Pengikut

Jumat, 17 Maret 2017

makalah tasawuf bab ahlak

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia adalah makhluk yang diberikan kelebihan yang luar biasa daripada makhluk yang lainnya, yakni berupa akal. Karena akal merupakan anugerah yang amat besar.  Oleh karena itu hendaklah akal itu dipergunakan dengan sebaik-baik mungkin, salah satunya dengan berakhlak baik.
Dalam kitab Ta’limul Muta’allim disebutkan bahwa satu orang yang beradab lebih baik dari 1000 orang alim. Jadi, nampak jelas bahwa akhlak itu memang hal yang utama dan  patut diutamakan.
1.2 Rumusan masalah
Penulis merumuskan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana pengertian akhlak?
2. Apa saja yang menjadi ruang lingkup akhlak?
3. Bagaimana hubungan akhlak dengan ilmu-ilmu lain?
4. Apa manfaat manfaat mempelajari akhlak?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui tentang akhlak
2. Mengetahui ruang lingkup akhlak
3. Mengetahui hubungan akhlak dengan ilmu-ilmu lain
4. Mengetahui manfaat mempelajari akhlak



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Kata akhlak berasal dari bahasa Arab yang merupakan jamak dari khuluqun. Akhlak menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat.  
Kata akhlak jika diurai secara bahasa berasal dari rangkaian huruf-huruf kha-la-qa, jika digabung (khalaqa) berarti menciptakan. Hal ini mengingatkan kita pada kata Al-Khaliq yaitu Allah Swt. Dan kata makhluk, yaitu seluruh alam yang Allah ciptaakan. Sehingga, kata akhlak tidak bisa dipisahkan dari kata Al-Khaliq (Allah) dan makhluk (baca: hamba). Akhlak berarti sebuah perilaku yang muatannya “menghubungkan” hamba dengan Allah Swt., sang Khaliq. 
Menurut Imam Al-Ghozali, akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan dengan mudah tanpa perlu pertimbangan pikiran terlebih dulu. 
Prof. Dr. Ahmad Amin mendefinisikan akhlak sebagai pembiasaan suatu kehendak. Hal ini berarti bahwa suatu kehendak yang dibiasakan akan membentuk suatu kebiasaan yang disebut akhlak. Dalam penjelasan ini, kehendak berarti ketentuan dari beberapa keinginan manusia setelah bimbang, sedangkan kebiasaan adalah perbuatan yang mudah dilakukan karena sering dilakukan.  
Prof. KH. Farid Ma’ruf menyimpulkan pengertian akhlak sebagai berikut.
‘‘Kehendak jiwa yang menimbulkan perbuatan dengan mudah karena kebiasaan dan tidak membutuhkan pertimbangan pikiran terlebih dahulu”.  
Dari beberapa definisi di atas, penulis menyimpulkan bahwa akhlak adalah suatu perbuatan yang dibiasakan dan dilakukan secara spontan karena adanya dorongan jiwa.
2.2 Ruang Lingkup Akhlak 
Dalam perkembangan selanjutnya, akhlak tumbuh menjadi suatu ilmu yang berdiri sendiri, yaitu ilmu yang memiliki lingkup pokok bahasan, tujuan, rujukan, aliran, dan para tokoh yang mengembangkannya. Semua aspek yang terkandung dalam akhlak ini kemudian membentuk satu kesatuan yang saling berhubungan dan membentuk suatu ilmu.
Objek ilmu akhlak adalah perilaku manusia, dan penetapan nilai perilaku sebagai baik atau buruk. Melihat secara lahiriyah perilaku manusia dapat digolongkan menjadi:
1. Perilaku yang lahir dengan kehendak dan disengaja.
2. Perilaku yang lahir tanpa kehendak dan tanpa disengaja
Jenis perilaku yang pertama yakni yang lahir dengan kehendak dan disengaja, inilah perilaku yang menjadi objek dari ilmu akhlak. Jenis yang kedua tidak menjadi objek ilmu akhlak sebab perilaku-perilaku yang lahir tanpa kehendak manusia (seperti gerakan reflek mengedipkan mata karena ada benda akan masuk) tidak menjadi kajian ilmu akhlak. Perilaku ini tidak dapat dinilai baik atau buruk karena perilaku tersebut terjadi dengan sendirinya tanpa dikehendaki dan tanpa disengaja. 
Menurut Rosihon Anwar dalam Buku Akhlak Tasawuf, mengenai ruang lingkup akhlak, Abdullah Darraz  dalam buku Dustur al-Akhlaq fi Al-Quran, membagi ruang lingkup akhlak atas lima bagian:
1. Akhlak Pribadi
a) yang diperintahkan (al-awamir)
b) yang dilarang (al-nawahi)
c) yang diperbolehkan (al-mubahat), dan
d) akhlak dalam keadaan darurat (al-mukhalafah bi al-idhthirar).
2. Akhlak berkeluarga
a) kewajiban orang tua dan anak (wajibat nahwa ushul wa al-furu)
b) kewajiban suami & isteri (wajibat baina al-azwaj)
c) kewajiban terhadap karib dekat (wajibat nahwa al-aqarib).
3. Akhlak bermasyarakat,
a) yang dilarang (al-makhdzurat)
b) yang diperintahkan (al-awamir), dan
c) kaidah-kaidah adab (qawa’id al-adab).
4. Akhlak bernegara
a) hubungan antara pemimpin dan rakyat (al-‘alaqah baina al-rais wa al-sya’b)
b) hubungan luar negeri (al-alaqah al-kharijiyyah).
5. Akhlak beragama;
a) kewajiban terhadap Allah swt
b) kewajiban terhadap Rasul
Menurut sistematika yang lain, ruang lingkup akhlak, antara lain:
1. Akhlak terhadap Allah SWT
2. Akhlak kepada Rasul SAW
3. Akhlak untuk diri pribadi
4. Akhlak dalam keluarga
5. Akhlak dalam masyarakat
6. Akhlak bernegara.
Akhlak dibagi berdasarkan sifatnya dan berdasarkan objeknya.
Berdasarkan sifatnya, akhlak terbagi menjadi dua bagian : 
1. Akhlak mahmudah (akhlak terpuji) atau akhlak karimah (akhlak yang mulia), di antaranya:
a.    Rida kepada Allah SWT
b.    Cinta dan beriman kepada Allah SWT
c.    Beriman kepada Malaikat, Kitab, Rasul, hari Kiamat, dan takdir
d.    Taat beribadah
e.    Selalu menepati janji
f.    Melaksanakan amanah
g.    Berlaku sopan dalam ucapan dan perbuatan
h.    Qanaah (rela terhadap pemberian Allah SWT)
i.    Tawakal
j.    Sabar
k.    Syukur
l. Tawadhu’ (merendahkan diri) dan segala perbuatan yang baik  menurut pandangan Al-Quran dan Al-Hadis.
2. Akhlak mazhmumah (akhlak tercela) atau akhlak sayyiyah (akhlak yang jelek), di antaranya:
a.    Kufur
b.    Syirik
c.    Murtad
d.    Fasik
e.    Riya’
f.    Takabur
g.    Mengadu domba
h.    Dengki/iri
i.    Hasut
j.    Kikir
k.    Dendam
l.    Khianat
m.    Memutuskan silaturahmi
n.    Putus asa
o.    Segala perbuatan tercela menurut pandangan Islam
Berdasarkan objeknya, akhlak dibedakan menjadi dua:
1. Akhlak kepada khalik
2. Akhlak makhluk, yang meliputi:
a. Akhlak terhadap Rasulullah SAW
b. Akhlak terhadap keluarga
c. Akhlak terhadap diri sendiri
d. Akhlak terhadap sesama atau orang lain
e. Akhlak terhadap lingkungan alam
2.3 Hubungan Akhlak dengan Ilmu-Ilmu Lain
a. Hubungan antara akhlak dengan psikologi
Hubungan antara akhlak dengan psikologi mempunyai pertalian yang erat dan kuat. Objek penyelidikan Psikologi adalah kekuatan perasaan, paham, mengenal, ingatan, kehendak, kebebasan, khayal, rasa kasih, kelezatan dan rasa sakit. Adapun akhlak memerlukan apa yang di persoalkan oleh ilmu jiwa tersebut. Dapat di katakan bahwa ilmu jiwa (psikologi) adalah sebagai pendahuluan dalam ilmu akhlak. Sehingga di dalam ini akhlak berperan untuk mengetahui bahwasannya jiwa mereka tersebut termasuk jiwa yang baik atau jiwa yang buruk.
b. Hubungan akhlak dengan sosiologi
Didalam ilmu sosiologi mempersoalkan tentang kehidupan masyarakat. Manusia tidak bisa hidup tanpa masyarakat. Dapat di sebutkan pula bahwa ilmu sosiologi mempelajari masyarakat manusia yang bagaimana supaya meningkat ke atas, bagaimana tentang menyelidiki tentang bahasa, agama dan keluarga dan bagaimana membentuk Undang-undang dan pemerintahan dan sebagainya. Dengan demikin akhlak akan membantu akan pembuatan hukum yang baik dan benar serta mengubah perilaku yang jauh lebih baik.
c. Hubungan akhlak dengan ilmu hukum 
Kedua hal tersebut sangatlah berkaitan antara akhlak dan ilmu hukum.Tujuannya mengatur perbuatan manusia untuk kebahagiannya. Akhlak memerintah berbuat apa yang berguna dan melarang berbuat segala apa yang mudarat. Sedangkan ilmu hukum tidak, karena banyak perbuatan yang baik dan berguna tidak di perintahkan oleh ilmu hukum. Seperti berbuat baik kepada fakir miskin dan perlakuan baik antar suami istri.
Dengan demikian akhlak sangatlah penting bagi ilmu hukum, memang benar hukum dapat berbicara “Jangan mencuri membunuh”, tetapi tidak dapat berkata sesuatau tentang kelanjutannya, sedang akhlak bersamaan dengan ilmu hukum di dalam mencegah pencurian dan pembunuhan, dapat menambah dengan katanya: “jangan berfikir dalam keburukan”. Jangan mengkhayalkan yang tidak berguna. Ilmu hukum dapat menjaga hak milik manusia, dan mencegah orang yang akan melanggarnya, akan tetapi tidak dapat memerintahkan kepada si pemilik agar mempergunakan miliknya untuk kebaikan. Adapun yang dapat memerintahkan ialah akhlak.
d. Hubungan Akhlak dengan iman
Iman menurut bahasa artiya membenarkan sedangkan menurut syara’ adalah membenarkan dengan hati, dalam arti menerima dan tuduk pada apa yang di ketahui bahwa hal tersebut dari agama Nabi Muhuammad SAW. Dan ada yang menyatakan lebih tegas lagi bahwa di samping membenarkan dalam hati, juga menuturkan dengan lisan dan mengerjakan dengan anggota badan. Dari pengertian tersebut di atas dapatlah di ambil pengertian bahwa iman bukan hanya sekedar tasdiq (membenarkan) dalam hati saja, tetapi juga menerima dan tanduk.
Denga kata lain setelah benar-benar membenarkan atau mempercayai dalam hatinya, kemudian di lanjutkan dengan realisasi penerimaan lisan dan juga di amalkan dengan anggota badan.
Dari uraian di atas dapatlah di ketahui bahwa hubungan antara akhlak dengan ilmu sangat erat, hal tersebut di sebabkan keduannya mempunyai titik pangkal yang sama, yaitu hati nurani. Jadi keduanya adalah merupakan gambaran jiwa sanubari yang bersifat kejiwaan dan abstrak. Akhlak adalah merupakan sikap jiwa yang telah tertanam dengan kuat yang mendorong pemiliknya untuk melakukan perbuatan. Demikian juga iman adalah bertempat dalam hati yang mempunyai daya dorong terhadap tingkah laku atau perbuatan seseorang. Dengan demikian akhlak yang baik adalah mata rantai dari pada keimanan.     
2.4 Manfaat Mempelajari Akhlak
Dengan bekal ilmu akhlak, orang dapat mengetahui batas mana yang baik dan batas mana yang buruk. Juga dapat menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Dengan maksud dapat menempatkan sesuatu pada proporsi yang sebenarnya. Orang yang berakhlak dapat memperoleh irsyad, taufik, dan hidayah sehingga di dunia dan di akhirat. Kebahagiaan hidup oleh setiap orang selalu didambakan kehadirannya di dalam lubuk hati. Dimana hidup bahagia merupakan hidup sejahtera dan selalu mendapat ridha Allah, dan juga selalu disenangi oleh sesama makhluk.  
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang mulia karena karunia yang di berikan Allah kepadanya, berupa akal pikiran. Itulah yang membedakannya dengan makhluk Allah yang lain. Manusia juga mempunyai dua jalur hubungan, yaitu habluminallah dan habluminannas. Dan kedua jalur tersebut harus dipelihara dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, sehingga segala tindakan , perbuatan dan gerak-geriknya mendapat ridho Allah dan tentunya akan dihormati oleh sesamanya. Dengan demikian maka akan di peroleh kebahagian baik di dunia maupun di akhirat kelak, yang merupakan tujuan hidup manusia yang sesungguhnya. 
Di dalam islam kedua jalur  hubungan tersebut diatur dalam apa yang dinamakan dengan amal sholeh atau lebih tegasnya disebut dengan “akhlak”. Oleh karena itu akhlak merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Akhlak juga merupakan mutiara hidup yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, sebab manusia tanpa akhlak maka akan hilang derajat kemanusiaannya sebagai makhluk allah yang paling mulia dan turunlah ke derajat para binatang, bahkan lebih rendah darinya. Oleh karena itu, jika suatu negara yang masing-masing manusianya sudah tidak berakhlak, maka kehidupan bangsa dan masyarakat tersebut menjadi kacau balau dan berantakan. Setiap orang tidak lagi peduli tentang bik dan buruk, halal dan haram, hal ini adalah karena yang berperan dan berfungsi pada diri masing-masing manusia adalah syahwat (nafsu) yang telah dapat mengalahkan akal pikiran.
Dari penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwasannya sangatlah penting bagi kita untuk mempelajari ilmu akhlak. Menurut dr. Hamzah Ya’qub, hasil atau hikmah dan faedah (manfaat ) dari akhlak adalah sebagai berikut:
a. Meningkatkan derajat manusia
Seperti dalam firman Allah SWT, dalam surah al-mujadalah  ayat 11:
يَرْفَعِ اللّهُ الَّذِيْنَ أَمَنُوْامِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوْاالْعِلْمَ دَرَجَاتٍطوَاللَّهُ بِمَاتَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ.-<(المجدله)>-
Artinya: “Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan kepada derajat yang tinggi. Dan Allah tahu betul apa-apa yang kamu kerjakan”.
Serta dalam hadits Rasullullah saw. Bersabda yang artinya:
“dari Anas r.a, rasulullah saw pernah bersabda: sesungguhnya seorang hamba mencapai derajat yang tinggi  di hari akhirat dan kedudukan yang mulia karna akhlaknya yang baik walaupun ia lemah dalam ibadah”. (HR. Al-tabhrani)
Dari dalil-dalil di atas, tentulah orang-orang yang mempunyai pengetahuan dalam ilmu akhlak lebih utama daripada orang yang tidak tahu ilmu akhlak. Pengetahuan ilmu akhlak itu dapat mengantarkan seseorang kepada jenjang kemuliaan akhlak, karena dengan ilmu akhlak manusia akan dapat menyadari mana perbuatan yang baik yang dapat mengantarkan kepada kebahagiaan dan mana yang akan menjerumuskan kepada kesesatan. Dengan ilmu akhlak pula manusia akan selalu berusaha memelihara diri supaya senantiasa berada pada garis akhlak mulia, yang diridhai Allah SWT. Dan menjauhi segala bentuk akhlak tercela yang di murkai Allah swt.
b. Menuntun pada kebaikan
Ilmu akhlak bukan sekedar memberitahukan mana yang baik dan mana yang buruk, melainkan juga mempengaruhi dan mendorong kita supaya membentuk hidup yang suci dengan memproduksi kebaikan dan kebajikan.
Sebagai contoh rasulullah saw. Karena baliau mengetahui akhlak, maka jadilah beliau sebagai manusia paling mulia akhlaknya, sebagaimana dinyatakan dalam al-qur’an qs.al qalam: 4
وَاِنَّكَ لَعَلىَ خُلُقٍ عَظِيمٍ. (القلم)
Artinya: “sesungguhnya engkau (muhammad) berbudi pekerti yang luhur”.
Serta Abdullah bin Umar ra. meriwayatkan bahwa nabi saw. pernah bersabda: “sesungguhnya yang paling baik diantara kamu ialah yang paling baik akhlaknya”.(HR. Bukhari dan muslim)
Dengan keterangan tersebut jelaslah bahwa pengetahuan akhlak adalah ilmu yang mengundang kepada kebaikan dan memberikan tuntunan kepadanya.
c. Manifestasi kesempurnaan iman
Iman yang sempurna akan melahirkan kesempurnaan akhlak. Dengan kata lain bahwa keindahan akhlak adalah manifestasi dari kesempurnaan iman. Sebaiknya tidaklah dipandang orang itu beriman dengan sungguh-sungguh jika akhlaknya buruk.
Abu Hurairah meriwayatkan penegasan rasulullah saw.
اَكمَلُ المُؤمِنِينَ اِيمَانًا اَحسَنُهُم خُلُقًا وَخِيَارُكُم لِنِسآئِهِم. (رواه الترمذي)
Artinya: “orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya. Dan sebaik-baik diantara kamu ialah yang terbaikkepada istrinya”.(HR.at-turmuzi)
Dari hadist diatas dapat kita ketahui bahwa untuk menyempurnakan iman, haruslah menyempurnakan akhlak dengan mempelajari ilmunya.
d. Keutamaan di hari kiamat
Disebutkan dalam berbagai hadits bahwa rasulullah saw menerangkan orang-orang yang berakhlak luhur akan menempati kedudukan yang terhormat di hari kiamat.
Dari abu hurairah RA. Nabi saw. Bersabda:
مَا مِنْ شَيْئٍ اَثْقَلَ فِىْ المِيْزَانِ العَبْدِالمُؤْمِنِ يَومَ القِيَامَةِ مِنْ حَسنِ الخُلُقِ وَاَنّ الله يُبغِضُ الفَاحِشَ البَذِيَّ. (رواه الترمذي)
Artinya : “tiada sesuatu yang lebih berat timbangan seseorang mukmin di hari kiamat daripada keindahan akhlak. Dan Allah benci kepada orang yang keji mulut dan kelakuan”. (hr.at-turmuzi)
Dari Jabir ra. Berkata, rasulullah saw. bersabda yang artinya: “sesungguhnya orang yang sangat saya kasihi dan yang terdekat padaku majelisnya pada hari kiamat ialah yang terbaik budi pekertinya. Dan orang yang sangat saya benci dan terjauh dariku pada hari kiamat yaitu orang yang banyak bicara, sombong dalam pembicaraannya dan berlagak menunjukkan kepandaiannya”.(hr. At-turmuzi)
e. Kebutuhan pokok dalam keluarga
Akhlak merupakan faktor mutlak dalam menegakkan keluarga sejahtera. Keluarga yang tidak dibina dengan tonggak akhlak yang baik tidak akan dapat bahagia, sekalipun kekayaan materinya melimpah ruah. Sebaliknya keluarga yang pas-pasan hidup bahagia karena faktor akhlak tetap dipertahankan seperti yang di cerminkan rasulullah saw. dalam rumah tangganya. Akhlak luhur itulah yang mengharmoniskan rumah tangga. Segala tantangan rumah tangga yang sewaktu-waktu datang dapat dihadapi dengan rumus-rumus akhlak.
f. Membina kerukunan antar tetangga
Pentingnya akhlakul karimah disini cukup jelas, karena betapa banyak lingkungan yang gaduh karena tidak mengindahkan kode etika (akhlak). Islam mengajakan agar antara tetangga dibangun jembatan emas berupa silaturrahmi, mahabbah, dan mawaddah. Nabi saw dengan telitinya memperhatikan masalah ini, sampai-sampai beliau anjurkan jangan merasa malu menghadiahkan kepada tetangganya sekalipun hanya berupa kaki kambing atau kuah gulai.
Ada pula dalam hadits yang menunjukkan bahwa kita dianjurkan untuk bergaul dengan akhlak yang baik. Yaitu:
عن أبي ذرّجندب بن جناد ة وأبي عبدالرحمن معاذ بن جبل رضي الله عنهما عن رسول الله صلى الله عليه وسلّم قال: اِتَّقِ اللَّه حيثما كنت، واتبع السّيّئة الحسنة تمحها، وخالق النّاس بخلق حسن [رواه اترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]
Artinya: “Dari Abu Zar, Jundub Bin Junadah Dan Abu  Abdurrahman, Dan Mu;Az Bin Jabal RA., Dari Rasulullah Saw. Bersabda: bertaqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik”. (hr. At-turmudzi)
g. Untuk mensukseskan pembangunan bangsa dan negara
Akhlak adalah faktor mutlak dalam nation dan caracter building. Suatu bangsa atau negara akan jaya, apabila warga negaranya terdiri dari orang-orang yang berakhlak mulia. Untuk itu para ahli akhlak tidak jemu-jemunya memperinagtkan betapa pentingnya perbaikan akhlak ini baik bagi pemimpin maupun masyarakat, sehingga tegaklah tonggak negara yang aman dan sejahtera.


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Akhlak adalah suatu perbuatan yang dibiasakan dan dilakukan secara spontan karena adanya dorongan jiwa. Dorongan jiwa yang dimaksud di sini adalah suatu kehendak.
Banyak sekali pendapat tentang ruang lingkup akhlak. Menurut Ajad Sudrajat dkk dalam buku Din Al-Islam, objek dari ilmu akhlak adalah perilaku yang lahir dengan kehendak dan disengaja. Menurut Rosihon Anwar dalam Buku Akhlak Tasawuf, mengenai ruang lingkup akhlak, Abdullah Darraz  dalam buku Dustur al-Akhlaq fi Al-Quran, membagi ruang lingkup akhlak atas lima bagian yaitu  akhlak pribadi, akhlak berkeluarga, akhlak bermasyarakat, akhlak beragama, akhlak berenegara. Adapun menurut sistematika yang lain, ruang lingkup akhlak, antara lain: akhlak terhadap Allah SWT, akhlak kepada Rasul SAW, akhlak untuk diri pribadi, akhlak dalam keluarga, akhlak dalam masyarakat, dan akhlak bernegara.
Akhlak mempunyai hubungan erat dengan ilmu-ilmu lain, seperti dengan ilmu psikologi, sosiologi, hukum, dan iman. Kaitannya dengan psikologi adalah mengenai jiwa, apakah termasuk jiwa yang baik atau buruk. Adapun dengan sosiologi adalah sebagai pembentuk maupun pengubah akhlak bermasyarakat sebelumnya menjadi yang lebih baik. Akhlak dengan ilmu hukum kaitannya adalah akhlak sebagai pengatur perbuatan manusia demi kebahagiaannya bersamaan dengan peraturan hukum yang ada. Yang lebih penting lagi adalah kaitannya akhlak dengan iman karena akhlak yang mulia merupakan rantai dari keimanan.
Manfaat dalam mempelajari ilmu akhlak antara lain: meningkatkan derajat manusia, menuntun pada kebaikan dan manifestasi kesempurnaan iman. Manfaat yang lainnya adalah akhlak dapat menempatkan kita pada kedudukan yang terhormat di hari kiamat, dan dalam menegakkan keluarga sejahtera, akhlak merupakan faktor mutlak yang harus dimiliki. Selain itu, akhlak juga berguna untuk menyukseskan pembangunan bangsa dan negara serta membina kerukunan antar tetangga.


3.2 Saran
Makalah yang penulis tulis tentang pengertian akhlak semoga kelak bisa memberikan sumbangan positif dalam berbagai bidang kehidupan manusia, khususnya dunia pendidikan di Indonesia. Karena akhlak adalah hal yang amat penting dalam kehidupan, maka hendaknya untuk memulai berakhlak baik. Secerdas-cerdas manusia, sekaya-kaya manusia, sesukses-sukses manusia kalau tidak berakhlak apalah arti hidupnya. 



DAFTAR PUSTAKA
Azzarnuji. Ta’limul Muta’allim. Surabaya: Al-Miftah.
Ahmadi, Wahid. 2004. Risalah Akhlak, Panduan Perilaku Muslim Modern. Solo: Era Intermedika.
Mustofa, A. 2014. Akhlak Tasawuf. Bandung: CV Pustaka Setia.
Nata, Abuddin.  Akhlak Tasawuf. 2009.  Jakarta: Rajawali Pers.
Rosihon, Anwar. 2010. Akhlak Tasawuf. Bandung: CV Pustaka Setia.
Sudrajat dkk, Ajad. 2013.  Din Al-Islam. Yogyakarta: UNY Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar