Pengikut

Kamis, 16 Maret 2017

khalifah ustman bin affan

  PENDAHULUAN

            Khalifah ketiga adalah Utsman bin Affan. Nama lengkapnya ialah Utsman bin Affan bin Abi Al-Ash bin Umayyah bin Abd Al-Manaf dari suku Quraisy. Lahir pada tahun 576 M, enam tahun setelah penyerangan Kabah oleh pasukan bergajah atau enam tahun setelah kelahiran Rasulullah SAW. Ibu Khalifah Utsman bin Affan adalah Urwy bin Kuraiz bin Rabi’ah bin Habib bin Abdi Asy-Syam bin Abd Al-Manaf. Utsman bin Affan masuk Islam pada usia 30 tahun atas ajakan Abu Bakar. Ia mendapat julukan dzun nurain, karena menikahi dua putri Rasulullah SAW secara berurutan setelah yang satu meninggal, yakni Ruqayyah dan Ummu Kulsum.
            Khalifah Utsman bin Affan ikut berhijrah bersama isterinya ke Abesinia dan termasuk muhajir pertama ke Yastrib. Ia termasuk orang yang shaleh ritual dan sosial. Ia sangat gemar membaca Al-Qur’an, sehingga Khalid Muh Khalid menulis bahwa untuk shalat dua rakaat saja, Utsman menghabiskan waktu semalaman karena banyaknya ayat Al-Qur’an yang dibaca, dan pada saat Khalifah Utsman wafat, Al-Qur’an berada di pangkuannya. Kesalehan sosialnya terbukti dan membeli telaga milik Yahudi seharga 12.000 dirham dan menghibahkannya kepada kaum muslimin pada saat hijrah ke Yastrib. Mewakafkan tanah seharga 15.000 dinar untuk perluasan Masjid Nabawi. Menyerahkan 940 ekor unta, 60 ekor kuda, 10.000 dinar untuk keperluan lasykar. Pada peristiwa- peristiwa sebelum itupun Utsman banyak sekali mendermakan hartanya untuk kepentingan umat Islam.
            Seperti halnya Umar, Utsman diangkat menjadi khalifah melalui proses pemilihan. Bedanya Umar dipilih atas penunjukan langsung sedangkan Utsman diangkat atas penunjukan tidak langsung. Khalifah Umar membentuk sebuah komisi yang terdiri dari enam orang calon, dengan perintah memilih salah seorang dari mereka untuk diangkat menjadi khalifah baru. Mereka ialah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdullah. Setelah melalui persaingan yang agak ketat dengan Ali, sidang Syura akhirnya memberi mandat kekhalifahan  kepada Utsman bin Affan. Di sini masa pemerintahan Utsman bin Affan termasuk yang paling lama apabila dibandingkan dengan khalifah lainnya, yaitu selama 12 tahun (24-36 H/ 644-656 M), Umar 10 tahun (13-23 H/ 634-644 M), Abu Bakar 2 tahun (11-13 H/ 632-634 M), dan Ali 5 tahun (36-41 H/ 656-661)


SEJARAH  KEKHOLIFAHAN USTMAN BIN AFFAN
Jika Abu Bakar terpilih secara aklamasi dan Umar bin Khathab berdasarkan wasiat, maka khalifah ke-3, Utsman bin Affan menjadi khalifah melalui formatur ( ahl al halli wa al-‘aqdi ) sebanyak enam orang yang ditunjuk oleh khalifah Umar bin Khathab.
Umat islam membaiat Utsman bin Affan untuk memimpin kekhalifahan pada masa sulit, setelah tersebarnya berita tentang pembunuhan Umar bin Khathab. Belum lagi dengan terjadinya beberapa pembrontakan dan fitnah yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Para sejarawan Byzantium mencataat sejumlah pasukan perahu yang terlibat dalam berbagi pemberontakan. Sebagian dari catatan pemberontakan itu dari 500 perahu dan 100.000 korban pembunuhan. Tidak hanya itu pemerintahan Utsman bin Affan juga menghadapi ujian dalam masalah akhlak masayarakat yang tidak kalah parahnya dengan ujian dalam bentuk pemberontakan.
A. Biografi singkat Utsman bin Affan
Utsman bin Affan bin Abi al-‘Ash berasal dari bani Umayyah, yang lahir pada tahun 47 sebelum hijrah. Ia termasuk hartawan danbangsawan Quraisy pada masa jahiliah. Demi membela islam ia rela mengorbankan hartanya dalam jumlah yang besar.
Nabi Muhammad SAW menikahkan Utsman bin Affan dengan putri beliau yang bernama Ruqayyah. Ketika Ruqayyah wafat, beliau menikahkan kembali Utsman bin Affan dengan putri beliau yang lain, yaitu Ummu Kultsum . oleh karena itu ia mendapat gelar “ Dzul Nuraian “ ( yang memiliki dua cahaya )
Setelah Ummar bin Khathab meninggal dunia, Utsman bin Affan dibaiat menjadi khalifah ke-3.ia memerintah sejak tahun 644 ( umur 69-70 tahun ) hingga 656 ( selama 11-12 tahun ). Selain itu Utsman bin Affan memiliki sifat yang sangat pemalu. Jasanya yang terbesar adalah membukukan al-Qur’an.
Utsman bin Affan menikahu 8 wanita, 4 diantaranya meninggal dunia, yaitu Fakhosyah, Ummul Banin, Ramlan, dan Nailah. Dari perkawinanya, lahir 8 laki-laki; Abdullah al-Akbar, Abdullah al-Asghar, Amru, Umar, Khalid, Al-Walid, Sa’id, dan Abdul Muluk dan 8 anak perempuan
ayah Utsman bin Affan bernama Affan bin Abu Al-ash ibn Umayah ibn Abdi al-Syam ibn Abdi manaf. Abi manaf juga ayah dari Hasyim ibn abdi al-Muthalib kakek nabi Muhammad SAW.   Ibu Utsman bin Affan bernama Arwa binti Kuriz bin Rabiah anak perempuan dari kariz ibn Rabi’ah dan Baidha yang putri dari Abd al-Muthalib yang juga kakek rosulullah.
Nabi Muhammad SAW menggambarkan Utsman bin Affan sebagai pribadi yang paling jujur dan rendah hati diantara kaum muslimin. Diriwayatkan oleh muslim bahwa Aisyah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW., “ Abu bakar masuk, tetapi engkau biasa saja dan tida memberikan perhatian khusus. Lalu, Ummar bin Khathab masuk, engkau pun biasa saja dan tidak memeberikan perhatian khusus. Akan tetapi, ketika Utsman bin Affan masuk, engkau terus duduk dan membetulkan pakaian. Mengapa ? “ Nabi Muhammad SAW menjawab “ Apakah aku tidak malu terhadap orang, yang malaikat saja malu kepadanya ? “
Saat seruan Hijrah yang pertama oleh Nabi Muhammad SAW, ke Habasyiah lkarena meningkatnya tekanan kaum Quraisy terhadap umat islam, Utsman bin Affan bersama istri dan kaum muslimin lainya memenuhu seruan tersebut dan hijrah ke Habasyiah hingga tekanan dari kaum Quraisy reda. Tak lama tinggal di mekkah, Utsman bin Affan mengikuti Nabi Muhammad SAW, untuk hijrah ke Madinah.
Pada peristiwa Hudaibiyah, Utsman bin Affan dikirim oleh Nabi Muhammad SAW. Untuk menegaskan rombongan dari Madinah hanya akan beribadah di Ka’bah, lalu segera kembali ke Madinah, bukan untuk memerangi penduduk mekkah.
Utsman bin Affan seorang ahli ekonomi yang terkenal, tetapi jiwa sosialnya juga tinggi. Ia tidak segan-segan mengeluarkan kekayaaanya untuk kepentingan agama dan masyarakat umum contonya sbb :
1. Utsman bin Affan membeli sumur yang jernih airnya dari seorang yahudi yang harganya 200.000 dirham ( 2,5 kg emas pada waktu itu ) sumur itu diwakafkan olehnya demi kepentingan rakyat.
2. Utsman bin Affan memperluas masjid Nabawi dan membeli tanah disekitarnya.
3. Utsman bin Affan mendermakan 1.000 ekor unta dan 70 ekor kuda, di tambah 1.000 dirham sumbangan pribadi untuk perang tabuk, yang nilainya sama dengan sepertiga biaya ekspedisi tersebut.
4. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Utsman bin Affan juga memberikan gandum yang diangkat dengan 1.000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita pada musim kering.
Syubhat-syubhat ( yang hakikatnya lemah tersebut ) tidak dapat terbendung, maka api kebencian telah menyulut pada hati –hati para pemberontak. Akhirnya, mereka datang ke madinah dan mengepung rumah Utsman bin Affan, mereka meminta agar Utsman bin Affan meninggalkan kekhalifahanya, atau akan membunuhnya.
Ibnu Umar segera menemui Utsman bin Affan, mendorongnya agar tidak melepaskan kekhalifahanya, karena dengan itu, ia telah membuat sunnah yang jelek, sehingga  setiap kali mereka tidak menyukai seseorang pemimpin mereka akan mencopot paksa kepemimpinan tersebut.
Utsman bin Affan menyadari bahwa inilah fitnah yang sejak jauh hari diberitahukan oleh Nabi Muhammad SAW.
Saat subuh, Utsman bin Affan berpuasa dan meninggal dunia. Wafat pada bulan haji tahun 35 H, usia 82 tahun , setelah menjabat sebagai khalifah selama 12 tahun. Dimakamkan di makam Baqi, Madinah.
B. Proses Pengankatan Khalifah Utsman bin Affan
Umar bin Khathab dalam pidato inagurasinya sebagai Khalifah, ia telah membentuk majelis khusus untuk memilik khalifah berikutnya, yang terdiri dari enam sahabat yaitu Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Zubair, Sa’ad bin Abi Waqas, dan Thalhah. Namun saat pemilihan Thalhah tidak hadir, sehingga hanya lima anggota panitia yang melakukan pemilihan.
Menjelang wafatnya Umar bin Khatab, ia membuat tim formatur untuk memilih calon khalifah, akhirnya, Utsman bin Affan terpilih menjadi khalifah ke-3 dari Khulafaur rasyidin.
Dalam sebuah riwayat, dijelaskan bahwa Abdurrahman bin Auf sebagai ketua tim pelaksana pemelihan khalifah, pasca wafatnya Umar bin Khathab, berkata kepada Utsman bin Affan di suatu tempat, “ jika aku tidak membayarmu wahai Ustman, maka siapa yang engkau usulkan ? ” Utsman bin Affan menjawab “ Ali bin Abi talib” begitupun Ali bin Abi Thalib mengusulkan Utsman bin Affan.
Dengan itu tampaklah bahwa sesungguhnya Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib tidak ambisius menjadi khalifah, justru keduanya saling mempersilahkan untuk menentukan khalifah secara musyawarah.
Dalam riwayat lainnya, disebutkan bahwa Abdurrahmann bin Auf berkata kepada Ali bin Abi Thalib sambil memegang tangannya, “ engkau mempunyai hubungan kerabat Nabi Muhammad SAW. Dan sebagaimana yang diketahui, engkau lebih dulu masuk islam, demi Allah, jika aku memilihmu, engkau mesti berbuat adil. Namun bila aku memilih Utsman bin Affan, engkau harus patuh dan taat.”
Kemudian Abdurrahmann bin Auf menyampaikan hal yang sama kepada sahabat lainya, setelah itu ia berkata kepada Utsman bin Affan, “ Aku membaiat atas nama sunnah Allah dan rasul-Nya, juga dua khalifah sebelumnya.” “Baiklah” ujar Utsman bin Affan.
Abdurrahmann bin Auf  langsung membaiatnya saat itu  juga, diikuti  oleh para sahabat dan kaum muslim. Orang kedua yang membaiat Ustman bin Affan adalah Ali bin Abi Thalib.
Haris bin Mudhrab berkata “ aku berjanji pada masa Umar bin Khathab, kaum muslimin tidak merasa ragu bahwa khalifah berikutnya adalah Utsman bin Affan”
C. Perkembangan islam pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan
Masa kekhalifahan Utsman bin Affan merupakan masa yang paling makmur dan sejahtera. Ia adalah khalifah pertama yang melakukan perluasan masjidil haram
 ( Makkah ) dan masjid nawabi ( Madinah ), karena semakin ramainya umat Islam yang menjalankan rukun islam ke-5 haji. Ia mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya, sekaligus membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara. Hal ini belum pernah dilakukan oleh khalifah sebelumnya; Abu Bakar dan Umar bin Khathab biasanya mengadili suatu perkara di masjid.
Pada masa Utsman bin Affan, Khutbah Idul Fitri dan Adha didahulukan sebelum shalat. Begitu juga azan pertama shalat jum’at ia memerintahkan umat islam pada waktu itu untuk menghidupkan kembali tanah-tanah yang kosong demi kepentingan pertanian.
Pada masa Utsman bin Affan pula, kekuatan islam melebarkan ekspansinya. Untuk pertama kalinya, islam mempunyai armada laut yang tangguh. Mu’awiyah dan Abi Sufyan, yang menguasai wilayah Syaria, Palestina, dan Libanon, membangun armada itu. Sekitar 1.700 kapal dipakai untuk mengembangkan wilayah ke pulau-pulau di laut tengah. Sedangkan, Siprus dan pulau Rodhes digempur. Konstatinopel pun sempat dikepung. Wilayah – wilayah yang berhasil ditaklukan antara lain Armenia, Kaukaz (Caucasus ), Khurazan, Kirman ( kota di timur Iran ), Sijistan    (kawasan kuno diantara Iran dan Afganistan ), Afrika (Tunis ), dan Cyprus.
Prestasi yang diraih Utsman bin Affan selama menjadi Khalifah sbb :
1) Menaklukan Syira, kemudian mengangkat Mu’awiyah sebagai gubernurnya
2) Menaklukan Afrika Utara, lalu mengangkat Amr bin Ash sebagai gubernur di sana.
3) Menaklukan daerah Arjan dan Persia
4) Menaklukan Khurasan dan Nashabur di Iran
5) Memperluas masjid Nabawi dan ( Madinah ) dan Masjidil Haram ( Mekkah ).
6) Membukukan dan meresmikan mushaf yang disebut Mushaf Ustmani, yaitu kitab suci al-Qur’an yang dipakai oleh umat islam di dunia saat ini, dan menyebarkan ke seluruh wilayah islam.
7) Setiap hari jum’at, Ustman bin Affan memerdekakan seorang budak ( biala ada ).
Pencatat sejarah membagi masa pemerintahan Utsman bin Affan menjadi dua periode. Yaitu periode kemajuan ( periode I ) dan periode kemunduran ( periode II ).
Pada periode I, pemerintahan Utsman bin Affan membawa kemajuan yang luar biasa berkat jasa panglima yang ahli dan berkualitas . peta islam sangat luasdan bendera islam berkibar dari perbatasan Aljazair ( Barqah Teipoli, Cyprus din front Al-Maghrib) Al-Magribbagian utara hingga Aleppo, dan sebagian Asia kecil ; bagian timur laut sampai Nawara an-Nahar (  Transoxiana ); bagian timur sluruh persia, bahkan sampai perbatasan Balucistan ( sekarang wilayah Pakistan ); serta Kabul dan Ghazni. Utsman bin Affan juga berhasil membentuk armada laut dengan kapalnya yang kokoh dan menghalau serangan-serangan dilaut tengah yang dilancarkan oleh tentara Byzantium, dengan kemenangan pertama kali di laut dalam sejarah islam.
Pada periode II, kekuatan Utsman bin Affan identic dengan kemunduran, terjadi hura-hura dan kekacauan yang luar biasa smpai ia wafat. Sebagian ahi sejarah menilai bahwa Utsman bin Affan melakukan nepotisme. Ia mengangkat sanak saudaranya dalam jabatan-jabatan strategi yang paling besar dan banyak, yang menyebabkan suku-suku dan kabilah-kabilah lainya merasakan pahitnya tindakan tersebut.
Pejabat dan panglima era Umar bin Khathab hampir semuanya dipecat oleh Utsman bin Affan, lalu Utsman bin Affan mengangkat dari keluarganya sendiri  yang tidak mampu dan tidak cakap sebagai penggantinya. Adapun diantara pejabat Utsman bin Affan yang berasal dari keluarga dekatnya ialah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Gubernur Syam, satu suku dan keluarga dekatnya, oleh karena itu , Utsman bin Affan diklaim telah melakukan KKN . Bukti-buktinya adalah sbb:
1) Tidak semua Gubernur yang diangkat Utsman bin Affan dalah familinya, ada Gubernur yang  menjadi saudara atau anak asuhnya, ada yang saudara susuan, dan ada pula yang suadara tiri.
2) Utsman bin Affan mengangkat familinya, atas pertimbangan dari beberapa faktor yang melatarbelakanginya.
3) Meskipun sebagian pejabat diangkat dari kalangan family, namun mereka mempunyai reputasi yang tinggi dan memiliki kemampuan, hanya saja, faktor ekonomi yang menyatukan untuk memprotes guna memperoleh hak mereka. Situasi ini dimanfaatkan oleh pihak oportunis dengan menyebarkan isu sebagai modal bahwa Utsman bin Affan telah memberikan jabatan-jabatan penting dan strategi kepada familii, yang akhirnya menyebabkan khalifah Utsman bin Affan terbunuh, pada akhir kepemimpinanya, para gubernur yang diangkat itu bertindak sewenang – wenang, terutama dalam bidang ekonomi. Mereka diluar kontrol  Utsman bin Affan yang memang sufdah berusia lanjut, sehingga rakyat menganggap hal ini sebagai kegagalanya, hingga akhirnya ia terbunuh.

D. Ragam penyebab terjadinya kekacauan dalam pemerintahan Utsman bin Affan
Pada awalnya, pemerintahan Utsman bin Affan berjalan lancar , hanya saja gubernur  Kufah yang bernama Mughirah bin Syu’bah dipecat oleh Utsman bin Affan, lalu diganti oleh  Sa’ad bin Abi Waqas, atas dasar wasiat  Umar bin Khathab, kemudian, ia memecat pula sebagai pejabat tinggi dan pembesar yang kurang baik guna mempermudah pengataturan. Lowongan kursi para pejabat  dan pembesaran itu diisi dan diganti dengan famili-familinya yang berkompeten  dalam bidang tersebut.
Tindakan Utsman bin Affan yang terkesan nepotisme itu mengandung protes dari orang-orang yang dipecat. Maka, datanglah gerombolan yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba’, yang menuntut agar para pejabat dan pembesar yang diangkat oleh Utsman bin Affan dipecat pula. Usulan - usulan  Abdullah bin Saba’ ditolak oleh Utsman bin Affan pada masa kekhalifahan ini lahir aliran Syi’ah dan Abdullah bin Saba’ sebagai pencetusnya.
Karena merasa sakit hati Abdullah bin Saba’ membuat propaganda yang hebat dalam bentuk semboyan anti-Bani Umayyah, termasuk Ustman bin Affan . akibatnya, kebanyakan penduduk setempat termakan hasutan Abdullah bin Saba’. Datanglah ribuan penduduk daerah ke Madinah yang menuntut kepada Ustman bin Affan. Tuntutan dari banyak daerah tidak dikabulkan olehnya, kecuali tuntutan dari Mesir, agar memecat Gubernur Mesir, Abdullah bin Abi Syarah, lantas menggantinya dengan Muhammad bin Abi Bakar.
Setelah surat diperiksa terungkap bahwa yang membuat surat adalah Marwan bin Hakam, namun mereka tetap melakukan pengepungan terhadap Ustman bin Affan dan menuntut dua hal; Marwan bin Hakam di-qhisas ( hukuman bunuh karena membunuh orang), serta Ustman bin Affan melepaskan jabatan kekhalifahanya. Sebelum kembali ke Mesir, mereka bertemu dengan seseorang yang ternyata diketahui membawa surat yang mengatasnamakan Ustman bin Affan. Isinya adalah perintah agar gubernur Mesir yang lama Abdullah bin Abi Syarah membunuh gubernur Mesir yang baru Muhammad bin Abi Bakar. Mereka kembali ke madinah guna membunuh Ustman bin Affan karena merasa telah dipermainkan.
Ustman bin Affan tidak mengabulkan tuntutan kaum Mesir karena tuntutan pertama, Marwan baru berencana membunuh dan belum benar-benar membunuh, sedangkan tuntutan kedua, Ustman bin Affan berpegang teguh pada pesan Nabi Muhammad SAW., “ Ustman, engkau akan mengenakan baju kebesaran, apabila engkau telah mengenakan baju itu, janganlah engkau lepaskan.” Mereka melanjutkan pengepungan sampai empat puluh hari, situasi dari hari kehari semakin memburuk, rumahnya dijaga ketat oleh sahabat-sahabat nya, seperti Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Anwar, Muhammad bin Thalhah, serta Hasan dan Huseinbin Ali bin Abu Thalib. Karena kelembutan dan kasih sayangnya, ia menanggapi pengepung-pengepung itu dengan sabar dan tutur kata yang santun.
Hingga suatu hari kepala gerombolan yaitu Muhammad bin Abu bakar (gubernur Mesir yang baru) membunuh Ustman bin Affan yang sedang membaca al-Qur’an. Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa orang-orang yang membunuh Ustman bin Affan ialah Aswadan bin Hamrab dari Tujib, Mesir. Sedangkan riwayat lain menyebutkan pembunuhnya adalah al-Ghafiki dan Sudan bin Hamran.

E. Visi dan Misi Khalifah Utsman bin Affan

            Mengetahui visi dan misi khalifah Utsman bin Affan dalam menjalankan kekhalifahannya, dapat dilihat dari isi pidato setelah Utsman bin Affan dilantik atau dibai’at menjadi khalifah ketiga negara Madinah, ia menyampaikan pidato penerimaan jabatan sebagai berikut:
“Sesungguhnya kamu sekalian berada di negeri yang tidak kekal dan dalam pemerintahan yang selalu berganti. Maka bersegeralah kamu berbuat baik menurut kemampuan kamu untuk menyongsong waktu akhir kamu. Maka sampailah waktunya untuk saya berkhidmat kepada kamu setiap saat. Ingatlah sesungguhnya dunia ini diliputi kepalsuan maka janganlah kamu permainkan kehidupan dunia dan janganlah kepalsuan mempermainkan kamu terhadap Allah. Beriktibarlah kamu dengan orang yanng telah lalu, kemudian bersungguh- sungguhlah dan jangan melupakannya, karena sesungguhnya masa itu tidak akan melupakan kamu. Di manakah di dunia ini terdapat pemerintahan yang bertahan lama? Jauhkanlah dunia sebagaimana Allah memerintahkannya, tuntutlah akhirat sesungguhnya Allah telah memberikannya tempat yang lebih baik bagi kamu. Allah berfirman, “Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh- tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh- tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu” (QS. Al-Kahfi/18: 45).”
            Bagian lain dari isi pidato pelantikannya sebagaimana dikutip oleh Al- Maududi dan Ath-Thabari juga dikutip oleh Suyuthi Pulungan,
“Sesungguhnya tugas ini telah telah dipikulkan kepadaku dan aku telah menerimanya dan sesungguhnya aku adalah seorang muttabi’ (pengikut Sunnah Rasul) dan bukan mubtadi’ (oarng yang berbuat bid’ah). Ketauhilah bahwa kalian berhak menuntut aku mengenai tiga hal, selain kitab Allah dan Sunnah Nabi, yaitu mengikuti apa yang telah dilakukan oleh orang- orang  sebelumku dalam hal- hal yang kamu sekalian telah bersepakat dan talah kamu jadikan sebagai kebiasaan, membuat kebiasaan yang layak bagi ahli kebajikan dalam hal- hal yang belum kamu jadikan kebiasaan dan mencegah diriku bertindak atas kamu, kecuali dalam hal- hal yang kamu sendiri menyebabkannya.”

            Pidato di atas menggambarkan dirinya sebagai sufi, dan citra pemerintahannya lebih bercorak agama ketimbang corak politik. Dalam pidato ini, Utsman mengingatkan beberapa hal penting:
1)      Agar umat Islam selalu berbuat baik sesuai kemampuan sebagai bekal menghadapi hari kematian dan akhirat sebagai tempat yang lebih baik yang disediakan oleh Allah.
2)      Agar umat Islam jangan terpedaya kemewahan hidup dunia yang penuh kepalsuan sehingga membuat mereka lupa kepada Allah.
3)      Agar umat Islam mamu mengambil iktibar pelajaran dari masa lalu, mengambil yang baik dan menjauhi yang buruk.
4)      Sebagai khalifah ia akan melaksanakan perintah Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.
5)      Di samping ia akan meneruskan apa yang telah dilakukan peendahulunya, juga akan membuat hal- hal baru yang membawa pada kebajikan.
6)      Umat Islam boleh mengkritiknya bila ia menyimpang dari ketentuan hukum.

            Roda pemerintahan Utsman pada dasarnya tidak berbeda dari pendahulunya. Dalam pidato pembai’atannya ia tegaskan akan menerusakn kebiasaan yang dibuat pendahulunya. Pemegang kekuasaan tertinggi berada ditangan khalifah (pemegang dan pelaksana kekuasaan eksekutif). Pelaksanaan tugas eksekutif dibantu oleh sekretaris negara yang dijabat oleh Marwan bin Hakam, anak paman khalifah. Selain sekretaris negara Khalifah Utsman juga dibantu oleh pejabat pajak, pejabat kepolisian, pejabat keuangan atau baitul mal, seperti pada pemerintahan Umar.




            Untuk pelaksanaan administrasi pemerintahan di daerah, Khalifah Utsman memercayakannya kepada seorang gubernur untuk setiap wilayah atau provinsi. Pada masanya, wilayah kekuasaan negara Madinah dibagi menjadi sepuluh provinsi:
1.      Nafi’ bin Al-Haris Al-Khuza’i, Amir wilayah Mekah
2.      Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi, amir wilayah Thaif
3.      Ya’la bin Munabbih Halif Bani Naufal bin Abd Manaf Amir wilayahShan’a
4.      Abdullah bi Abi Rabiah, Amir wilayah Al-Janad
5.      Utsman bin Abi Al-Ash Ats-Tsaqafi, Amir wilayah Bahrain
6.      Al-Mughirah bin Syu’bah Ats-Tsaqafi, Amir wilayah Kufah
7.      Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy’ari, Amir wilayah Bashrah
8.      Muawiyah bin Abi Sufyan, Amir wilayah Damaskus
9.      Umar bin Sa’ad, Amir wilayah Himsh
10.    Amr bin Al-Ash As-Sahami, Amir wilayah Mesir
            Adapun kekuasaan legislatif dipegang oleh Dewan ataupun Majelis Syura, tempat khalifah mengadakan musyawarah atau konsultasi dengan para sahabat Nabi. Majelis ini memberikan saran, usul, dan nasihat kepada khalifah tentang berbagai masalah penting yang dihadapi negara. Akan tetapi, pengambil keputusan terakhir berada di tangan khalifah.

F. Peristiwa Meninggalnya Utsman bin Affan
            Rasa tidak puas terhadap kekhalifahan Utsman bin Affan semakin besar dan menyeluruh. Di Kufah dan Basrah, yang dikuasai oleh Talhah dan Zubair, rakyat bangkit menentang gubernur yang diangkat oleh khalifah. Hasutan yang lebih keras terjadi di Mesir, selain ketidaksetiaan rakyat terhadap Abdullah bin Sa’ad, saudara angkat khalifah, sebagai pengganti gubernur ‘Amr bin Ash juga karena konflik pembagian ghanimah.
            Para pemberontak menuju Madinah. Tetapi ketika di tengah jalan mereka menemukan surat yang dibawa oleh utusan khusus yang menerangkan bahwa para wakil itu harus dibunuh setelah sampai di Mesir, dan surat itu dibubuhi cap Khalifah Utsman.
Akhirnya mereka mengepung rumah khalifah. Tokoh- tokoh yang terlibat dalam pengepungan dan peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman itu ialah Muhammad ibn Abu Bakar, Imar ibn Yasir, Thulhah ibn Ubaidillah, dan Zubair ibn Awwam.
            Dan sejarah mencatat bahwa Al Ghafiki pada peristiwa itu memukul Khalifah Utsman dengan sebilah besi hingga kepalanya koyak dan darah mengalir. Sewaktu Sudan ibn Hamran untuk menebas leher Khalifah Utsman dengan pedangnya maka Nailat, isteri Khalifah segera merahap ke atas tubuh suaminya dan menangkis pedang itu hingga jari- jarinya terputus.
. Ia termasuk orang yang shaleh ritual dan sosial. Ia sangat gemar membaca Al-Qur’an, sehingga Khalid Muh Khalid menulis bahwa untuk shalat dua rakaat saja, Utsman menghabiskan waktu semalaman karena banyaknya ayat Al-Qur’an yang dibaca, dan pada saat Khalifah Utsman wafat subuh hari itu menghembuskan nafasnya, Al-Qur’an berada di pangkuannya, yaitu hari Jumat 8 Zulhijjah tahun 35 H/ 656 M pada usianya 82 tahun.



 KESIMPULAN
     Utsman bin Affan lahir pada tahun 576 M. Masa kekuasaanya sebagai khalifah selama 12 tahun (644-656 M).
      Visi dan misi khalifah Utsman diantaranya yaitu, Utsman mengajak umat Islam untuk selalu berbuat baik sesuai dengan kemampuannya sebagai bekal menghadapi hari kematian dan akhirat sebagai tempat yang lebih yang disediakan oleh Allah. Dan mengingatkan untuk tidak terpedaya kemewahan hidup dunia yang membuat mereka lupa kepada Allah.
      Ekspansi yang dilakukan Utsman yaitu menumpas pendurhakaan dan pemberontakan di Khuraisan dan Iskandariah. Serta perluasan daerah Islam.
Utsman dikenal sebagai khalifah kekuatan faksi ekonomi, Ia banyak melakukan perbaikan fasilitas, seperti perbaikan jalan, masjid, jembatan, dll.
      Adapun karya besar monumental khalifah Utsman ialah membukukan mushaf Al-Qur’an .
      Khalifah Utsman bin Affan wafat pada hari Jumat 8 Zulhijjah 35H/ 656 M pada usianya yang ke- 82 tahun.


DAFTAR PUSTAKA
Abd Al-Walud An-Najjar. Al-Khulafa Ar-Rasyidin. Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah,1990.
Abdullah Amin. 2007. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam . Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.
Mas’udi Masdar Farid. 2011. Syarah Konstitusi ; UUD 1945 dalam prespektif islam.  Jakarta: Pustaka Alvabet.
Qumaihah Jabir. 1990. Beroposisi Menurut Islam. Jakarta: Gema Insan Press.
Su’ud Abu. islamologi Ajaran dan Perananya dalam Peradaban Umat Manusia. Jakarta: Rineka cipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar