A. Kemunduran dan Kehancuran Dinasti Umayah
Kemunduran dan kehancuran Bani Umayah memiliki kaitan yang erat dengan proses berdirinya, serta kebijakan-kebijakan yang dijalankannya. Dalam dinasti ini sistem kekhalifahan diganti dengan sistem keturunan atau warisan demi kepentingan politik.
Sejak pemerintahan Bani Umayah berdiri dengan sistem kedinastiannya, umat Islam mengalami perpecahan. Dalam dinasti ini telah terbentuk suatu kelas yang memiliki ciri khas kebangsaan yang aneh, di mana kekuasaan harus dipegang oleh keluarga Bani Umayah. Meskipun mereka tidak memiliki potensi kepemimpinan, keluarga Bani Umayah tetap berobsesi sebagai pemegang kekuasaan.
Fenomena ini yang melahirkan penyakit kronis di tingkat elite penguasa terjadi. Saling berusaha meraih tampuk kepemimpinan. Langkah ini diikuti dengan tindakan-tindakan negatif, saling menipu, saling menjegal, dan bahkan membunuh. Kelompok penguasa ini diselimuti mendung persaingan internal yang menyebabkan enggan menunaikan tugas apapun. Keadaan ini melanda orang-orang Bani Umayah terutama di saat-saat terakhir usia dinasti ini, yaitu di zaman Walid bin Yazid dan Marwan bin Muhammad.
Setidaknya ada dua periode yang bisa dikatakan masa kemunduran Bani Umayah, pertama, ketika Yazid naik tahta, Husen bin Ali dan Abdullah bin Zubair serta para pengikutnya di Madinahtidak mau tunduk kepada Yazid, mereka mengangkat Husen sebagai khalifah, maka terjadilah pertempuran antar pasukan Yazid dan pasukan Husen. Dalam pertempuran yang tidak seimbang di Karbela, pasukan Yazid mengalami kekalahan, Husen sendiri terbunuh, kepalanya dipenggal dan dikirim ke Damaskus, sedangkan tubuhnya dikubur di Karbela.
Dalam kondisi negara yang tidak stabil, Yazid bin Muawiyah wafat dan digantikan oleh Muawiyah bin Yazid. Di masa Muawiyah bin Yazid, Bani Umayah mengalami stagnasi, dan karena tidak mampu mengendalikan pemerintahan, akhirnya Muawiyah bin Yazid menyerahkan kekhalifahan itu.
Untunglah kondisi yang demikian segera dikendalikan Marwan bin Hakam (pengganti Muawiyah bin Yazid), apalagi setelah Marwan wafat digantikan oleh anaknya yang bernama Abdul Malik, Bani Umayah lebih dapat terkendalikan karena ia dipandang sebagai khalifah yang perkasa dan negarawan yang cakap sehingga kesatuan dunia lebih terkendalikan.
Kedua, yaitu periode yang membawa Bani Umayah kepada kehancurannya yaitu dimulai sejak khalifah ke-11, Walid bin Yazid. Pada masa Walid bin Yazid menjadi khalifah, pemerintahannya berlangsung satu tahun lebih, dianggap sebagai zaman terburuk selama pemerintahan Bani Umayah. Dan setelah itu, pemerintahan menjadi tidak stabil. Dengan ketidakstabilan itu maka merupakan kesempatan emas bagi orang-orang Abasiyah, di mana pada saat itu mereka mampu memobilisasi masa dan menyatukan barisan untuk menggempur Dinasti Umayah.
Ketika khalifah terakhir dijabat oleh Marwan bin Muhammad, ia sudah merasa kewalahan untuk menstabilkan Bani Umayah. Di masa pemerintahannya, Dinasti Umayah hancur setelah mengalami berbagai pergolakan selama lima tahun, yaitu setelah orang Abasiyah menyerang habis-habisan Marwan bin Muhammad dan orang-orangnya. Akhirnya dinasti ini benar-benar runtuh pada tahun 132 H.
B. Faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dan kehancuran Dinasti Umayah, antara lain:
1. Sistem Pergantian Khalifah
Memasuki masa kekuasaan Muawiyah yang menjadi awal pemerintahan Bani Umayah, Muawiyah mencoba mengubah sistem pemerintahan yang bersifat demokratis, seperti pada masa Khulafa’ur Rasyidin, menjadi monarchiheridetis (kerajaan turun-temurun).
Sejak Muawiyah sebagai penguasa, sesungguhnya mulai tercetuslah cara yang permanen untuk pembaiatan secara paksaan serta tumbuhnya dinasti-dinasti tirani, di mana para pemegang kekuasaan tidak menggunakan musyawarah, tetapi dengan kekuatan dan paksaan, dan bila seharusnya kekuatan diperoleh berdasarkan baiat, maka justru baiatlah yang berlangsung berdasarkan kekuatan.
Persoalan semakin rumit ketika terjadi penobatan dua orang putra mahkota sekaligus, seperti yang dilakukan oleh Marwan bin Hakam yang mengangkat anaknya, Abdul Malik dan Abdul Azis untuk menjadi putra mahkota. Begitu juga dengan Abdul Malik terhadap anaknya, Walid dan Sulaiman, kemudian juga Yazid bin Abdul Malik juga mengangkat saudaranya yang bernama Hisyam dan putranya sebagai penggantinya. Hal tersebut menimbulkan dampak persaingan di tingkat elite penguasa sendiri. Di mana putra mahkota pertama berusaha tidak memberi peluang kepada putra mahkota kedua pada saat ia berkuasa. Dari kasus di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem pergantian khalifah Bani Umayah tidak jelas dan tegas. Sudah tentu kasus yang terjadi itu memicu gejolak politik serta mengganggu stabilitas pemerintahan Umayah.
2. Figur Khalifah yang Lemah
Kecenderungan munculnya figur khalifah yang lemah, tidak memiliki potensi kepemimpinan dan bergaya glamor serta mengabaikan persoalan-persoalan agama merupakan konsekuensi logis sistem warisan kekhalifahan yang ditegakkan oleh dinasti Bani Umayah. Cerita tentang kehidupan beberapa orang khalifah yang zalim, serta mabuk-mabukan dan bersikap sewenang-wenang, bukanlah cerita baru bagi masyarakat saat itu.
Misalnya khalifah Yazid, oleh sejarawan Islam dianggap sebagai khalifah pertama dalam sejarah Islam yang bersikap “anggap enteng” terhadap segala persoalan, baik persoalan yang dimuliakan agama atau pun yang dilarang oleh agama. Ia juga tidak pernah mengalami pahit getirnya penyerangan pasukan Islam seperti yang dialami oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya. Perilaku yang tidak baik pun ditunjukkan oleh khalifah Yazid bin Abdul Malik yang tidak memerintah lama. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya hanya untuk pesta dan musik. Perilaku yang serupa juga ditunjukkan oleh khalifah Walin bin Yazid yang dianggap sebagai orang yang mabuk kekuasaan, bantuan-bantuan sosial dihambur-hamburkan dan bermabuk-mabukan. Sejarah mencatat hanya beberapa orang yang dianggap berhasil antara lain:
• Muawiyah bin Sofyan (661 – 680 M)
• Abdul Malik bin Marwan (685 – 705 M)
• Walid bin Abdul Malik (705 – 715 M)
• Umar bin Abdul Azis (717 – 720 M)
• Hisyam bin Abdul Malik (724 – 743 M).
Selain dari kelima khalifah ini dianggap sebagai khalifah yang lemah dan tidak berhasil. Khalifah-khalifah yang tidak berhasil memimpin kekhalifahannya, tampaknya dipengaruhi oleh latar belakang mereka sebagai putra mahkota yang hidupnya serba mewah dan ketika menjabat sebagai penguasa, mereka terlena dengan kekayaan yang melimpah ruah. Dengan gaya hidup yang demikian, dampaknya berpengaruh pada perkembangan jiwa dan potensi putra mahkota menjadi lemah dan lamban, sehingga kapasitas mereka untuk memimpin sebuah Bani Umayah sangat perlu dipertanyakan.
3. Banyaknya Pemberontakan
Lahirnya Bani Umayah dan kebijakan-kebijakan yang dilaksanakan yang berpotensi mengundang konflik, sentimen anti pemerintahan Bani Umayah telah tersebar secara intensif. Kelompok-kelompok yang merasa tidak puas bermunculan, misalnya kelompok Khawarij dan Syi’ah yang terus menerus memandang Bani Umayah sebagai perampas kekhalifahan. Kelompok muslim di Mekah, Madinah, dan Irak yang sakit hati atas status istimewa penduduk Syiria, muslim non-Arab (mawali) yang secara terang-terangan mengeluhkan status mereka sebagai ”warga kelas dua” di bawah muslim Arab, kelompok muslim yang saleh, baik Arab dan non-Arab juga memandang keluarga Umayah telah bergaya hidup mewah jauh dari gaya hidup yang Islami.
Di dalam sejarah disebutkan bahwa terdapat beberapa pemberontakan yang terjadi selama pemerintahan Bani Umayah, pemberontakan itu dimaksudkan untuk “mewakili” rasa ketidakpuasan di atas. Pemberontakan itu antara lain sebagai berikut:
a. Gerakan Kaum Khawarij
Ketidakpuasan kelompok Khawarij melahirkan kebencian yang sangat, tidak hanya kepada khalifah Ali bin Abi Thalib, tetapi juga kepada Muawiyah. Orang-orang Khawarij mengkoordinir massanya dan mengadakan pemberontakan kepada Muawiyah yang dipimpin oleh Farwah bin Naufal Al-Asyja’i. Pemberontakan orang-orang Khawarij terjadi lagi pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan, yang dipimpin oleh Nafi’i bin Al-Razzaq dan Qathiri bin Al-Fuja’ah. Mereka mampu menaklukkan daerah Ahwaz dan berhasil pula menegakkan kekuasaan di Sawad. Begitu pula Syabib bin Yazid Al-Syaibani mampu menghancurkan Bani Umayah dan memasuki Kufah bahkan sempat mengancam kedudukan Al-Hajjaj.
Pada waktu pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, kaum Khawarij muncul di Irak dngan pimpinan Syazab, akan tetapi kali ini dapat diatasi oleh Umar bin Abdul Aziz dengan cara diplomasi, karena memang Umar tidak menyukai pertumpahan darah. Tetapi setelah Umar bin Abdul Aziz wafat, mereka mengadakan pemberontakan kembali dan bahkan sempat memperoleh kemenangan di kufah dan sekitarnya sebelum dikalahkan oleh pasukan Maslamah bin Abdul Malik.
Gerakan berikutnya dilakukan oleh kaum Khawarij yang dipimpin oleh Abu Hamzah Al-Khariji (Mekah tahun 129 H) dan dapat menguasai wilayah Madinah pada tahun 130 H. Dan yang terakhir terjadi pada masa khalifah Marwan bin Muhammad, orang-orang Khawarij dipimpin oleh Dhahak bin Ais Al-Syaibani, pemberontakan ini bahkan sangat membahayakan Bani Umayah yang sudah semakin rapuh kekuatannya.
b. Gerakan Golongan Syi’ah
Ada beberapa persoalan yang menyebabkan orang Syi’ah berkeinginan terus untuk memberontak pemerintahan Bani Umayah,
Pertama,orang-orang Syi’ah beranggapan bahwa Muawiyah telah merampas hak Khalifah dan Ahl Al-Bait (Ali bin Abi Thalib). Ketika umat Islam membaiat Hasan bin Ali sebagai khalifah, Muawiyah tidak tinggal diam, melalui berbagai intrik dan pembayaran sejumlah besar uang, secara berangsur-angsur Muawiyah berhasil menyuap pembantu-pembantu dan dan para perwira tinggi Hasan. Akhirnya dia dapat memprotes dan memaksa Hasan menyerahkan jabatan khalifah kepadanya. Dan untuk menghindari pertumpahan darah, akhirnya Hasan pun menyerahkan jabatan khalifah itu kepada Muawiyah.
Kedua,Muawiyah tidak menepati isi perjanjiannya dengan Hasan bin Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan pergantian pemimpin setelah Muawiyah diserahkan kepada pemilihan umat islam. Maka deklarasi pengangkatan Yazid, putra Muawiyah, sebagai putra mahkota menyebabkan marahnya orang-orang Syi’ah.
Ketiga,kematian Husen bin Ali di Karbela ketika melawan pasukan Umayah dalam perang yang tidak seimbang, karena memang pasukan pemerintahan Umayah jauh lebih besar dibandingkan dengan pasukan Husen, Husen bin Ali gugur di tempat itu. Kepala Husen dipenggal dan kemudian dikirim ke Damaskus, sedangkan tumbuhnya dikubur di Karbela. Hal ini yang mengakibatkan orang-orang Syi’ah geram dan melakukan pemberontakan.
Keempat,orang-orang Umayah selalu menyebarkan fitnah dan caci maki terhadap keluarga Ahl Al-Bait bahkan di dalam khotbah sekalipun mereka tidak segan-segan menjatuhkan keluarga Ahl Al-Bait. Hal ini dilakukan untuk kepentingan politik, agar kedudukan pemerintahan Umayah semakin kuat. Hal ini juga yang menjadikan orang-orang Syi’ah marah.
Dengan alasan-alasan di atas, golongan Syi’ah semakin meningkatkan perlawanan kepada pemerintahan Bani Umayah, apalagi kaum Syi’ah juga mendapatkan simpati dari kalangan Islam. Orang-orang Syi’ah dapat mempertemukan kepentingan-kepentingannya dengan kepentingan orang Persia dan orang mawali yang merasa tidak mendapatkan perhatian secara layak dari pemerintahan Umayah. Maka pada tahun 65 H terjadi serangkaian pemberontakan di Kufah yang dikenal dengan Wardah. Pemberontakan ini sebagai reaksi atas perlakuan orang-orang Umayah terhadap kematian Husen di Karbela. Pemberontakan ini dipimpin oleh Sulaiman bin Shurad Al-Khuza’i, tetapi pemberontakan ini dapat dipadamkan oleh pasukan Bani Umayah yang dipimpin oleh Ubaidillah bin Yazid.
Pemberontakan orang Syi’ah yang terkenal adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Mukhtar Al-Ubaid di Kufah pada tahun 685 – 687 M. Mukhtar dibantu oleh banyak pengikut dari kalangan mawali yang berasal dari Persia, Armenia dan lain-lain, di mana waktu itu pemerintah Umayah dipimpin oleh Abdul Malik bin Marwan. Akan tetapi, terbunuhnya Mukhtar justru bukan oleh orang-orang Umayah, tetapi oleh kelompok oposisi lain, ia dibunuh oleh pasukan Mus’ab di bawah komando Abdullah bin Zubair.
Pemberontakan lain yang dilakukan oleh golongan Syi’ah adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Zaid bin Ali bin Husen bin Ali bin Abi Thalib. Ia menuntut haknya untuk menjadi khalifah, akan tetapi pemberontakan itu dapat dipatahkan oleh Yusuf bin Umar Al-Saqofi (wali Irak). Akan tetapi, justru pemberontakan ini dianggap sebagai momen pertama dari rangkaian pemberontakan-pemberontakan selanjutnya yang menjadikan dinasti Bani Umayah semakin terpojok. Di mana usaha Zaid bin Ali kemudian dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Yahya, pada masa pemerintahan Walin bin Yazid, gerakan ini dapat membunuh Amr bin Zarrah Al-Qisri seorang gubernur Dinasti Umayah di Naisabur.
c. Gerakan Oposisi Abdullah bin Zubair
Abdullah bin Zubair adalah putra dari Zubair bin Awwam. Ia termasuk kelompok Quraisy yang tidak menaruh kepercayaan kepada pemerintahan Bani Umayah, menurut Abdullah bin Zubair dan orang-orangnya, benar-benar tidak pernah mewakili kepentingan mereka. Karena itu orang-orang Quraisy berusaha merebut kembali kedudukan mereka dengan menjadikan Abdullah bin Zubair sebagai pemimpin. Ketika Yazid menjadi khalifah, Abdullah bin Zubairlah orangnya yang tidak mau atau menolak baiat kepada Yazid, yang demikian juga sikap Husen waktu itu.
Abdullah bin Zubair membangun gerakan oposisinya di Mekah. Dia baru menyatakan diri sebagai khalifah setelah Husen bin Ali terbunuh. Karena khalifah Yazid tidak mau pemerintahannya tergulungkan oleh gerakan Abdullah bin Zubair, akhirnya pasukan Yazid mengepung Mekah, dua pasukan bertemu, pertempuran pun akhirnya tak terelakan lagi. Tapi pertempuran itu terhenti karena mendengar bahwa khalifah Yazid wafat. Dan Muawiyah bin Yazid pun akhirnya diangkat sebagai khalifah menggantikan Yazid. Ketika Muawiyah bin Yazid tidak sanggup memimpin pemerintahan Bani Umayah, Abdullah merasa berada di atas angin dan mendapatkan dukungan dari hampir seluruh wilayah kecuali Syiria. Sungguh gerakan ini sangat membahayakan Bani Umayah. Pada saat itu, barangkali dapat dikatakan Abdullah bin Zubair telah dapat menguasai seluruh Arabia dan Syiria bagian utara.
Pada masa pemerintahan Marwan bin Hakam, Abdullah diserang oleh orang-orang Marwan, akan tetapi orang-orang Marwan gagal menumpas gerakan oposisi Abdullah bin Zubair, bahkan waktu itu panglima perang Marwan yang bernama Amr ibn Zubair yang juga masih saudara dengan Abdullah bin Zubair, ditangkap oleh pasukan Abdullah yang akhirnya meninggal di penjara.
Akan tetapi sebelum Marwan meninggal, Mesir sudah berada dalam kekuasaan Bani Umayah lagi, dan pada perkembangan selanjutnya, Abdullah bin Zubair tidak hanya harus menghadapi Umayah saja, tetapi juga harus berhadapan pula dengan gerakan oposisi lainnya, yaitu dan golongan Syi’ah dan Khawarij. Bahkan Abdullah terpojok ketika “peta” politik mengalami perubahan, akibat pemberontakan di Kufah oleh orang Syi’ah pada tahun 687 M, yang sebelumnya juga harus berhadapan dengan orang Khawarij di Basrah pada tahun 684 M.
Pada masa khalifah Abdul Malik, Abdullah ditekan oleh pasukan Abdul Malik yang dipimpin oleh panglimanya yang terkenal, Al-Hajjaj bin Yusuf. Setelah Thaif dan Madinah direbut oleh pasukan Hajjaj kemudian Mekah dikepung, dan di situlah pasukan Hajjaj mendapatkan kemenangan, menumpas habis para pemberontak, Abdullah pun akhirnya meninggal pada pertempuran itu tahun 692 M.
Walaupun Abdullah bin Zubair gagal mewujudkan cita-citanya untuk menggulingkan kekuasaan Bani Umayah, tapi gerakan yang dibangunnya cukup membuat Bani Umayah benar-benar tidak stabil.
4. Lahirnya Kembali Fanatisme Kesukuan
Pada masa kekuasaan Bani Umayah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qoys) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam muncul kembali dan bahkan makin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayah mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan.
Ketika Muawiyah bin Yazid menjabat sebagai khalifah, timbul pertempuran di Syiria antara kedua suku ras di atas, yang berkelanjutan selama pemerintahan Bani Umayah berjalan. Ketika Abdullah bin Zubair bangkit menjadi oposisi Umayah, Bani Qoys memihak kepada Abdullah bin Zubair, sehingga mereka tidak senang terhadap Bani Kalb yang waktu itu mendukung pemerintahan Umayah. Perselisihan Bani Qoys dan Bani Kalb semakin membesar setelah terjadinya pertempuran Marj Rahitt yang menelan korban jiwa yang sangat besar.
Karena persoalan kesukuan inilah yang menyebabkan pemberontakan Bani Kalb terhadap Marwan bin Muhammad, setelah ia memindahkan pemerintahan ke Harran dan menjadikan orang-orang dan Bani Qoys sebagai pendukungnya, padahal orang-orang dari Bani Kalblah dulu yang mendukung kepada pemerintahan Umayah.
Kemudian orang-orang Umayah mempunyai kecenderungan mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya juga mengakibatkan timbulnya kelas sosial baru, yang disebut mawali, seorang mawali hakekatnya adalah seorang muslim yang menurut garis keturunan ia tidak termasuk dalam suku Arab, misalnya orang Persia dan Mesir. Orang-orang mawali ini merasa tidak puas karena status mereka itu menggambarkan suatu inferioritas, mereka dianggap sebagai “warga kelas dua”, ditambah lagi dengan keangkuhan bangsa Arab yang diperlihatkan oleh orang-orang Bani Umayah.
Secara teoritis orang mawali sebagai orang muslim memiliki derajat yang sama dengan orang Arab, tetapi hal itu tidak tampak pada pemerintahan Bani Umayah. Dalam kenyataannya, orang Kristen Arab lebih disukai orang Umayah daripada muslim non-Arab. Tunjangan-tunjangan yang diberikan pemerintahan Umayah kepada orang-orang mawali lebih kecil daripada orang Arab asli. Sikap ini yang memupuk rasa permusuhan di kalangan mawali terhadap Bani Umayah.
Ketika Abdullah bin Muawiyah, cucu dari saudara laki-laki Ali bin Abi Thalib, mengadakan pemberontakan, tanpa ragu-ragu lagi orang mawali ikut bergabung dengan kelompok Abdullah bin Muawiyah ini. Orang-orang mawali menemukan saluran untuk mengungkapkan keinginannya dengan menggabungkan diri dalam gerakan Syi’ah Abbasiyah kelak mengakhiri riwayat dinasti Bani Umayah.
Faktor-faktor yang saling terkait dalam uraian di atas sangat berpengaruh sekali dalam perjalanan pemerintahan Bani Umayah yang mengakibatkan kemunduran dan kehancuran dinasti Bani Umayah.
Dan di saat-saat khalifah Bani Umayah terakhir dipegang oleh Marwan bin Muhammad, kondisi pemerintahan Bani Umayah memang sudah benar-benar gawat, Marwan benar-benar berhadapan dengan sekian persoalan, Marwan sibuk menutup hutang-hutang para pendahulunya, kekuasaannya juga terancam oleh pasukan Romawi Timur yang pada saat ia menjabat khalifah, pasukan Romawi bergerak hingga mampu menguasai pesisir barat Asia Kecil dengan Semenanjung Greek, Pantai Levantine, Pulau Cyprus, Pulau Rodes, dan Aradus.
Sementara itu, di dalam negeri sendiri ia harus menghadapi berbagai pemberontakan. Misalnya pemberontakan di kota Emessa (Homs), pemberontakan di dekat kota Damaskus yang dipimpin oleh Yazid bin Khalid Al-Tsauri, pemberontakan Palestina, pemberontakan Sulaiman bin Hisyam, pemberontakan kaum Khawarij di Irak yang dipimpin Dhahak bin Kais Al-Syaibani dan pemberontakan yang dipimpin oleh Abdullah bin Muawiyah di Kufah.
Di saat-saat terjadi banyaknya kekacauan itu, gerakan Abbasiyah yang selama initelah menyusun kekuatan secara rahasia, yang didukung oleh Bani Hasyim golongan syi’ah, dan kaum mawali, menumpahkan seluruh kekuatannya untuk menggempur habis-habisan kekuasaan Bani Umayah. Gerakan Abbasiyah ini berhasil menguasai seluruh wilayah Khurasan, seluruh wilayah Iran, dan selanjutnya mereka menuju Irak untuk menghancurkan pasukan Marwan yang ada di sana. Khalifah Marwan bin Muhammad melarikan diri hingga ke Mesir.
Akhirnya khalifah Marwan ditangkap di sebuah biara, di pelabuhan Abusir, di muara Sungai Nil. Kemudian dia dijatuhi hukuman mati. Kepalanya dikirim kepada Abul Abbas Al-Saffah (khalifah pertama daulah Bani Abbasiyah) di Kufah.
Dengan meninggalnya khalifah Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayah pada tahun 132 H/750 M, maka berarti jatuhlah pemerintahan Bani Umayah dan sekaligus sebagai pertanda lahirnya daulah baru, yaitu daulah Bani Abbasiyah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar