Pengikut

Jumat, 17 Maret 2017

sejarah dinasti fatimiyah

A.    PENDAHULUAN
Dinasti Fatimiah adalah salah satu dari Dinasti Syiah dalam sejarah Islam. Dinasti ini didirikan di Tunisia pada tahun 909 M sebagai tandingan bagi penguasa dunia muslim saat itu yang terpusat di Baghdad, yaitu bani Abbasiyah. Dinasti Fatimiah didirikan oleh Sa’id Ibn Husain, kemungkinan keturunan pendiri kedua sekte Islamiyah. Berakhirnya kekuasaan daulah Abbasiyah di awal abad kesembilan ditandai dengan munculnya disintegrasi wilayah. Di berbagai daerah yang selama ini dikuasai, menyatakan melepaskan diri dari kekuasaan pemerintah di Baghdad dan membentuk daulah-daulah kecil yang berdiri sendiri (otonom). Di bagian timur Baghdad, muncul dinasti Tahiriyah, Saariyah, Samaniyah, Gasaniyah, Buwaihiyah, dan Bani Saljuk. Sementara ini di bagian Barat, muncul dinasti Idrisiyah, Aglabiyah, Tuluniyah, Fatimiyah, Ikhsidiyah, dan Hamdaniyah.
Dinasti Fatmiah merupakan salah satu dinasti Islam yang pernah ada dan juga memiliki andil dalam memperkaya khazanah sejarah peradaban Islam. Sama halnya pengutusan Muhammad SAW sebagai Rasulullah telah menoreh sejarah Islam, yang pada awalnya hanya merupakan bangsa jahiliyah yang tidak mengenal kasih sayang dan saling menghormati


B.     PEMBAHASAN
DINASTI FATIMIAH
1.    Sejarah Pembentukan
Diantara beberapa dinasti Syi’ah di dalam Islam, dinasti Fatimiahlah yang bisa disebut paling besar. Dinasti Fatimiah ini didirikan oleh kaum Syi’ah dari sekte Ismailiah. Pendirian dinasti ini tidak bisa dilepaskan dari kekecewaan politik kaum Syi’ah terhadap pemerintahan dinasti Abbasiyah yang sejak awal memperjuangkan pndirian dinasti Abbasiyah secara bersama-sama, yaitu dimulai dari penggalangan kekuatan untuk menjatuhkan pemerintahan dinasti Umayah sampai terbentuknya dinasti Abbasiyah.
Dalam perkembangan selanjutnya, ketika dinasti Abbasiyah sudah berdiri, tampaknya para penguasa awal dinasti Abbasiyah seperti tidak menghendaki adanya kekuatan lain dalam pemerintahannya, sehingga upaya-upaya untuk menyingkirkan orang-orang Syi’ah pun dilakukan. Ini tentu saja menimbulkan kekecewaan bagi orang-orang Syi’ah. Mereka merasa dikhianati oleh Bani Abbasiyah. Dan karena sikap kelompok Abbasiyah yang demikianlah kemudian orang-orang Syi’ah bertekad untuk mendirikan sebuah kekuasaan tersendiri yang terlepas dari dinasti Abbasiyah.
Seiring dengan melemahnya politik Abbasiyah yang mulai tampak sejak awal abad ke 9 M, ditandai dengan munculnya sejumlah pimpinan yang memiliki kekuatan militer di beberapa propinsi tertentu, membuat mereka benar-benar berada pada posisi yang independen. Artinya bahwa kekuasaan Khilafah Bani Abbasiyah secara politik dan kemiliteran kala itu berada pada kondisi sangat lemah. Ini sebagai efek dari kebijakan Dinasti Abbasiyah yang cenderung longgar di wilayah politik, yang dulu di zaman dinasti Umayah cenderung sentralistik. Karena itu yang tampak dari kebijakan ini adalah mulai munculnya kekuasaan-kekuasaan yang mengarah pada otonomi daerah.
Situasi yang tidak menguntungkan secara politik bagi pemerintahan Abbasiyah yang cenderung mengalami tangga penurunan tersebut, selanjutnya dimanfaatkan oleh golongan Syi’ah, yaitu kelompok Syi’ah Ismailiah. Orang-orang Syi’ah berhasil merebut pengaruh di beberapa daerah, seperti Kufah, Irak, Persia, dan Bahrain. Dalam waktu tertentu mereka memperoleh kekuasaan, terutama di Bahrain. Tetapi, gerakan ini sebagaimana juga gerakan-gerakan lainnya menjadi sasaran kebencian dan kemudian menghilang. Mungkin berpindah ke wilayah lain.
Ajaran-ajaran Syi’ah ini dalam kenyataannya waktu itu dapat menjadi inspirasi bagi para pengikutnya dengan dimotori oleh orang-orang Ismailiah. Mereka berhasil membangun suatu gerakan rahasia yang pada mulanya hanya merupakan keberhasilan para pendukung Bani Ismail untuk memberikan perlindungan bagi imam-imam mereka di Salamiyah, Syiria. Kemudian ketika gerakan rahasia ini dilakukan Abu Ubaidillah Husain, generasi ke empat setelah Ismail, memegang tampuk pimpinannya, terlihat lebih aktif. Gerakan propaganda yang dilakukan di bawah kepemimpinan Abu Ubaidillah Husain dalam kenyataannya dapat mendapatkan dukungan luas.
Pada saat wilayah Yaman dapat dikuasai oleh gerakan ini, gerakan ini menjadi semakin kuat, bahkan ibu kota Yaman, Sana’ah berhasil mereka kuasai pula. Terdapat beberapa propagandis yang terkenal di antara mereka yaitu Ali bin Fadl al-Yamani dan Ibnu Hawsyab al-Kufi. Daerah Yaman ini di samping terdapat banyak pengikut Syi’ah, juga sangat strategis dan jauh dari jangkauan tangan penguasa Bani Abbasiyah. Karena itu pula, wilayah Yaman dapat pula dijadikan sebagai basis penting perjuangan gerakan ini di samping wilayah Salamiyah. Selanjtnya gerakan orang-orang Syi’ah ini mengirimkan para propagandisnya secara lebih kuat lagi ke wilayah-wilayah lain seperti ke Afrika Utara, Belahan Timur Arabia dan juga ke India. Dengan begitu pengaruh gerakan ini diharapkan meluas ke wilayah yang lebih besar.
Abu Ubaidillah al-Mahdi menjadi pimpinan sebagai propagandis di wilayah Afrika Utara, terutama pada daerah bagian barat, usahanya berhasil dengan baik. Ia mampu menarik perhatian dan dukungan suku-suku Barbar, terutama dari suku Kutamah. Ia bahkan juga berhasil memobilisir potensi wilayah tersebut untuk melakukan pemberontakan umum dan berusaha merebut kekuasaan dari tangan penguasa Bani Aglab saat itu yang berbasis di wilayah Afrika Utara. Penguasa Bani Aghlab, Ziadat Allah dapat mereka usir dan kemudian mereka dapat merebut daerah Raqqadah dan kemudian Qirawan, kota-kota penting di wilayah tersebut.
Kesuksesan al-Mahdi sebagai propagandis menjadikan dirinya dipercaya sebagai imam menggantikan ayahnya. Dan kemudian dia diminta ke Tunisia untuk dinobatkan sebagai khalifah orang-orang Syi’ah. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 909 M. Dengan demikian, secara resmi, berdirilah Khilafah Fatimah yang beribukotan di Qirawan. Maka pada saat itu terdapat dua kekhalifahan dalam tubuh umat islam waktu itu.
Pemerintahan khilafah Fatimiah ini selanjutnya berpindah ke Kairo Mesir pada saat dipimpin oleh khalifah al-Muiz Lidinillah, terutama sekali setelah khilafah Fatimiah dapat merebut kekuasaan Ikhsidiah dibawah pimpinan seorang panglima bernama Jauhar al-Saqili. Peristiwa itu terjadi pada tahun 969 M. Dengan demikian pusat kekuasaan pemerintahan Fatimiah ini semakin dekat dengan wilayah kekuasaan dinasti Abbasiyah.

2.    Kemajuan yang Dicapai
a.       Bidang Politik
Keberhasilan pemerintahan Fatimiah yang dapat menakhlukkan Mesir merupakan kesuksesan yang besar. Maka tidak heran bila mulai saat itu dapat dikatakan bahwa para penguasa Khilafah Fatimah berhasil mewujudkan keinginannya untuk membangun sebuah imperium yang kuat, dengan dukungan militer yang tangguh, di seputar Laut Tengah. Kekuasaan Fatimiah selanjutnya cukup luas yang membentang dari Samudera Atlantik di sebelah barat dan sungai Euphrat di sebelah Timur, pulau Sisilia di sebelah Utara dan Yaman di sebelah Selatan. Karena itu sesungguhnya secara politis Dinasti Fatimiah merupakan ancaman tersendiri bagi kekuasaan Abbasiyah.
Kekuasaan Fatimiah yang demikian luas didukung oleh kondisi politik yang stabil dan perekonomian yang bagus. Pembangunan sarana dan prasarana juga dilakukan. Masjid al-Azhar yang kemudian berkembang menjadi universitas al-Azhar dibangun pada masa awal pendudukan orang-orang Fatimiah ke Mesir ini. Demikian juga Kota Kairo yang merupakan ibu kota pemerintahan ini dibangun dengan megah dan dipercantik.
Bila dicermati ada sejumlah hal penting yang ditempuh oleh para penguasa awal khalifah Fatimiah ini untuk melancarkan stabilitas politik, yaitu antara lain al-Mahdi, khalifah pertama, melakukan pembersihan figur-figur yang dicurigai atau dianggap sebagai penghalang programnya, termasuk tokoh-tokoh penting awal yang juga sama-sama sangat besar jasanya dalam pembentukan Khilafah Fatimiah. Cara-cara ini dalam sejarah politik di Abbasiyah juga pernah terjadi. Selain itu juga dilakukan pengembangan militer sebagai tulang punggung pemerintahan. Pengembangan kekuatan militer ini dapat dilihat dari tindakan al-Mahdi dalam membangun kota Mahdiyah, sebelah selatan kota Qairawan. Kota Mahdiyah merupakan pangkalan armada laut Khilafah Fatimiah. Langkah lain yang dilakukan juga adalah pengembangan wilayah kekuasaan.
Pengembangan wilayah kekuasaan ini berkait erat dengan kemiliteran. Perluasan wilayah kekuasaan diarahkan untuk menguasai daerah-daerah strategis, dan upaya antisipasi terhadap gerakan-gerakan yang membahayakan posisi Khilafah Fatimiah. Dengan begitu stabilitas politik Fatimiah tetap terjaga.
Dalam kenyataannya apa yang dilakukan para penguasa Fatimiah ini dapat berjalan dengan baik, sehingga hamper seluruh Afrika Utara, terutama wilayah barat, berhasil dikuasai. Khilafah Fatimiah berhasil menguasai seluruh wilayah bekas kekuasaan Bani Aghlab yang berpusat di Tunisia, demikian juga menguasai Rustamiah Khariji di Tabart, demikian juga kekuasaan orang-orang Syi’ah yang lain, Indrisiah di Fez juga berhasil dikuasai. Diluar wilayah tersebut juga tercatat bahwa pulau Sisilia yang sebelumnya dikuasai dinasti Aghlab dapat dikuasai pula.
Pada puncak kejayaan pemerintahan Fatimiah ini daerah yang dikuasai mencangkup seluruh daerah-daerah Afrika Utara, Sisilia, Mesir, Syiria, dan Arabia Barat. Pencapaian tersebut tidak bias dilepaskan dari penguasaan awal wilayah Mesir, yang cukup strategis tampaknya untuk melakukan ekspansi-ekspansi berikutnya.
b.      Bidang Administrasi
Pemerintahan dinasti Fatimiah dipimpinan oleh seorang khalifah. Struktur kepemimpinannya seperti ini sebenarnya tidak lazim di kalangan kaum Syi’ah. Kepemimpinan mereka biasanya ditandai dengan model Imamah, tetapi itu tidak dipopulerkan dalam dinasti Fatimiah. Ini dilakukan karena penguasa dinasti Fatimiah sangat memahami basis wilayah kekuasaannya di Mesir karena masyarakat Mesir banyak yang beraliran Sunni. Kalau penguasa Fatimiah memaksakan model imamah misalnya maka secara politis ini tidak menguntungkan. Karena itu penggunaan jabatan khalifah dipakai untuk menarik simpati masyarakat yang kebanyakan beraliran sunni itu. Dengan demikian, stabilitas politik dapat selalu dipertahankan dan tetap terjaga.
Kemudian, untuk menjalankan pemerintahan, seorang khalifah dibantu oleh seorang wazir. Secara administratif posisi wazir dalam kekhilafahan ini menjadi sangat penting karena membantu khalifah dalam penyelesaian urusan-urusan strategis. Ada wazir yang membawahi urusan militer dan birokrasi, lembaga keuangan dan lembaga pendidikan.
c.       Bidang Ekonomi
Perekonomian pemerintahan Fatimiah dapat dibilang cukup bagus. Kemajuan ini tidak bisa dilepaskan dari luasnya wilayah yang dikuasai dan stabilitas politik yang mapan. Hal ini menjadi mungkin karena
d.      Bidang Ilmu Pengetahuan
Kecenderungan para Khalifah Fatimiah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, terlihat sejak zaman al-Muiz, usaha untuk merealisasikan tujuan mereka dijalankan dengan cara melakukan propaganda yang padat keseluruh propinsi para da’i secara terstruktur dikepalai oleh seorang da’i Dakwah yang disampaikan bertujuan untuk menyampaikan doktrin agama dan mengimbau rakyat agar berpendidikan tinggi. Pendidikan tersebut diutamakan pada sains-sains Yunani, keterbukaan pada pemikiran filsafat Yunani membawa kepada pencapaian ilmiah yang tertinggi di Kairo di bawah pemerintahan Bani Fatimiah, mereka mengembangkan Risalat Ikhwanu s-Safa, sebuah karya dihasilkan di Basrah. Risalat ini merupakan sebuah ensiklopedia mengenai sains Yunani, yang bertujuan untuk memperlihatkan bagaimana cara memperoleh kebahagiaan di dunia masa dating. Karya yang dihasilkan masa Fatimiah itu lebih ilmiah dan lebih filsafati. Pada masa Khalifah al-Aziz (975 M), semangat intelektual dan pengembangan kualitas pemikiran orang Mesir, dapat mengungguli lawan-lawannya. Al-Aziz berusaha mengubah fungsi Masjid Al-Azhar yang dibangun oleh Jauhar menjadi sebuah Universitas yang pertama di Mesir, yang merupakan waqaf dari al-Azizi sendiri. Universitas ini direkrut mahasiswa dari seluruh Negara Islam dengan fasilitas yang lengkap, asrama mahasiswa, makanan, dan beasiswa. Di universitas ini diajarkan berbagai cabang ilmu pengetahuan : fiqih, sejarah, dan sastra. Sampai saat ini Universitas al-Azhar sangat terkenal dan lebih maju.
Pada masa khalifah al-Hakim (996 M), didirikan dar al-Hikmah yaitu tahun 1005 M, akademi ini dilengkapi dengan perpustakaan (Dar al-‘Ulum); disini diajarkan ilmu pengetahuan agama dan sains seperti fisika, astronomi, kedokteran. Akademi ini didirikan untuk menandingi Universitas di Cordova, ia juga membangun observatorium di Mesir, al-Muqatan, dan Syiria. Di masa al-Mustansir dibangun perpustakaan Negara yang memiliki 200.000 eksemplar buku : fiqih, sastra, fisika, kimia, dan kedokteran. Ibn Killis seorang pecinta ilmu mendirikan sebuah akademi dan menyediakan dana beribu dinar setiap bulannya untuk pengembangan ilmu. Kegiatan alamiah diadakan di Dar al-hikmah dalam bentuk penelaah, diskusi, mengarang, dan menulis. Beberapa ilmuan yang aktif di masa ini: Abu Hanifah al-Maghribi, ahli agama dan ulama Syi’ah Ismaili. Di bidang sejarah, Hasan Ibn ali bin Zulhag, Abu Hasan Ali al-Syabsyata, Ibn Hammad, Muhammad ibn Yusuf al-Kindidan Ibn Salamah al-Qudai.
e.       Bidang Kebudayaan dan Keagamaan
Menjadikan masjid sebagai tempat pendidikan agama walaupun yang dimaksud untuk mengembangkan ideology mereka. Ada sebuah masjid yang kemudiannya menjadi universitas Al-Azhar. Khalifah juga membiayai para fuqaha dan du’ah yang menyebarkan ilmu pengetahuan. Hal ini membuktikan bahwa khalifah mencintai ilmu dan suka pada kemajuan.






C.    KESIMPULAN
Dinasti Fatimiah berkuasa tahun 297-567 H/ 909-1171 M di Afrika Utara tepatnya di Mesir dan Syiria. Dinamakan Dinasti Fatimiah karena dinisbatkan nasabnya kepada keturunan Ali Fatimiah, putri Rasulullah, istri Ali Ibn Abi Thalib dan Fatimiah dari Ismail anak Ja’far Sidiq keturunan keenam dari ali. Awalnya kelompok ini dibangun dan dibentuk menjadi system agama dan politik oleh Abdullah ibn Maimun. Setelah itu berubah menjadi gerakan kekuatan, dengan tokohnya Said ibn Husein. Kemudian sekte ini menyebar dan menjadi landasan munculnya Dinasti Fatimiah. Tokoh-tokohnya meliputi : Abu Muhammad Abdullah/ Ubaidullah Al-Mahdi, Abu Al-Qasim Muhammad Al-Qa’im ibn Amrullah ibn Al-Mahdi Ubaidullah, Abu Tahir Isma’il Al-Manshur Billah, Abu Tamim Ma’add Al-Mu’izz Lidinillah, Abu Manshur Nizar Al-‘Aziz Billah, Abu ‘Ali Manshur Al-Hakim ibn Amrillah, Abu Al-Hasan Ali-Zhahir, Abu Tamim Ma’add Al-Mustanshir.
Ekspansi yang dilakukan oleh Dinasti Fatimiah diantaranya yaitu Khalifah Ubaidillah memperluas kekuasaannya meliputi wilayah Afrika dari Maroko yang dikuasai Idrisiyah sampai perbatasan-perbatasan Mesir. Tahun 914 M, ia menguasai Iskandariyah. Dua tahun kemudian ia menundukkan wilayah Delta. Tahun 915 M, mereka berhasil menguasai Mahdiyah, Tunisia, dan menjadikannya sebagai pusat kekuasaan. Tahun 935 M, Al-Qaim bi Amrillah Abu Al-Qasim Muhammad mengirimkan ekspedisi untuk menguasai Italia, Prancis, Andalusia, Genoa, dan sepanjang pesisir Calabria. Di bawah pemerintahan Abu Tamim Ma’add Al-Muiz pasukan Fatimiah menyerbu pantai Spanyol. Tiga tahun kemudian tentara Fatimiah berhasil menuju Atlantik. Pada tahun 969 M, Mesir telah terbebas dari penguasa Iksidiyah. Kemudian Jahwar menjadi pendiri Dinasti Fatimiah yang kedua setelah Al-Syi’I yang daerah kekuasaannya meliputi wilayah Afrika Utara. Setelah itu Jahwar mulai melirik Suriah dan mengirim seorang panglima perang yang berhasil menakhlukkan Damaskus pada 969 M.
Ideologi keagaman yang berkembang diantaranya, empat madzhab fiqih; maliki;hanafi; syafi’I; dan hambali. Selain itu juga ada yang menganut faham Syi’ah dan Sunni. Kemajuan Dinasti Fatimiah meliputi berbagai bidang yaitu administrasi, ekonomi, ilmu pengetahuan, politik, kebudayaan dan keagamaan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar