pendidikan yang rusak pada umumnya dan tumbuh dalam rumah yang tidak baik dan keburukan susunan pergaulan.  Oleh karenanya pembunuh dan pemalas adalah karena terdidik dalam rumah yang baik, mereka dilengahkan sehingga lingkungan dapat mempengaruhi dengan sangat buruk.
Antara keturunan dan lingkungan ada hubungan yang erat. Keduanya membatasi tiap-tiap jisim hidup. Baik berpengaruh terhadap sukses atau gagalnya seseorang. Ahli pengetahuan pimpinan “Francis Galton” dan “Karl Pearson” berpendapat bahwa turunan itu adalah pengaruh yang besar pada manusia, sedang lingkungan itu adalah sebab yang lemah bila dibandingkan dengan turunan.
Para ahli pengetahuan ilmu hayat dan ilmu pergaulan terutama angkatan baru berpendapat bahwa penghargaan yang besar terhadap turunan itu melebihi dari kenyataan. Lebih dari 80% dari anak-anak dilahirkan semula sehat badannya dan lingkunganlah yang menimbulkan sakit pada mereka, demikian juga seorang anak dilahirkan dengan bersenjata akal yang masih lunak dan menerima pertumbuhan dan persediaan yang baik.
Akal ialah yang diberikan oleh turunan, akan tetapi ketinggian pemberian ini tergantung kepada lingkungan. Banyak dari apa yang disandarkan kepada turunan pasti kalau diselidiki dengan sedalamnya harus disandarkan pula kepada lingkungannya, terutama mengenai apa yang disebut dengan “turunan pergaulan”, yaitu susunan pergaulan bangsa, susunan politik, pikiran-pikiran dan pendapat-pendapat umum. Ini semuanya berpengaruh kepada akal perseorangan dan memberi corak dalam bentuk yang tertentu, lalu diwaris oleh orang-orang sekarang dari orang-orang dahulu.
Walaupun terjadi perselisihan faham, nyata bahwa lingkungan dan turunan itu kedua-duanya adalah dua faktor yang membentuk akal dan akhlak.

D. KEBIASAAN
Suatu perbuatan bila diulang-ulang sehingga menjadi mudah dikerjakan disebut “Adat Kebiasaan”. Kebanyakan pekerjaan manusia jelmaan dari arah adat kebiasaan, seperti berjalan, berlari, cara berpakaian, berbicara dan lain sebagainya.
Kebiasaan merupakan suatu bentuk perbuatan berulang-ulang bentuk yang sama yang dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan-tujuan jelas dan dianggap baik dan benar. Contoh: memberi hadiah kepada orang-orang yang berprestasi dalam suatu kegiatan atau kedudukan, memakai baju yang bagus pada waktu pesta, berjalan kaki dijalur sebelah kiri dll.
Pada awalnya, taraf kebiasaan itu disadari dan orang menggunakan akal. Lama -kelamaan timbangan akal dan kesadaran semakin menipis ; dan kebiasaan jadi otomatis serta tidak disadari ( misalnya berjalan, sial antara lain ialah dorongan seks (kelamin), dorongan sosialitas atau hidup berkawan, dorongan meniru, dorongan berkumpul dan sebagainya. Dorongan-dorongan ini merupakan kualitas dari karakter.


Adat Kebiasaan Menurut Phsycology (Ilmu Jiwa)
Segala apa yang dirasakan oleh manusia dan apa yang diperbuatnya, berhubungan dengan urat sarap. Sehingga terbentuknya kebiasaan itu  karena adanya hubungan antara perbuatan dengan urat sarap.  Tiap-tiap perbuatan dan fikiran memberi bekas kepada urat sarap dan merobahnya dengan bentukan yang tertentu, sehingga bila dikehendaki, berfikir atau berbuat kedua kali maka akan lebih mudah, karena urat sarap telah sedia dan terbentuk menurut perbuatan itu. Dan tiap-tiap perbuatan atau fikiran sangat berpengaruh terhadap urat sarap. Contohnya: Orang  yang biasa meletakkan tangan dalam sakunya, maka ia ingin mengulanginya lagi karena urat sarapnya telah terbentuk dan terbiasa dengan perbuatan itu.
Fungsi Kebiasaan:
a. Memudahkan perbuatan yang dibiasakan
Umpamanya berjalan dan berjalan itu merupakan latihan yang berat. Untuk mempelajarinya memerlukan waktu berbulan-bulan lamanya. Tetapi jika perbuatan itu diulang-ulang maka akan menjadi sangat mudah, sehingga terbentuk adat kebiasaan, dan dapat melakukannya dengan mudah.
b. Menghemat waktu dan perhatian
Tatkala perbuatan diulang dan menjadi kebiasaan, maka ia dapat melakukan dalam waktu yang lebih singkat dan tidak memerlukan perhatian yang banyak. Contohnya: Menulis, saat kita mempelajarinya, untuk menulis sebaris saja kita memerlukan beberapa waktu, membutuhkan perhatian yang lebih dan mempersiapkan segala fikiran yang ada, akan tetapi setelah menjadi kebiasaan dapatlah seseorang menulis beberapa halaman dalam waktu yang sama ketika ia menulis satu baris.
Merubah Adat Kebiasaan
Tidak sedikit orang yang terkena akibat kebiasaan yang membahayakan, hendaknya ia merubahnya atau menghindarinya. Untuk membentuk kebiasaan harus ada keinginan kepada sesuatu dan diterimanya keinginan itu dan diulang-ulang keinginan itu. Sehingga untuk menghindarinya wajib melakukan kebalikan dari apa yang menyebabkannya, kita harus menolak keinginan untuk berbuat, maka kita akan dapat menghentikan kebiasaan tersebut.
Fikiran Dan Kebiasaan
Ahli ilmu jiwa menetapkan bahwa fikiran mendahului perbuatan. Bila fikiran dikemukakan pada otak dan diterima dalam waktu yang lama pasti akan membekas dan berubah menjadi perbuatan. Dan apabila perbuatan itu terus diulangi maka akan menjadi sebuah kebiasaan

E. KEHENDAK
Kehendak Tuhan adalah “ penjabaran-Nya atas objek-objek pengetahuan-Nya dalam bentuk eksistensi, sesuai dengan kebutuhan pengetahuan-Nya. “Kehendak kita identik dengan kehendak abadi Ilahiah, tetapi dalam berhubungan dengan kita, ia berpartisipasi dalam kesementaraan kita (hudust), dan kita menyebutnya “diciptakan”. Menurut Prof. Dr. Ahmad Amin adalah dengan semacam paksaan dan merdeka dengan semacam kemerdekaan. Adapun macamnya paksaan ialah karena kehendak itu tunduk pada dua faktor, faktor batin dan faktor luar. Faktor batin ialah apa yang diwariskan oleh manusia dan orang-orang tuanya, yang dapat membentuk kehendak dengan bentukan yang tertentu dan tidak dapat menghindarinya. Kalau engkau memerintah engkau akan mencintai musuhmu, tentu itu adalah di luar kuasamu, sebab hal itu melenyapkan insting cinta diri, akan tetapi masuk dalam kuasamu bila perintahnya supaya jangan berlaku melebihi batas terhadap musuhmu. Sedangkan faktor luar ialah kekuatan pendidikan dan lingkungan dan apa yang telah ditetapkan oleh ahli-ahli ilmu pergaulan bahwa manusia itu terpengaruh dalam perbuatan pada umumnya dengan perbuatan-perbuatan masyarakat yang di dilamnya ia hidup.
Kedua faktor ini mengendalikan kehendak dan yang menggambarkan baginya jalan untuk berbuat sehingga dapat menebak apa yang akan dilakukan oleh manusia yang membentuk akhlak. Adapun macamnya kemerdekaan ialah karena insting , lingkungan dan pendidikan itu tidak melenyapkan pemilihannya (ikhtiarnya) dengan alasan apa yang kita rasakan dari kita tentang kemerdekaan memilih. Kalau sekiranya kehendak manusia itu tidak merdeka di dilam memilih kebaikan dan keburukan, tentu kewajiban akhlak serta perintah dan larangan, tidak ada gunanya dan tidak ada artinya pahala dan siksa, pujian dan celaan.

F. PENDIDIKAN
Dunia pendidikan, mempunyai pengaruh besar terhadap perubahan perilaku akhlak seseorang. Berbagai ilmu diperkenalkan, agar para peserta didik memahami dan dapat melakukan suatu perubahan pada dirinya.  Sekolah merupakan lingkungan pendidikan kedua setelah keluarga dimana dapat mempengaruhi akhlak anak. Dengan adanya suatu pembelajaran anak dituntut untuk bisa mengaplikasikannya di manapun anak berada. Seperti siswa diberikan pelajaran “ AKHLAK “ maka memberitahu bagaimana seharusnya manusia itu bertingkah laku, bersikap terhadap sesama dan penciptanya (Tuhan).
Di dalam sekolah atau lingkungan pendidikan berlangsung beberapa bentuk dasar dari kelangsungan pendidikan. Pada umumnya yaitu pembentukan sikap-sikap dan kebiasaan, dari kecakapan-kecakapan pada umumnya, belajar bekerja sama kawan sekelompok.
Dengan demikian, strategi sekali, di kalangan pendidikan dijadikan pusat pembentukan perilaku yang kurang baik untuk diarahkan menuju ke perilaku yang baik. Maka dibutuhkan beberapa unsur dalam pendidikan, untuk bisa dijadikan agen perubahan sikap dan perilaku manusia,  yaitu :

a. Tenaga Pendidik
Dari tenaga pendidik (pengajar) perlu memiliki kemampuan profesionalitas dalam bidangnya. Dia harus mampu memberi wawasan, materi, mengarahkan dan membimbing anak didiknya ke hal yang baik. Karena suatu perilaku pendidik mempunyai pengaruh besar terhadap pola pikir dan perilaku siswa.
b. Materi Pengajaran
Apabila materi pengajaran yang disampaikan oleh pendidik menyimpang dan mengarah ke perubahan perilaku yang menyimpang, inilah suatu keburukan dalam pendidikan. Tetapi sebaliknya, apabila materi yang disampaikan baik dan benar setidaknya siswa akan terkesan dalam pribadinya masing-masing. Materi tersebut akan memotivasi bagaimana siswa akan bertindak yang baik dan benar.
c. Metodologis pengajaran
Metodologis pengajaran juga perlu diperhatikan dalam pengajaran. Karena penguasaan metodologis sebagai seorang pendidik yang akan berperan aktif dalam mempengaruhi siswa penting menjadi keahliannya.
d. Lingkungan sekolah
Dalam pendidikan lingkungan sekolah adalah sebagai tempat bertemunya sebuah watak. Perilaku dari masing-masing anak yang berlainan. Dengan perbedaan perilaku dan kondisi anak maka akan berpengaruh juga terhadap kepribadian anak. Dengan demikian lingkungan pendidikan sangat mempengaruhi jiwa anak didik. Dan di lingkungan pendidikan ini anak didik akan diarahkan ke mana anak didik dan perkembangan kepribadian.
























BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Insting adalah kemampuan berbuat pada suatu tujuan yang dibawa sejak lahir, merupakan pemuasan nafsu, dorongan-dorongan nafsu, dan dorongan psikologis. Insting juga merupakan kesanggupan melakukan hal yang kompleks tanpa dilihat sebelumnya, terarah kepada suatu tujuan yang berarti bagi subjek tidak disadari langsung secara mekanis.
2. Perpindahan sifat-sifat tertentu dari orang tua kepada keturunannya, maka disebut al-Waratsah atau warisan sifat-sifat. Warisan sifat orang tua terhadap keturunannya, ada yang sifatnya langsung dan tidak langsung. Artinya, langsung terhadap anaknya dan tidak langsung terhadap anaknya, misalnya terhadap cucunya. Sebagai contoh, ayahnya adalah seorang pahlawan, belum tentu anaknya seorang pemberani bagaikan pahlawan, bisa saja sifat itu turun kepada cucunya.
3. Salah satu faktor yang turut menentukan kelakuan seseorang atau suatu masyarakat adalah lingkungan (milleu). Lingkungan (milleu) adalah suatu yang melingkupi suatu tubuh yang hidup. Lingkungan tumbuh-tumbuhan oleh adanya tanah dan udaranya. Lingkungan manusia ialah apa yang melingkunginya dari negeri, lautan, sungai, udara dan bangsa.
4. Suatu perbuatan bila diulang-ulang sehingga menjadi mudah dikerjakan disebut “Adat Kebiasaan”. Kebanyakan pekerjaan manusia jelmaan dari arah adat kebiasaan, seperti berjalan, berlari, cara berpakaian, berbicara dan lain sebagainya. Kebiasaan merupakan suatu bentuk perbuatan berulang-ulang bentuk yang sama yang dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan-tujuan jelas dan dianggap baik dan benar. Contoh: memberi hadiah kepada orang-orang yang berprestasi dalam suatu kegiatan atau kedudukan, memakai baju yang bagus pada waktu pesta, berjalan kaki dijalur sebelah kiri dll.
5. Ada 2 faktor dari kehendak adalah faktor batin dan faktor luar. Faktor batin adalah apa yang diwariskan oleh manusia dan orang tuanya, yang dapat membentuk kehendak dengan bentukan tertentu dan tidak dapat menghindarinya. Dan faktor luar adalah kekuatan pendidikan dan lingkungan dan apa yang telah ditetapkan para ahli ilmu pergaulan bahwa manusia itu terpengaruh dalam perbuatannya, pada umumnya dengan perbuatan masyarakat yang didalamnya ia hidup.
6. Dunia pendidikan, mempunyai pengaruh besar terhadap perubahan perilaku akhlak seseorang. Berbagai ilmu diperkenalkan, agar para peserta didik memahami dan dapat melakukan suatu perubahan pada dirinya. Sekolah merupakan lingkungan pendidikan kedua setelah keluarga dimana dapat mempengaruhi akhlak anak. Dengan adanya suatu pembelajaran anak dituntut untuk bisa mengaplikasikannya di manapun anak berada. Seperti siswa diberikan pelajaran “ AKHLAK “ maka memberitahu bagaimana seharusnya manusia itu bertingkah laku, bersikap terhadap sesama dan penciptanya (Tuhan).




B. SARAN
Demikan apa yang dapat kami tulis tentang aspek-aspek yang mempengaruhi pembentukan akhlak. Kami berharap apa yang telah kami tulis bisa memberikan manfaat pada kita semua. Dalam penulisan makalah ini kami sebagai penulis mengakui bahwa makalah kami ini masih banyak kekurangannya. Maka dari itu, kami sebagai penulis mengharapkan kepada pembaca untuk memberikan kritik dan masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah kami ini. Terima kasih banyak kami ucapkan kepada para pembaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar