Pengikut

Jumat, 17 Maret 2017

makna tasawuf


A.    Pengertian Tasawuf
Secara bahasa akhlak berasal dari kata اخلقخٌلقاخلاقا artinya perangai, kebiasaan, watak, peradaban yang baik, agama. Sedangkan secara istilah, pengertian akhlak dari beberapa ahli mengartikan, Ibnu Miskawaih mengartikan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melaksanakan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Imam Ghazali mengartikan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan yang mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Rosul juga memiliki aklhak, beliau dijuluki dengan Al-Amin yaitu orang yang jujur dan terpecaya.[1]
Secara bahasa tasawuf berarti saf (baris), sufi (suci), sophos (Yunani: hikmah), suf (kain wol), sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan bersikap bijaksana. Sedangkan menurut istilah, tasawuf diartikan secara variatif oleh para ahli sufi.[2]
a.       Imam Junai dari Baghdad, mendefinisikan tasawuf sebagai “mengambil setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah”.
b.      Syekh Muhammad Al-Kurdi, tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui hal ihwal (perbuatan) kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari (sifat-sifat yang buruk)dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji, cara melakukan suluk, melangkah menuju keridhaan Allah dan meninggalkan larangan-Nya dan menuju perintah-Nya.
c.       Mahmud Amin An-Nawawi, mengemukakan pendapat Al-Junaid al-Baqhdadi yang mengemukakan tasawuf adalah memelihara (menggunakan) waktu, kemudian berkata “seseorang hamba tidak akan menekuni (amalan tasawuf) tanpa aturan, (menganggap) tidak tepat (ibadahnya) tanpa tertuju kepada Tuhannya dan merasa tidak berhubungan (dengan Tuhannya) tanpa menggunakan waktu (untuk beribadah kepada Tuhannya).
d.      Sa- Suhrawardi, mengemukakan pendapat ma’ruf Al-Karakhy yang mengatakan tasawuf adalah mencari hakekat dan meninggalkan sesuatu yang ada ditangan makhluk (kesenangan duniawi).
e.       Sahal al-Tustury, mendefinisikan tasawuf dengan “orang yang hatinya jernih dari kotoran, penuh pemikiran, terputus hubungan dengan manusia, dan memandang antara emas dan kerikil”.
Kesimpulan dari berbagai pengertian diatas, bahwa tasawuf adalah sebagian dari ilmu ajaran Islam yang membahas cara-cara seseorang mendekatkan diri kepada Allah, seperti berakhlak yang tinggi (mulia), tekun dalam beribadah tanpa keluh kesah, memutuskan hubungan selain Allah karena kita merasa tidak memiliki suatu apapun di dunia ini dan kita tidak dimiliki oleh siapapun di kalangan makhluk, menolak hiasan-hiasan duniawi seperti kelezatan dari harta yang biasa memperdaya manusia, dan menyendiri menuju jalan Allah dalam kholwat (mengasingkan diri dari keramaian dunia) untuk beribadah.
  1. Sejarah Tasawuf
Munculnya istilah tasawuf baru dimulai pada pertengahan abad III Hijriyyah oleh abu Hasyimal-Kufi (w. 250 H.) dengan meletakkan al-Sufi dibelakang namanya. Dalam sejarah islam sebelum timbulnya aliran tasawuf, terlebih dahulu muncul aliran zuhud.[3] Aliran zuhud timbul pada akhir abad I dan permulaan abad II Hijriyyah. Tulisan ini akan berusaha memberikan paparan tentang zuhud dilihat dari sisi sejarah mulai dari pertumbuhannya sampai dengan peralihannya ke tasawuf.
Zuhud menurut para ahli sejarah tasawuf adalah fase yang mendahului tasawuf. Menurut para ahli, yang terpenting bagi seorang calon sufi ialah zuhd yaitu keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian. Sebelum menjadi sufi, seorang calon harus terlebih dahulu menjadi zahid. Sesudah menjadi zahid, barulah ia meningkat menjadi sufi. Dengan demikian tiap sufi ialah zahid, tetapi sebaliknya tidak setiap zahid merupakan sufi.[4]
Secara etimologis, zuhud berarti raghaba ‘ansyai’in wa tarakahu, artinya tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya. Zahada fi al-dunya, berarti mengosongkan diri dari kesenangan dunia untuk ibadah. Zuhud disini berarti tidak merasa bangga atas kemewahan dunia yang telah ada ditangan, dan tidak merasa bersedih karena hilangnya kemewahan itu dari tangannya. Bagi Abu Wafa al-Taftazani, zuhud itu bukanlah kependetaan atau terputusnya kehidupan duniawi, akan tetapi merupakan hikmah pemahaman yang membuat seseorang memiliki pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi itu. Mereka tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan kalbunya dan tidak membuat mereka mengingkari Tuhannya. Ustman bin Affan dan Abdurrahman ibn Auf adalah para hartawan, tapi keduanya adalah para zahid dengan harta yang mereka miliki.
Zuhud merupakan salah satu maqam yang sangat penting dalam tasawuf. Hal ini dapat dilihat dari pendapat ulama tasawuf yang senantiasa mencantumkan zuhud dalam pembahasan tentang maqamat,meskipun dengan sistematika yang berbeda – beda. Al-Ghazali menempatkan zuhud dalam sistematika : al-taubah, al-sabr, al-faqr, al-zuhud, al-tawakkul, al-mahabbah, al-ma’rifah dan al-ridla. Al-Tusi menempatkan zuhud dalam sistematika:al-taubah,al-wara’,al-zuhd,al-faqr,al-shabr,al-ridla,al-tawakkul, dan al-ma’rifah. Sedangkan al-Qusyairi menempatkan zuhud dalam urutan maqam : al-taubah,al-wara’,al-zuhud, al-tawakkul dan al-ridla.[5]
Jalan yang harus dilalui seorang sufi tidaklah licin dan dapat ditempuh dengan mudah. Jalan itu sulit,dan untuk pindah dari maqam satu ke maqam yang lain menghendaki usaha yang berat dan waktu yang bukan singkat, kadang – kadang seorang calon sufi harus bertahun-tahun tinggal dalam satu maqam.
Benih – benih tasawuf sudah ada sejak dalam kehidupan Nabi SAW. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku dan peristiwa dalam hidup, ibadah dan pribadi Nabi Muhammad SAW. Sebelum diangkat menjadi Rasul, berhari –hari ia berkhalwat di gua Hira terutama pada bulan Ramadhan. Disana Nabi banyak berdzikir bertafakur dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Pengasingan diri Nabi di gua Hira ini merupakan acuan utama para sufi dalam melakukan khalwat. Sumber lain yang diacu oleh para sufi adalah kehidupan para sahabat Nabi yang berkaitan dengan keteduhan iman, ketaqwaan, kezuhudan dan budi pekerti luhur. Oleh sebab itu setiap orang yang meneliti kehidupan kerohanian dalam Islam tidak dapat mengabaikan kehidupan kerohanian para sahabat yang menumbuhkan kehidupan sufi di abad-abad sesudahnya.[6]
Setelah periode sahabat berlalu, muncul pula periode tabiin (sekitar abad ke I dan ke II H). Pada masa itu kondisi sosial-politik sudah mulai berubah darimasa sebelumnya. Konflik-konflik sosial politik yang bermula dari masa Usman bin Affan berkepanjangan sampai masa-masa sesudahnya.Konflik politik tersebut ternyata mempunyai dampak terhadap kehidupan beragama, yakni munculnya kelompok kelompok Bani Umayyah,Syiah, Khawarij, dan Murjiah.[7]
Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, kehidupan politik berubah total. Dengan sistem pemerintahan monarki, khalifah-khalifah BaniUmayyah secara bebas berbuat kezaliman-kezaliman, terutama terhadap kelompok Syiah, yakni kelompok lawan politiknya yang paling gencar menentangnya.Puncak kekejaman mereka terlihat jelas pada peristiwa terbunuhnya Husein bin Alibin Abi Thalib di Karbala. Kasus pembunuhan itu ternyata mempunyai pengaruh yang besar dalam masyarakat Islam ketika itu. Kekejaman Bani Umayyah yang tak henti -hentinya itu membuat sekelompok penduduk Kufah merasa menyesal karena mereka telah mengkhianati Husein dan memberikan dukungan kepada pihak yang melawan Husein. Mereka menyebut kelompoknya itu dengan Tawwabun (kaum Tawabin). Untuk membersihkan diri dari apa yang telah dilakukan, mereka mengisi kehidupan sepenuhnya dengan beribadah. Gerakan kaumTawabin itu dipimpin oleh Mukhtar bin Ubaid as-Saqafi yang terbunuh di Kufah pada tahun 68 H.
Suatu kenyataan sejarah bahwa kelahiran tasawuf bermula dari gerakan zuhud dalam Islam.Istilah tasawuf baru muncul pada pertengahan abad III Hijriyyah oleh Abu Hasyim al-Kufy (w.250 H.) dengan meletakkan al-sufy di belakang namanya. Pada masa ini para sufi telah ramai membicarakan konsep tasawuf yang sebelumnya tidak dikenal.Jika pada akhir abad II ajaran sufi berupa kezuhudan, maka pada abad ketiga ini orang sudah ramai membicarakan tentang lenyap dalam kecintaan (fana fi mahbub), bersatu dalam kecintaan (ittihad fi mahbub), bertemu dengan Tuhan (liqa’) dan menjadi satu dengan Tuhan (‘ain al jama’). Sejak itulah muncul karya –karya tentang tasawuf oleh para sufi pada masa itu seperti al-muhasibi (w. 243 H.), al-Hakim al-Tirmidzi (w. 285 H.), dan al-Junaidi (w. 297 H.). Oleh karena itu abad II Hijriyyah dapat dikatakan sebagai abad mula tersusunnya ilmu tasawuf.[8]
  1. Esensi Tasawuf
Esensi Tasawuf Ajaran tasawuf mengandung esensi etika yang berlandaskan pada pembangunan moral manusia. Berbicara pembangunan moralitas, sebagaimana diketahui bersama bahwa dewasa ini peradaban dunia tengah mengalami krisis moralitas, dimana banyak fenomena menunjukkan kekerasan dan kekejian yang dilakukan oleh manusia. Sehingga terjadi distorsi moral yang menyebabkan kehancuran dan kerugian manusia itu sendiri.Pada konteks ini, tasawuf mampu berfungsi sebagai terapi krisis spiritual yang berimbas pada distorsi moral.[9]
 Sebab pertama , tasawuf secara psikologis, merupakan hasil dari berbagai pengalaman spiritual dan merupakan bentuk dari pengetahuan langsung mengenai realitas-realitas ketuhanan yang cenderung menjadi inovator dalam agama. Kedua, kehadiran Tuhan dalam bentuk mistis dapat menimbulkan keyakinan yangsangat kuat. Ketiga, dalam tasawuf, hubungan dengan Allah di jalin atas  dasar kecintaan. Dengan kata lain, moralitas yang menjadi inti ajaran tasawuf mendorong manusia untuk memelihara dirinya dari menelantarkan kebutuhan-kebutuhan spiritualitasnya.[10]
Sebab, menelantarkan kebutuhan spiritualitas sangat bertentangan dengan tindakan yang dikehendaki oleh Allah SWT. Permasalahan moralitas dalam tasawuf dapat dijadikan sebagaisalah satu alternatif materi dalam proses dakwah, karena memiliki tigatujuan: pertama, turut serta berbagi peran dalam penyelamatan kemanusiaan dari kondisi kebingungan sebagai akibat hilangnya nilai-nilaispiritual. Kedua , memperkenalkan literatur atau pemahaman tentang aspekesoteris Islam terhadap manusia modern. Ketiga, untuk memberikanpenegasan bahwa sesungguhnya aspek esoteris Islam, yaitu tasawuf adalahjantung ajaran Islam.[11]
Dengan mengaplikasikan ajaran tasawuf, umat manusia dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Kebahagiaan ini dapat tercapai dengan maksimal tanpa harus meninggalkan atau mematikan yang satu untuk mendapatkan yang lain. Tetapi dapat dicapai secara selaras dan seimbang dengan mengaplikasikan dan membumikan ajaran tasawuf dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara.
Tasawuf merupakan salah satu aspek (esoteris) Islam, sebagai perwujudan dari ihsan yang berarti kesadaran adanya komunikasi dan dialog langsung seorang hamba dengan tuhan-Nya. Esensi tasawuf sebenarnya telah ada sejak masa kehidupan rasulullah saw, namun tasawuf sebagai ilmu keislaman adalah hasil kebudayaan islam sebagaimana ilmu–ilmu keislaman lainnya seperti fiqih dan ilmu tauhid. Pada masa rasulullah belum dikenal istilah tasawuf, yang dikenal pada waktu itu hanyalah sebutan sahabat nabi.[12]
Munculnya istilah tasawuf baru dimulai pada pertengahan abad III Hijriyyah oleh abu Hasyimal-Kufi (w. 250 H.) dengan meletakkan al-Sufi dibelakang namanya. Dalam sejarah islam sebelum timbulnya aliran tasawuf, terlebih dahulu muncul aliran zuhud. Aliran zuhud timbul pada akhir abad I dan permulaan abad II Hijriyyah. Imam Ghazali dalam an-Nusrah an-Nabawiahnya mengatakan bahwa mendalami dunia tasawuf itu penting sekali.
Karena, selain Nabi, tidak ada satu pun manusia yang bisa lepas dari penyakit hati seperti riya, dengki, hasud dll. Dan, dalam pandangannya, tasawuf lah yang bisa mengobati penyakit hati itu. Karena, tasawuf konsentrasi pada tiga hal dimana ketiga-tiganya sangat dianjurkan oleh al-Qur\'an al-karim. Pertama, selalu melakukan kontrol diri, muraqabah dan muhasabah. Kedua, selalu berdzikir dan mengingat Allah Swt. Ketiga, menanamkan sifat zuhud, cinta damai, jujur,sabar, syukur, tawakal, dermawan dan ikhlas. Melihat konsenstrasi bahasan tasawuf di atas, jelas sekali bahwa tasawuf bagian dari Islam.
  1. Sumber-sumber Tasawuf
1.      Al-Qur`an
Menurut pendapat yang paling kuat, seperti yang diungkapkan oleh subhi shaleh, al qur’an berarti bacaan, yang merupakan kata turunan (masdar) dari fiil madhi qara’a dengan arti ism al-maful yaitu maqru’ yang artinya dibaca.[13] Dalam Islam Al-Qur`an adalah hukum tertinggi yang harus ditaati, mengingat bahwa Al-Qur`an merupakan firman Allah yang langsung ditransferkan untuk umat manusia yang sudah melengkapi kitab-kitab samawi sebelumnya. Berikut-berikut dalil-dalil Al-Qur`an tentang tasawuf, diantaranya:
a.       Taubat
Taubat adalah awal tempat pendakian orang-orang yang mendaki dan maqam pertama bagi sufi pemula. Hakikat taubat menurut arti bahasa adalah kembali. Kata taba memiliki arti kembali, maka taubat maknanya juga kembali. Artinya, kembali dari sesuatu yang dicela dalam syari`at menuju sesuatu yang dipuji dalam syari`at.[14]
Orang-orang yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip ahlus sunnah mengatakan, agar taubat diterima diharuskan memenuhi tiga syarat utama, yaitu menyesali atas pelanggaran-pelanggaran yang pernah diperbuatnya, meninggalkan jalan licin (kesesatan) pada saat melakukan tobat dan berketepatan hati untuk tidak mengulangi pelanggaran-pelanggaran serupa. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكْzسَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [٦٦:٨]
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukan kamu kedalam surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang beriman bersama dengannya, sedang cahaya mereka memancar dihadapan dan disebelah kanan      mereka, sambil mereka berkata, “Ya Tuhan kami sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami, sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”                             (Q.S At-Tahrim: 8).
Menurut para ahli taubat itu dilakukan karena seorang salik mengingat sesuatu dan terlupakan mengingat Allah. Para ahli kemudian membagi taubat menjadi taubat kelompok awam dan taubat kelompok khash (awliya`). Kelompok orang khash melakukan pertaubatan karena dia lupa mengingat Allah sedangkan kelompok awam bertaubat karena mengerjakan perbuatan dosa. Baginya, hakikat taubat adalah keadaan jiwa yang merasa sempit hidup diatas bumi karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat.
b.      Ikhlas
 ikhlas adalah penunggalan Al-Haqq dalam mengarahkan semua orientasi ketaatan.[15] Dia dengan ketaatannya dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah semata-mata tanpa yang lain, tanpa dibuat-buat, tanpa ditujukkan untuk makhluk, tidak untuk mencari pujian manusia atau makna-makna lain selain pendekatan diri kepada Allah. Bisa juga diartikan ikhlas merupakan penjernihan perbuatan dari campuran semua makhluk atau pemeliharaan sikap dari pengaruh-pengaruh pribadi. Allah SWT berfirman:
قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ ۖ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۚ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ [٧:٢٩]
Artinya: Katakanlah, “Tuhanku menyuruhku berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat dan sembahlah dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepadanya sebagaimana kamu diciptakan semula.” (Q.S Al-A`raf: 29).
c.       Sabar
Junaid mengatakan, “perjalanan dari dunia menuju akhirat adalah mudah dan menyenangkan bagi orang yang beriman, putusnya hubungan makhluk disisi Allah SWT adalah berat perjalanan dari diri sendiri (jiwa) menuju Allah adalah sangat berat, dan sabar kepada Allah tentu akan lebih berat.” Ia ditanya tentang sabar, lalu dijawab “menelan kepahitan tanpa bermasam mukad.      Syukur
Menurut satu pendapat, bersyukurnya Allah berarti memberikan pahala atas perbuatan pelakunya sebagaimana ungkapan bahwa hewan yang bersyukur adalah hewan yang gemuk karena selalu diberi makanan. Hal ini dapat dikatakan bahwasannya hakikat syukur adalah memuji (orang) yang memberikan kebaikan dengan mengingat kebaikannya. Syukurnya hamba kepada Allah adalah memuji kepada- Nya dengan mengingat kebaikan-Nya, sedangkan syukurnya Allah kepada hamba berarti Allah memuji kepadanya dengan mengingat kebaikannya. Perbuatan baik hamba adalah taat kepada Allah, sedangkan perbuatan baik Allah adalah memberikan kenikmatan dengan memberikan pertolongan sebagai tanda syukur. Hakikat syukur bagi hamba ialah ucapan lisan dan pengakuan hati terhadap kenikmatan yang telah diberikan oleh Tuhan. Allah SWT berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ [٢:١٥٢]                      
Artinya: Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. (Q.S Al-Baqarah: 152).
Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ [٢:١٧٢]
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik dan Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya. (Q.S Al-Baqarah: 172).
d.    Tawakal
Menurut Abu Nashr As-Siraj Ath-Thusi, yang dimaksud tawakal sebagaimana yang diungkapkan oleh Abu Bakar Ad-Daqaq adalah menolak kehidupan pada masa sekarang dan menghilangkan cita-cita pada masa yang akan datang.[16] Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Sahl bin Abdullah bahwa yang dimaksud tawakal adalah melepaskan segala apa yang dikehendaki dengan menyandarkan diri kerpada Allah SWT. Menurut Abu Ya`qub Ishaq An-Nahl Jauzi, yang dimaksud tawakal adalah menyerahkan diri kepada Allah SWT dengan sebenarnya sebagaimana yang terjadi pada Nabi Ibrahim disaat Allah SWT berfirman kepada Malaikat Jibril a.s: Ibrahim telah berpisah (bercerai denganmu) dirinya telah hilang bersama Allah SWT. Oleh karena itu, tidak ada yang mengetahui orang yang bersama Allah kecuali Allah SWT. Allah SWT berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ [٣:١٥٩]
Artinya: Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. (Q.S Al-Imran: 159).
2.      Al-Hadits
Al-sunnah adalah sesuatu yang dinukilkan kepada nabi Muhammad SAW, berupa perkataan, perbuatan, taqri atau ketetapannya dan yang lain itu.[17] Sebagaimana yang diketahui bahwa Al-Hadits merupakan sumber hukum Islam yang kedua. Sehingga dalam kajian ilmu keagamaan pun Al-Hadits tetap menjadi rujukan setelah Al-Qur`an. Berikut akan diuraikan hadits-hadits mengenai tasawuf, mengingat dalam tasawuf hadits juga tergolong sumber kedua.
a.       Taubat
Sahabat Anas bin Malik r.a berkata, saya pernah dengar Rasulullah SAW bersabda:
التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَاذَنْبَ لَهُ, وَاِذَا اَحَبَّ اللهُ عَبْدًا لَمْ يَضُرَّهُ ذنْبٌ
Artinya: Seorang yang tobat dari dosa seperti orang yang tidak punya dosa, dan jika Allah mencintai seorang hamba, pasti dosa tidak akan membahayakannya. (Hadits diriwayatkan Ibnu Mas`ud dan dikeluarkan Ibnu Majah sebagaimana tersebut dalam Al-Jami`ush-Shaghir, Al-Hakim, At-Turmudzi dari Abu Sa`id, As-Suyuthi di Al-Jami`ush-Shaghir Juz 1, halaman 3385)
b.      Ikhlash
Rasulullah SAW pernah ditanya tentang makna ikhlash, lalu dijawab:
سَألت جبريل عليه السلام عن الاخلاص, ما هو؟ قال: سألت رب العزة عن الاخلاص, ماهو؟ قال سرمن سري استودعته قلب من أحببته من عبادي
Artinya: Saya bertanya kepada Jibril a.s tentang ikhlash, apa itu? Kemudian dia berkata, saya bertanya kepada Tuhan tentang ikhlash, apa itu? Dan Tuhan-pun menjawab, “yaitu rahasia dari rahasia-Ku yang aku titipkan pada hati orang yang Aku cintai diantara hamba-hamba-Ku. (Hadits dikeluarkan oleh Al-Qazwaini dalam Musalsalat-nya dari Khudzaifah)
Atau dalam hadits lain menerangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
عن أبى هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ان الله لا ينظر الى أجسامكم ولا الى صوركم ولكن ينظر الى قلوبكم (رواه مسلم)
Artinya: Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, Rasulallah SAW bersabda, sesungguhnya Allah SWT tidak melihat bentuk badan dan rupamu, tetapi melihat (memperhatikan) niat dan keikhlasan) hatimu.” (H.R Muslim).
c.       Sabar
Dari Aisyah r.a diceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
ان الصبر عند الصدمة الاولى
Artinya: Sabar yang sempurna adalah pada pukulan (saat menghadapi cobaan) yang pertama. (Hadits riwayat Anas bin Malik dan dikeluarkan Imam Bukhari didalam “Al-Jana`iz” Bab Sabar 3/138, sedangkan Imam Muslim juga mengelompokkannya dalam “Al-Jana`iz” Bab Sabar Nomor 626, Abu Dawud di nomor 3124, At-Turmudzi di nomor 987, dan An-Nasa`I mencantumkan di 4/22).





[1]Lihat  Beni ahmad, Ilmu Aklhak, (Bandung: CV Pustaka setya, 2010), hal, 270.
[2] Bandingkan Nabil Hamid al-Mu’adz, Belajar Tasawuf, (Jakarta: Gema Insani, 2000), hlm. 30.
[3] Halim Mahmud, Study Tasawuf, (Semarang, Dunia Ilmu, 1997), hlm. 58.
[4] Ibid., Halim Mahmud ...hlm. 65.
[5] Bandingkan Saifulloh Aziz, Pendidikan Tasawuf, (Yogyakarta: Sinar Baru, 2001), hlm. 124. 
[6] Abdul Malik, Meneladani kisah Rosulullah, (Bandung: Al-Iklhas, 2008), hlm. 67.
[7] Ibid., Halim Mahmud ...hlm. 75.
[8] Ibid Halim Mahmud ... hlm. 79.
[9] Ibid Halim Mahmud ... hlm. 154.
[10] Lihat Imam Nahrowi,  Aklhak Tasawuf, (Yogyakarta, CV Perkasa Studi, 2008), hlm. 27.
[11] Ibid, Imam Nahrowi ... hlm. 28.
[12] Ibid, Halim Mahmud, ... hlm.160.
[13] Atang Abd.Hakim, Metodologi Study Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000), hlm. 69.
[14] Ibid, Abdul Malik, ... hlm. 120.
[15] Ibid, Abdul Malik, ... hlm 132.
[16] Ibid Abdul Malik, ...hlm. 138.
[17] Mohammad muntahibun Nafis, Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Teras, 2011), hlm. 39.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar