A.
Pengertian
Tasawuf
Secara bahasa akhlak berasal dari kata اخلق
– خٌلق – اخلاقا
artinya perangai, kebiasaan, watak, peradaban yang baik, agama. Sedangkan
secara istilah, pengertian akhlak dari beberapa ahli mengartikan, Ibnu
Miskawaih mengartikan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang
mendorongnya untuk melaksanakan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan
pertimbangan. Imam Ghazali mengartikan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam
jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan yang mudah, tanpa memerlukan
pemikiran dan pertimbangan. Rosul juga memiliki aklhak, beliau dijuluki dengan
Al-Amin yaitu orang yang jujur dan terpecaya.[1]
Secara bahasa tasawuf berarti saf (baris), sufi (suci), sophos (Yunani:
hikmah), suf (kain wol), sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri,
beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan bersikap
bijaksana. Sedangkan menurut istilah, tasawuf diartikan secara variatif oleh
para ahli sufi.[2]
a.
Imam
Junai dari Baghdad, mendefinisikan tasawuf sebagai “mengambil setiap sifat
mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah”.
b.
Syekh
Muhammad Al-Kurdi, tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui hal
ihwal (perbuatan) kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari
(sifat-sifat yang buruk)dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji, cara
melakukan suluk, melangkah menuju keridhaan Allah dan meninggalkan larangan-Nya
dan menuju perintah-Nya.
c.
Mahmud
Amin An-Nawawi, mengemukakan pendapat Al-Junaid al-Baqhdadi yang mengemukakan
tasawuf adalah memelihara (menggunakan) waktu, kemudian berkata “seseorang
hamba tidak akan menekuni (amalan tasawuf) tanpa aturan, (menganggap) tidak
tepat (ibadahnya) tanpa tertuju kepada Tuhannya dan merasa tidak berhubungan
(dengan Tuhannya) tanpa menggunakan waktu (untuk beribadah kepada Tuhannya).
d.
Sa-
Suhrawardi, mengemukakan pendapat ma’ruf Al-Karakhy yang mengatakan tasawuf
adalah mencari hakekat dan meninggalkan sesuatu yang ada ditangan makhluk
(kesenangan duniawi).
e.
Sahal
al-Tustury, mendefinisikan tasawuf dengan “orang yang hatinya jernih dari
kotoran, penuh pemikiran, terputus hubungan dengan manusia, dan memandang
antara emas dan kerikil”.
Kesimpulan
dari berbagai pengertian diatas, bahwa tasawuf adalah sebagian dari ilmu ajaran
Islam yang membahas cara-cara seseorang mendekatkan diri kepada Allah, seperti
berakhlak yang tinggi (mulia), tekun dalam beribadah tanpa keluh kesah,
memutuskan hubungan selain Allah karena kita merasa tidak memiliki suatu apapun
di dunia ini dan kita tidak dimiliki oleh siapapun di kalangan makhluk, menolak
hiasan-hiasan duniawi seperti kelezatan dari harta yang biasa memperdaya
manusia, dan menyendiri menuju jalan Allah dalam kholwat (mengasingkan diri
dari keramaian dunia) untuk beribadah.
- Sejarah Tasawuf
Munculnya
istilah tasawuf baru dimulai pada pertengahan abad III Hijriyyah oleh abu
Hasyimal-Kufi (w. 250 H.) dengan meletakkan al-Sufi dibelakang namanya. Dalam
sejarah islam sebelum timbulnya aliran tasawuf, terlebih dahulu muncul aliran zuhud.[3]
Aliran zuhud timbul pada akhir abad I dan permulaan abad II Hijriyyah.
Tulisan ini akan berusaha memberikan paparan tentang zuhud dilihat dari
sisi sejarah mulai dari pertumbuhannya sampai dengan peralihannya ke tasawuf.
Zuhud
menurut para ahli sejarah tasawuf adalah fase yang mendahului tasawuf. Menurut
para ahli, yang terpenting bagi seorang calon sufi ialah zuhd yaitu
keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian. Sebelum menjadi sufi, seorang
calon harus terlebih dahulu menjadi zahid. Sesudah menjadi zahid,
barulah ia meningkat menjadi sufi. Dengan demikian tiap sufi ialah zahid,
tetapi sebaliknya tidak setiap zahid merupakan sufi.[4]
Secara
etimologis, zuhud berarti raghaba ‘ansyai’in wa tarakahu, artinya
tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya. Zahada fi al-dunya,
berarti mengosongkan diri dari kesenangan dunia untuk ibadah.
Zuhud disini berarti tidak merasa bangga atas kemewahan dunia yang telah
ada ditangan, dan tidak merasa bersedih karena hilangnya kemewahan itu dari
tangannya. Bagi Abu Wafa al-Taftazani, zuhud itu bukanlah kependetaan
atau terputusnya kehidupan duniawi, akan tetapi merupakan hikmah pemahaman yang
membuat seseorang memiliki pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi itu.
Mereka tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi itu tidak
menguasai kecenderungan kalbunya dan tidak membuat mereka mengingkari Tuhannya. Ustman bin Affan dan Abdurrahman ibn Auf adalah para
hartawan, tapi keduanya adalah para zahid dengan harta yang mereka
miliki.
Zuhud
merupakan salah satu maqam yang sangat penting dalam tasawuf. Hal ini
dapat dilihat dari pendapat ulama tasawuf yang senantiasa mencantumkan zuhud
dalam pembahasan tentang maqamat,meskipun dengan sistematika yang
berbeda – beda. Al-Ghazali menempatkan zuhud dalam sistematika : al-taubah,
al-sabr, al-faqr, al-zuhud, al-tawakkul, al-mahabbah, al-ma’rifah dan al-ridla.
Al-Tusi menempatkan zuhud dalam sistematika:al-taubah,al-wara’,al-zuhd,al-faqr,al-shabr,al-ridla,al-tawakkul,
dan al-ma’rifah. Sedangkan al-Qusyairi
menempatkan zuhud dalam urutan maqam : al-taubah,al-wara’,al-zuhud,
al-tawakkul dan al-ridla.[5]
Jalan
yang harus dilalui seorang sufi tidaklah licin dan dapat ditempuh dengan mudah.
Jalan itu sulit,dan untuk pindah dari maqam satu ke maqam yang
lain menghendaki usaha yang berat dan waktu yang bukan singkat, kadang – kadang
seorang calon sufi harus bertahun-tahun tinggal dalam satu maqam.
Benih
– benih tasawuf sudah ada sejak dalam kehidupan Nabi SAW. Hal ini dapat dilihat
dalam perilaku dan peristiwa dalam hidup, ibadah dan pribadi Nabi Muhammad SAW.
Sebelum diangkat menjadi Rasul, berhari –hari ia berkhalwat di gua Hira
terutama pada bulan Ramadhan. Disana Nabi banyak berdzikir bertafakur dalam
rangka mendekatkan diri kepada Allah. Pengasingan diri Nabi di gua Hira ini
merupakan acuan utama para sufi dalam melakukan khalwat. Sumber lain
yang diacu oleh para sufi adalah kehidupan para sahabat Nabi yang berkaitan
dengan keteduhan iman, ketaqwaan, kezuhudan dan budi pekerti luhur. Oleh
sebab itu setiap orang yang meneliti kehidupan kerohanian dalam Islam tidak
dapat mengabaikan kehidupan kerohanian para sahabat yang menumbuhkan kehidupan
sufi di abad-abad sesudahnya.[6]
Setelah
periode sahabat berlalu, muncul pula periode tabiin (sekitar abad ke I dan ke
II H). Pada masa itu kondisi sosial-politik sudah mulai berubah darimasa
sebelumnya. Konflik-konflik sosial politik yang bermula dari masa Usman bin Affan
berkepanjangan sampai masa-masa sesudahnya.Konflik politik tersebut ternyata
mempunyai dampak terhadap kehidupan beragama, yakni munculnya kelompok kelompok
Bani Umayyah,Syiah, Khawarij, dan Murjiah.[7]
Pada
masa kekuasaan Bani Umayyah, kehidupan politik berubah total. Dengan sistem
pemerintahan monarki, khalifah-khalifah BaniUmayyah secara bebas berbuat
kezaliman-kezaliman, terutama terhadap kelompok Syiah, yakni kelompok lawan
politiknya yang paling gencar menentangnya.Puncak kekejaman mereka terlihat
jelas pada peristiwa terbunuhnya Husein bin Alibin Abi Thalib di Karbala. Kasus
pembunuhan itu ternyata mempunyai pengaruh yang besar dalam masyarakat Islam ketika
itu. Kekejaman Bani Umayyah yang tak henti -hentinya itu membuat sekelompok
penduduk Kufah merasa menyesal karena mereka telah mengkhianati Husein dan
memberikan dukungan kepada pihak yang melawan Husein. Mereka menyebut
kelompoknya itu dengan Tawwabun (kaum Tawabin). Untuk membersihkan diri
dari apa yang telah dilakukan, mereka mengisi kehidupan sepenuhnya dengan
beribadah. Gerakan kaumTawabin itu dipimpin oleh Mukhtar bin Ubaid as-Saqafi
yang terbunuh di Kufah pada tahun 68 H.
Suatu
kenyataan sejarah bahwa kelahiran tasawuf bermula dari gerakan zuhud
dalam Islam.Istilah tasawuf baru muncul pada pertengahan abad III Hijriyyah
oleh Abu Hasyim al-Kufy (w.250 H.) dengan meletakkan al-sufy di belakang
namanya. Pada masa ini para sufi telah ramai membicarakan konsep tasawuf yang
sebelumnya tidak dikenal.Jika pada akhir abad II ajaran sufi berupa kezuhudan,
maka pada abad ketiga ini orang sudah ramai membicarakan tentang lenyap dalam
kecintaan (fana fi mahbub), bersatu dalam kecintaan (ittihad fi
mahbub), bertemu dengan Tuhan (liqa’) dan menjadi satu dengan Tuhan
(‘ain al jama’). Sejak itulah muncul karya
–karya tentang tasawuf oleh para sufi pada masa itu seperti al-muhasibi (w. 243
H.), al-Hakim al-Tirmidzi (w. 285 H.), dan al-Junaidi (w. 297 H.). Oleh karena
itu abad II Hijriyyah dapat dikatakan sebagai abad mula tersusunnya ilmu
tasawuf.[8]
- Esensi Tasawuf
Esensi
Tasawuf Ajaran tasawuf mengandung esensi etika yang berlandaskan pada pembangunan
moral manusia. Berbicara pembangunan moralitas, sebagaimana diketahui bersama
bahwa dewasa ini peradaban dunia tengah mengalami krisis moralitas, dimana
banyak fenomena menunjukkan kekerasan dan kekejian yang dilakukan oleh manusia.
Sehingga terjadi distorsi moral yang menyebabkan kehancuran dan kerugian
manusia itu sendiri.Pada konteks ini, tasawuf mampu berfungsi sebagai terapi
krisis spiritual yang berimbas pada distorsi moral.[9]
Sebab pertama , tasawuf secara psikologis,
merupakan hasil dari berbagai pengalaman spiritual dan merupakan bentuk dari
pengetahuan langsung mengenai realitas-realitas ketuhanan yang cenderung
menjadi inovator dalam agama. Kedua, kehadiran Tuhan dalam bentuk mistis dapat
menimbulkan keyakinan yangsangat kuat. Ketiga, dalam tasawuf, hubungan dengan
Allah di jalin atas dasar kecintaan.
Dengan kata lain, moralitas yang menjadi inti ajaran tasawuf mendorong manusia
untuk memelihara dirinya dari menelantarkan kebutuhan-kebutuhan spiritualitasnya.[10]
Sebab,
menelantarkan kebutuhan spiritualitas sangat bertentangan dengan tindakan yang
dikehendaki oleh Allah SWT. Permasalahan moralitas dalam tasawuf dapat
dijadikan sebagaisalah satu alternatif materi dalam proses dakwah, karena
memiliki tigatujuan: pertama, turut serta berbagi peran dalam penyelamatan kemanusiaan
dari kondisi kebingungan sebagai akibat hilangnya nilai-nilaispiritual. Kedua ,
memperkenalkan literatur atau pemahaman tentang aspekesoteris Islam terhadap
manusia modern. Ketiga, untuk memberikanpenegasan bahwa sesungguhnya aspek
esoteris Islam, yaitu tasawuf adalahjantung ajaran Islam.[11]
Dengan
mengaplikasikan ajaran tasawuf, umat manusia dapat mencapai kebahagiaan dunia
dan akhirat. Kebahagiaan ini dapat tercapai dengan maksimal tanpa harus
meninggalkan atau mematikan yang satu untuk mendapatkan yang lain. Tetapi dapat
dicapai secara selaras dan seimbang dengan mengaplikasikan dan membumikan
ajaran tasawuf dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara.
Tasawuf
merupakan salah satu aspek (esoteris) Islam, sebagai perwujudan dari ihsan yang
berarti kesadaran adanya komunikasi dan dialog langsung seorang hamba dengan
tuhan-Nya. Esensi tasawuf sebenarnya telah ada sejak masa kehidupan rasulullah
saw, namun tasawuf sebagai ilmu keislaman adalah hasil kebudayaan islam
sebagaimana ilmu–ilmu keislaman lainnya seperti fiqih dan ilmu tauhid. Pada masa
rasulullah belum dikenal istilah tasawuf, yang dikenal pada waktu itu hanyalah
sebutan sahabat nabi.[12]
Munculnya
istilah tasawuf baru dimulai pada pertengahan abad III Hijriyyah oleh abu
Hasyimal-Kufi (w. 250 H.) dengan meletakkan al-Sufi dibelakang namanya. Dalam
sejarah islam sebelum timbulnya aliran tasawuf, terlebih dahulu muncul aliran
zuhud. Aliran zuhud timbul pada akhir abad I dan permulaan abad II Hijriyyah.
Imam Ghazali dalam an-Nusrah an-Nabawiahnya mengatakan bahwa mendalami dunia
tasawuf itu penting sekali.
Karena,
selain Nabi, tidak ada satu pun manusia yang bisa lepas dari penyakit hati
seperti riya, dengki, hasud dll. Dan, dalam pandangannya, tasawuf lah yang bisa
mengobati penyakit hati itu. Karena, tasawuf konsentrasi pada tiga hal dimana
ketiga-tiganya sangat dianjurkan oleh al-Qur\'an al-karim. Pertama, selalu
melakukan kontrol diri, muraqabah dan muhasabah. Kedua, selalu berdzikir dan
mengingat Allah Swt. Ketiga, menanamkan sifat zuhud, cinta damai, jujur,sabar,
syukur, tawakal, dermawan dan ikhlas. Melihat konsenstrasi bahasan tasawuf di
atas, jelas sekali bahwa tasawuf bagian dari Islam.
- Sumber-sumber Tasawuf
1. Al-Qur`an
Menurut pendapat yang paling kuat,
seperti yang diungkapkan oleh subhi shaleh, al qur’an berarti bacaan, yang merupakan
kata turunan (masdar) dari fiil madhi qara’a dengan arti ism al-maful yaitu
maqru’ yang artinya dibaca.[13]
Dalam Islam
Al-Qur`an adalah hukum tertinggi yang harus ditaati, mengingat bahwa Al-Qur`an
merupakan firman Allah yang langsung ditransferkan untuk umat manusia yang
sudah melengkapi kitab-kitab samawi sebelumnya. Berikut-berikut dalil-dalil
Al-Qur`an tentang tasawuf, diantaranya:
a.
Taubat
Taubat adalah awal tempat pendakian orang-orang yang
mendaki dan maqam pertama bagi sufi pemula. Hakikat taubat menurut arti
bahasa adalah kembali. Kata taba memiliki arti kembali, maka taubat
maknanya juga kembali. Artinya, kembali dari sesuatu yang dicela dalam syari`at
menuju sesuatu yang dipuji dalam syari`at.[14]
Orang-orang yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip
ahlus sunnah mengatakan, agar taubat diterima diharuskan memenuhi tiga
syarat utama, yaitu menyesali atas pelanggaran-pelanggaran yang pernah
diperbuatnya, meninggalkan jalan licin (kesesatan) pada saat melakukan tobat
dan berketepatan hati untuk tidak mengulangi pelanggaran-pelanggaran serupa.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكْzسَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا
الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا
مَعَهُ ۖ نُورُهُمْ
يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ
لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ
عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [٦٦:٨]
Artinya: Hai
orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang
semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu
dan memasukan kamu kedalam surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai,
pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang beriman bersama
dengannya, sedang cahaya mereka memancar dihadapan dan disebelah kanan
mereka, sambil mereka berkata, “Ya Tuhan kami
sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami, sungguh, Engkau Maha
Kuasa atas segala sesuatu.”
(Q.S
At-Tahrim: 8).
Menurut para
ahli taubat itu dilakukan karena seorang salik mengingat sesuatu dan terlupakan
mengingat Allah. Para ahli kemudian membagi taubat menjadi taubat kelompok awam
dan taubat kelompok khash (awliya`). Kelompok orang khash melakukan
pertaubatan karena dia lupa mengingat Allah sedangkan kelompok awam bertaubat
karena mengerjakan perbuatan dosa. Baginya, hakikat taubat adalah keadaan jiwa
yang merasa sempit hidup diatas bumi karena kesalahan-kesalahan yang telah
diperbuat.
b. Ikhlas
ikhlas adalah penunggalan Al-Haqq dalam mengarahkan semua orientasi
ketaatan.[15]
Dia dengan ketaatannya dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah
semata-mata tanpa yang lain, tanpa dibuat-buat, tanpa ditujukkan untuk makhluk,
tidak untuk mencari pujian manusia atau makna-makna lain selain pendekatan diri
kepada Allah. Bisa juga diartikan ikhlas merupakan penjernihan
perbuatan dari campuran semua makhluk atau pemeliharaan sikap dari
pengaruh-pengaruh pribadi. Allah SWT berfirman:
قُلْ أَمَرَ
رَبِّي بِالْقِسْطِ ۖ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ
وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۚ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ [٧:٢٩]
Artinya: Katakanlah,
“Tuhanku menyuruhku berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada
setiap shalat dan sembahlah dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya
kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepadanya sebagaimana kamu diciptakan
semula.” (Q.S Al-A`raf: 29).
c. Sabar
Junaid mengatakan, “perjalanan dari dunia menuju akhirat adalah mudah dan
menyenangkan bagi orang yang beriman, putusnya hubungan makhluk disisi Allah
SWT adalah berat perjalanan dari diri sendiri (jiwa) menuju Allah adalah sangat
berat, dan sabar kepada Allah tentu akan lebih berat.” Ia ditanya tentang
sabar, lalu dijawab “menelan kepahitan tanpa bermasam mukad.
Syukur
Menurut satu pendapat, bersyukurnya Allah berarti memberikan pahala atas
perbuatan pelakunya sebagaimana ungkapan bahwa hewan yang bersyukur adalah
hewan yang gemuk karena selalu diberi makanan. Hal ini dapat dikatakan
bahwasannya hakikat syukur adalah memuji (orang) yang memberikan kebaikan
dengan mengingat kebaikannya. Syukurnya hamba kepada Allah adalah memuji
kepada- Nya dengan
mengingat kebaikan-Nya, sedangkan syukurnya Allah kepada hamba berarti Allah
memuji kepadanya dengan mengingat kebaikannya. Perbuatan baik hamba adalah taat
kepada Allah, sedangkan perbuatan baik Allah adalah memberikan kenikmatan
dengan memberikan pertolongan sebagai tanda syukur. Hakikat syukur bagi hamba
ialah ucapan lisan dan pengakuan hati terhadap kenikmatan yang telah diberikan
oleh Tuhan. Allah SWT berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا
تَكْفُرُونِ [٢:١٥٢]
Artinya: Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu.
Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. (Q.S
Al-Baqarah: 152).
Dalam ayat yang lain Allah SWT
berfirman:
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ
إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ [٢:١٧٢]
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik
dan Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya
menyembah kepada-Nya. (Q.S Al-Baqarah: 172).
d. Tawakal
Menurut Abu Nashr As-Siraj Ath-Thusi, yang dimaksud tawakal sebagaimana
yang diungkapkan oleh Abu Bakar Ad-Daqaq adalah menolak kehidupan pada masa
sekarang dan menghilangkan cita-cita pada masa yang akan datang.[16]
Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Sahl bin Abdullah bahwa yang
dimaksud tawakal adalah melepaskan segala apa yang dikehendaki dengan
menyandarkan diri kerpada Allah SWT. Menurut Abu Ya`qub Ishaq An-Nahl Jauzi,
yang dimaksud tawakal adalah menyerahkan diri kepada Allah SWT dengan
sebenarnya sebagaimana yang terjadi pada Nabi Ibrahim disaat Allah SWT
berfirman kepada Malaikat Jibril a.s: Ibrahim telah berpisah (bercerai
denganmu) dirinya telah hilang bersama Allah SWT. Oleh karena itu, tidak ada
yang mengetahui orang yang bersama Allah kecuali Allah SWT. Allah SWT
berfirman:
فَبِمَا
رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا
مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ
فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ [٣:١٥٩]
Artinya: Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut
terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah
mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan
mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyaralah dengan mereka dalam urusan
itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah
kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. (Q.S
Al-Imran: 159).
2.
Al-Hadits
Al-sunnah adalah sesuatu
yang dinukilkan kepada nabi Muhammad SAW, berupa perkataan, perbuatan, taqri
atau ketetapannya dan yang lain itu.[17] Sebagaimana
yang diketahui bahwa Al-Hadits merupakan sumber hukum Islam yang kedua.
Sehingga dalam kajian ilmu keagamaan pun Al-Hadits tetap menjadi rujukan
setelah Al-Qur`an. Berikut akan diuraikan hadits-hadits mengenai tasawuf,
mengingat dalam tasawuf hadits juga tergolong sumber kedua.
a.
Taubat
Sahabat Anas bin Malik r.a berkata, saya pernah dengar
Rasulullah SAW bersabda:
التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَاذَنْبَ لَهُ,
وَاِذَا اَحَبَّ اللهُ عَبْدًا لَمْ يَضُرَّهُ ذنْبٌ
Artinya: Seorang yang tobat dari dosa seperti orang
yang tidak punya dosa, dan jika Allah mencintai seorang hamba, pasti dosa tidak
akan membahayakannya. (Hadits diriwayatkan Ibnu Mas`ud dan dikeluarkan Ibnu
Majah sebagaimana tersebut dalam Al-Jami`ush-Shaghir, Al-Hakim, At-Turmudzi
dari Abu Sa`id, As-Suyuthi di Al-Jami`ush-Shaghir Juz 1, halaman 3385)
b. Ikhlash
Rasulullah SAW pernah ditanya tentang makna ikhlash,
lalu dijawab:
سَألت جبريل
عليه السلام عن الاخلاص, ما هو؟ قال: سألت رب العزة عن الاخلاص, ماهو؟ قال سرمن
سري استودعته قلب من أحببته من عبادي
Artinya: Saya bertanya kepada Jibril a.s tentang
ikhlash, apa itu? Kemudian dia berkata, saya bertanya kepada Tuhan tentang
ikhlash, apa itu? Dan Tuhan-pun menjawab, “yaitu rahasia dari rahasia-Ku yang
aku titipkan pada hati orang yang Aku cintai diantara hamba-hamba-Ku. (Hadits
dikeluarkan oleh Al-Qazwaini dalam Musalsalat-nya dari Khudzaifah)
Atau dalam hadits lain menerangkan bahwa Rasulullah
SAW bersabda:
عن أبى هريرة
رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ان الله لا ينظر الى أجسامكم
ولا الى صوركم ولكن ينظر الى قلوبكم (رواه مسلم)
Artinya: Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata,
Rasulallah SAW bersabda, sesungguhnya Allah SWT tidak melihat bentuk badan dan
rupamu, tetapi melihat (memperhatikan) niat dan keikhlasan) hatimu.” (H.R
Muslim).
c. Sabar
Dari Aisyah r.a diceritakan bahwa
Rasulullah SAW bersabda:
ان الصبر عند
الصدمة الاولى
Artinya: Sabar yang sempurna adalah pada pukulan (saat menghadapi
cobaan) yang pertama. (Hadits riwayat Anas bin Malik dan dikeluarkan Imam
Bukhari didalam “Al-Jana`iz” Bab Sabar 3/138, sedangkan Imam Muslim juga
mengelompokkannya dalam “Al-Jana`iz” Bab Sabar Nomor 626, Abu Dawud di nomor
3124, At-Turmudzi di nomor 987, dan An-Nasa`I mencantumkan di 4/22).
[1]Lihat Beni ahmad, Ilmu Aklhak, (Bandung: CV Pustaka setya, 2010), hal, 270.
[2] Bandingkan Nabil
Hamid al-Mu’adz, Belajar Tasawuf,
(Jakarta: Gema Insani, 2000), hlm. 30.
[3]
Halim Mahmud, Study Tasawuf,
(Semarang, Dunia Ilmu, 1997), hlm. 58.
[4]
Ibid., Halim Mahmud ...hlm. 65.
[6]
Abdul Malik, Meneladani kisah Rosulullah,
(Bandung: Al-Iklhas, 2008), hlm. 67.
[8]
Ibid Halim Mahmud ... hlm. 79.
[10]
Lihat Imam Nahrowi, Aklhak Tasawuf, (Yogyakarta, CV Perkasa Studi, 2008), hlm. 27.
[12]
Ibid, Halim Mahmud, ... hlm.160.
[14]
Ibid, Abdul Malik, ... hlm. 120.
[15]
Ibid, Abdul Malik, ... hlm 132.
[16]
Ibid Abdul Malik, ...hlm. 138.
[17]
Mohammad muntahibun Nafis, Ilmu
Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Teras, 2011), hlm. 39.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar